alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Tak Terima Hutan Kotor, Mbah Bingah Pungut Sampah di Jalur Pendakian

RADARSOLO.ID – Sambil mencari rumput, Mbah Bingah memungut botol plastik bekas minuman yang tercecer di jalur pendakian Gunung Merbabu. Sampah sulit terurai itu dibawanya pulang.

Kebiasaan memungut sampah lanjut usia (lansia) warga Dusun Selowangan RT 1 RW 1, Desa/Kecamatan Selo, Boyolali itu dilakukan selama tiga tahun terakhir.

Oleh Mbah Bingah, botol-botol plastik tersebut dimasukkan karung plastik lalu ditumpuk di teras rumahnya yang masih berlantaikan tanah. Akhirnya menggunung, nyaris menutupi bagian depan rumah berdinding kayu itu.

Kulo pendeti botole kajenge mboten reget alase. Sing plastik lintune, kulo bakar teng pawon (Saya ambil botolnya agar tidak kotor hutannya. Yang plastik lainnya, saya bakar di perapian),” terangnya, Selasa (9/10).

Dalam sehari, Mbah Bingah bisa mengumpulkan botol plastik sebanyak sepuluh karung beragam ukuran. Hanya ditumpuk, belum tahu mau digunakan untuk apa.

Suatu ketika, Mbah Bingah bertemu pengepul barang rosok dan mengatakan bahwa di rumahnya banyak botol plastik.

Perempuan murah senyum ini tak menyangka botol plastik itu bisa dijual. “Setunggal kilone ditumbas Rp 1.000. Bagor ageng saget diisi 5 kilo, sing alit namun 3 kilogram. (Satu kilonya dibeli Rp 1.000. Karung besar dapat diisi 5 kilogram botol plastik, karung kecil 3 kilogram),” jelasnya.

Uang hasil penjualan botol plastik digunakan Mbah Bingah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk membeli handphone untuk menghubungi si tukang rosok ketika botol plastik sudah terkumpul. “Kulo mboten saget gawene. (Tapi saya tidak bisa memakai handphone-nya),” katanya.

Kini, kebiasaan Mbah Bingah mengumpulkan botol bekas di jalur pendakian terpaksa terhenti. Nyaris tak ada pendaki karena akses ke Gunung Merbabu lewat jalur Selo ditutup guna mengantisipasi penyebaran korona.

Sebagai gantinya untuk tetap mendapatkan penghasilan, Mbah Bingah menjadi buruh tani. “Ken macul nggih saget, ken matun nggih saget. Pokoke nopo mawon. (Disuruh mencangkul juga bisa. Membersihkan rumput di sawah juga bisa. Pokoknya apa saja dikerjakan),” ucapnya.

Mbah Bingah mendapatkan upah menjadi buruh tani dalam sehari Rp 20 ribu, sedangkan separo hari Rp 10 ribu. Dia menjadi tulang punggung keluarga karena kondisi kesehatan suaminya tidak memungkinkan untuk bekerja. “Sukune kagem mlampah angel. (Kaki suaminya buat berjalan susah),” tutur dia.

Wiranto, ketua RT 1 RW 1 Selowangan mengatakan, di lingkungan setempat, Mbah Bingah termasuk keluarga miskin (Gakin). Sejak diberlakukan penutupan jalur pendakian Gunung Merbabu via Selo, Mbah Bingah harus bekerja lebih keras.

“Para tetangga juga membantu kebutuhan sehari-hari Mbah Bingah. Ada yang memberikan uang, makanan, dan sebagainya,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, rumah Mbah Bingah kurang layak ditempati. Berlantai tanah, berdinding kayu, dan belum tersedia sanitasi yang baik.

Meskipun demikian, sesuai namanya, Bingah yang dalam bahasa Jawa krama halus berarti senang, Mbah Bingah tetap ramah, tersenyum kepada siapa saja, dan tentu saja semangat bekerja. (wa)

RADARSOLO.ID – Sambil mencari rumput, Mbah Bingah memungut botol plastik bekas minuman yang tercecer di jalur pendakian Gunung Merbabu. Sampah sulit terurai itu dibawanya pulang.

Kebiasaan memungut sampah lanjut usia (lansia) warga Dusun Selowangan RT 1 RW 1, Desa/Kecamatan Selo, Boyolali itu dilakukan selama tiga tahun terakhir.

Oleh Mbah Bingah, botol-botol plastik tersebut dimasukkan karung plastik lalu ditumpuk di teras rumahnya yang masih berlantaikan tanah. Akhirnya menggunung, nyaris menutupi bagian depan rumah berdinding kayu itu.

Kulo pendeti botole kajenge mboten reget alase. Sing plastik lintune, kulo bakar teng pawon (Saya ambil botolnya agar tidak kotor hutannya. Yang plastik lainnya, saya bakar di perapian),” terangnya, Selasa (9/10).

Dalam sehari, Mbah Bingah bisa mengumpulkan botol plastik sebanyak sepuluh karung beragam ukuran. Hanya ditumpuk, belum tahu mau digunakan untuk apa.

Suatu ketika, Mbah Bingah bertemu pengepul barang rosok dan mengatakan bahwa di rumahnya banyak botol plastik.

Perempuan murah senyum ini tak menyangka botol plastik itu bisa dijual. “Setunggal kilone ditumbas Rp 1.000. Bagor ageng saget diisi 5 kilo, sing alit namun 3 kilogram. (Satu kilonya dibeli Rp 1.000. Karung besar dapat diisi 5 kilogram botol plastik, karung kecil 3 kilogram),” jelasnya.

Uang hasil penjualan botol plastik digunakan Mbah Bingah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk membeli handphone untuk menghubungi si tukang rosok ketika botol plastik sudah terkumpul. “Kulo mboten saget gawene. (Tapi saya tidak bisa memakai handphone-nya),” katanya.

Kini, kebiasaan Mbah Bingah mengumpulkan botol bekas di jalur pendakian terpaksa terhenti. Nyaris tak ada pendaki karena akses ke Gunung Merbabu lewat jalur Selo ditutup guna mengantisipasi penyebaran korona.

Sebagai gantinya untuk tetap mendapatkan penghasilan, Mbah Bingah menjadi buruh tani. “Ken macul nggih saget, ken matun nggih saget. Pokoke nopo mawon. (Disuruh mencangkul juga bisa. Membersihkan rumput di sawah juga bisa. Pokoknya apa saja dikerjakan),” ucapnya.

Mbah Bingah mendapatkan upah menjadi buruh tani dalam sehari Rp 20 ribu, sedangkan separo hari Rp 10 ribu. Dia menjadi tulang punggung keluarga karena kondisi kesehatan suaminya tidak memungkinkan untuk bekerja. “Sukune kagem mlampah angel. (Kaki suaminya buat berjalan susah),” tutur dia.

Wiranto, ketua RT 1 RW 1 Selowangan mengatakan, di lingkungan setempat, Mbah Bingah termasuk keluarga miskin (Gakin). Sejak diberlakukan penutupan jalur pendakian Gunung Merbabu via Selo, Mbah Bingah harus bekerja lebih keras.

“Para tetangga juga membantu kebutuhan sehari-hari Mbah Bingah. Ada yang memberikan uang, makanan, dan sebagainya,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, rumah Mbah Bingah kurang layak ditempati. Berlantai tanah, berdinding kayu, dan belum tersedia sanitasi yang baik.

Meskipun demikian, sesuai namanya, Bingah yang dalam bahasa Jawa krama halus berarti senang, Mbah Bingah tetap ramah, tersenyum kepada siapa saja, dan tentu saja semangat bekerja. (wa)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/