alexametrics
24.9 C
Surakarta
Wednesday, 26 January 2022

Bantu Sesama Tunanetra Pahami Mitigasi Bencana

Mengenal Eko Swasto Agus Susilo, Penerjemah Huruf Latin ke Braille

RADARSOLO.ID – Kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku SMP tidak membuat Eko Swasto Agus Susilo, 63, menyerah pada keadaan. Dia kini aktif menerjemahkan sejumlah materi bertuliskan huruf latin ke braille sehingga bisa dipahami sesama tuna netra.

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Eko Swasto Agus Susilo aktif di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) Kelurahan Bareng Lor, Klaten Utara. Dia memperlihatkan bagaimana menerjemahkan materi dalam huruf latin ke braille dengan sebuah aplikasi pada laptop.

Bahkan jika dicetak dengan dukungan peralatan seperti printer braille bisa diterjemahkan dalam hitungan menit saja. Meski begitu, dia sudah pernah menerjemahkan secara manual dengan menggunakan reglet dan stylus yang merupakan alat menulis bagi orang tuna netra.

”Sebenarnya dalam menerjemahkan materi huruf latin ke braille bisa dengan tiga alat yang digunakan. Mulai dari reglet dan stylus, mesin ketik braille hingga printer braille. Kebetulan saya memiliki alatnya sehingga bisa menerjemahkan,” ucap Eko saat ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.

Kehilangan penglihatan yang dialami Eko itu karena saraf retina mengelupas akibat terfosir berlatih berenang. Mengingat saat itu di sekolahnya dia belum lolos untuk ketangkasan jasmani khusus berenang. Sempat mencoba untuk berobat ke berbagai kota, tetapi belum juga membuahkan hasil sampai saat ini.

Meski sempat putus sekolah setelah kehilangan penglihatan, tetapi dia sempat melanjutkan pendidikannya di sekolah luar biasa (SLB). Bahkan bisa menamatkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan pendidikan luar biasa pada 1994. Sebelum akhirnya menjadi pengajar di SLB A Yayasan Asuhan Anak-anak Tuna  (YAAT) di Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan.

Selama menjadi pengajar sudah biasa menerjemahkan berbagai materi ke huruf braille untuk anak didiknya. Kini setelah pensiun dan mendedikasikan pada PPDK, kemampuannya itu dia manfaatkan. Salah satunya menerjemahkan modul pembelajaran pengurangan risiko bencana (PRB) ke huruf braille pada 2019.

”Ada 67 halaman pada buku itu yang menjelaskan bagaimana cara melindungi diri jika terjadi bencana. Mulai dari banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi hingga tanah longsor. Khususnya bagi tuna netra,” ucap warga Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan ini.

Diakuinya, bagi tuna netra di Klaten ketika belajar mitigasi bencana sebelumnya hanya melalui media ceramah dan simulasi saja. Tetapi kini bisa mendalami lagi dengan modul yang diterjemahkannya itu. Harapannya para penyandang disabilitas menjadi lebih paham mengenai apa yang harus dilakukannya ketika terjadi bencana. (*/adi)

RADARSOLO.ID – Kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku SMP tidak membuat Eko Swasto Agus Susilo, 63, menyerah pada keadaan. Dia kini aktif menerjemahkan sejumlah materi bertuliskan huruf latin ke braille sehingga bisa dipahami sesama tuna netra.

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Eko Swasto Agus Susilo aktif di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) Kelurahan Bareng Lor, Klaten Utara. Dia memperlihatkan bagaimana menerjemahkan materi dalam huruf latin ke braille dengan sebuah aplikasi pada laptop.

Bahkan jika dicetak dengan dukungan peralatan seperti printer braille bisa diterjemahkan dalam hitungan menit saja. Meski begitu, dia sudah pernah menerjemahkan secara manual dengan menggunakan reglet dan stylus yang merupakan alat menulis bagi orang tuna netra.

”Sebenarnya dalam menerjemahkan materi huruf latin ke braille bisa dengan tiga alat yang digunakan. Mulai dari reglet dan stylus, mesin ketik braille hingga printer braille. Kebetulan saya memiliki alatnya sehingga bisa menerjemahkan,” ucap Eko saat ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.

Kehilangan penglihatan yang dialami Eko itu karena saraf retina mengelupas akibat terfosir berlatih berenang. Mengingat saat itu di sekolahnya dia belum lolos untuk ketangkasan jasmani khusus berenang. Sempat mencoba untuk berobat ke berbagai kota, tetapi belum juga membuahkan hasil sampai saat ini.

Meski sempat putus sekolah setelah kehilangan penglihatan, tetapi dia sempat melanjutkan pendidikannya di sekolah luar biasa (SLB). Bahkan bisa menamatkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan pendidikan luar biasa pada 1994. Sebelum akhirnya menjadi pengajar di SLB A Yayasan Asuhan Anak-anak Tuna  (YAAT) di Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan.

Selama menjadi pengajar sudah biasa menerjemahkan berbagai materi ke huruf braille untuk anak didiknya. Kini setelah pensiun dan mendedikasikan pada PPDK, kemampuannya itu dia manfaatkan. Salah satunya menerjemahkan modul pembelajaran pengurangan risiko bencana (PRB) ke huruf braille pada 2019.

”Ada 67 halaman pada buku itu yang menjelaskan bagaimana cara melindungi diri jika terjadi bencana. Mulai dari banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi hingga tanah longsor. Khususnya bagi tuna netra,” ucap warga Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan ini.

Diakuinya, bagi tuna netra di Klaten ketika belajar mitigasi bencana sebelumnya hanya melalui media ceramah dan simulasi saja. Tetapi kini bisa mendalami lagi dengan modul yang diterjemahkannya itu. Harapannya para penyandang disabilitas menjadi lebih paham mengenai apa yang harus dilakukannya ketika terjadi bencana. (*/adi)

Populer

Berita Terbaru