alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Eko Budi Suroso, Berdayakan Petani Lokal

Biji Kopi Terbaik Dijual Murah Tinggal Cerita

RADARSOLO.ID – Tak disangka, pelatihan barista kopi yang diikuti Eko Budi Suroso, warga Dusun Ngemplak, Banyuanyar, Boyolali pada 2013 memberikan manfaat bagi petani kopi lokal. Kini, nilai jual kopi lokal lebih tinggi. Seperti apa upayanya? Berikut disampaikan Eko kepada wartawan Jawa Pos Radar Solo Ragil Listoyo.

Apa kabar? Sedang sibuk apa?

Kabar Baik. Sekarang fokus pindahan oulet. Yang tadinya di rumah, sekarang geser sedikit ke utara.

Awal menggeluti dunia perkopian?

Dipilih dari dinas (Pemkab Boyolali) untuk pelatihan ke Semarang. Justru lebih dulu istri saya kalau masalah kopi, hahahaha….. Dia sudah buat bubuk kopi sejak 2013. Saya baru belajar kopi 2016. Itupun karena ditunjuk untuk pelatihan.

Sejak kapan menggandeng petani kopi lokal?

Awalnya saya lihat di sini potensi kopinya besar. Banyak petani kopi dengan luas lading sampai 7-10 hektare. Saya juga prihatin. Kalau petani kan begitu panen, kering, biji kopinya dijual ke pasar. Tapi harga kopi dari grade 1, 2, dan 3, dijual sama. Cuma Rp 19 ribu per kilogram. Padahal harga jualnya bisa lebih dari itu.

Cara mengedukasi?

Saya beli biji kopi mereka lalu saya buat bubuk dan menyeduhnya. Saya hampiri petani-petani kopi itu. Saya minta agar mereka mencicipi kopi yang dirawat dan dipanennya. Ternyata pada belum pernah mencicipi kopi mereka sendiri. Dari situ tahu rasanya enak. Jadi petani semakin semangat merawat dengan baik tanaman kopinya.

Mulai menampung biji kopi petani?

Saya buat kedai itu 2018. Niat saya meningkatkan kualitas dan nilai jual kopi lokal. Kami damping bagaimana cara pemupukan, cara pemetikan bijinya. Kan nggak semua bisa dipanen. Sampai proses pengeringan, sortir, sampai sangrai. Karena sudah membina petani, maka kami juga tanggung jawab. Di sini ada lahan milik petani. di kampung ini setiap rumah punya tanaman kopi. Ada tiga jenis kopi yang dihasilkan, kopi nangka, robusta, dan arabica. Kami juga ada kopi lanang, atau kopi yang bijinya hanya satu. Makanya semua proses pemilahan biji kami lakukan manual.

Bisakah petani menghasilkan biji kopi kualitas tinggi?

Karena kami dampingi, petani sudah paham cara menghasilkan biji kopi dengan kualitas tinggi. Seperti fin erobusta dan speciality arabica yang itu memerlukan teknik khusus. Biji kopi harus dipanen saat merah segar. Lalu dilakukan proses pengeringan di dome yang steril dengan blower. Tujuannya agar tidak ada serangga dan kotoran yang mengganggu proses pengeringan. Proses-proses ini nanti menghasilkan biji kopi dengan aroma khas dan rasa yang nikmat.

Harga jual biji kopi lokal?

Tentu naik. Untuk grade biasa Rp 22 ribu-Rp 25 ribu per kilogram. Naik Rp 3 ribu – Rp 5 ribu dibandingkan dulu, sedangkan biji kopi yang kualitas tinggi, bisa sampai Rp 80 ribu-Rp 100 ribu  per kilogram.

Adakah bagian kopi yang dikembangkan?

Selama ini kulit kopi hanya dibuang atau buat pupuk. Tidak dikembangkan lebih jauh. Lalu saya coba membuat minuman fermentasi kulit kopi. Jadinya, ada manis, asam, namun menyegarkan. Racikan ini juga yang jadi favorit. Fermentasi kulit kopi ini namannya kombuca. Pembuatannya difermentasi selama 20 hari sampai 35 hari. Sekali fermentasi membutuhkan 4 ons kulit kopi dan air 12 liter ditambah ragi kue 2,5 gram dan gula 1,5 kilogram untuk manisnya.

Peminat belajar meracik kopi?

Meski tempatnya naik di desa, tiap hari pasti ada pembeli luar kota yang mampir. Yang belajar menyeduh kopi juga banyak. Sebulan bisa 50 orang. Datang dari eks Karesidenan Surakarta. Mayoritas dari Jogjakarta dan Semarang. (rgl/wa)

RADARSOLO.ID – Tak disangka, pelatihan barista kopi yang diikuti Eko Budi Suroso, warga Dusun Ngemplak, Banyuanyar, Boyolali pada 2013 memberikan manfaat bagi petani kopi lokal. Kini, nilai jual kopi lokal lebih tinggi. Seperti apa upayanya? Berikut disampaikan Eko kepada wartawan Jawa Pos Radar Solo Ragil Listoyo.

Apa kabar? Sedang sibuk apa?

Kabar Baik. Sekarang fokus pindahan oulet. Yang tadinya di rumah, sekarang geser sedikit ke utara.

Awal menggeluti dunia perkopian?

Dipilih dari dinas (Pemkab Boyolali) untuk pelatihan ke Semarang. Justru lebih dulu istri saya kalau masalah kopi, hahahaha….. Dia sudah buat bubuk kopi sejak 2013. Saya baru belajar kopi 2016. Itupun karena ditunjuk untuk pelatihan.

Sejak kapan menggandeng petani kopi lokal?

Awalnya saya lihat di sini potensi kopinya besar. Banyak petani kopi dengan luas lading sampai 7-10 hektare. Saya juga prihatin. Kalau petani kan begitu panen, kering, biji kopinya dijual ke pasar. Tapi harga kopi dari grade 1, 2, dan 3, dijual sama. Cuma Rp 19 ribu per kilogram. Padahal harga jualnya bisa lebih dari itu.

Cara mengedukasi?

Saya beli biji kopi mereka lalu saya buat bubuk dan menyeduhnya. Saya hampiri petani-petani kopi itu. Saya minta agar mereka mencicipi kopi yang dirawat dan dipanennya. Ternyata pada belum pernah mencicipi kopi mereka sendiri. Dari situ tahu rasanya enak. Jadi petani semakin semangat merawat dengan baik tanaman kopinya.

Mulai menampung biji kopi petani?

Saya buat kedai itu 2018. Niat saya meningkatkan kualitas dan nilai jual kopi lokal. Kami damping bagaimana cara pemupukan, cara pemetikan bijinya. Kan nggak semua bisa dipanen. Sampai proses pengeringan, sortir, sampai sangrai. Karena sudah membina petani, maka kami juga tanggung jawab. Di sini ada lahan milik petani. di kampung ini setiap rumah punya tanaman kopi. Ada tiga jenis kopi yang dihasilkan, kopi nangka, robusta, dan arabica. Kami juga ada kopi lanang, atau kopi yang bijinya hanya satu. Makanya semua proses pemilahan biji kami lakukan manual.

Bisakah petani menghasilkan biji kopi kualitas tinggi?

Karena kami dampingi, petani sudah paham cara menghasilkan biji kopi dengan kualitas tinggi. Seperti fin erobusta dan speciality arabica yang itu memerlukan teknik khusus. Biji kopi harus dipanen saat merah segar. Lalu dilakukan proses pengeringan di dome yang steril dengan blower. Tujuannya agar tidak ada serangga dan kotoran yang mengganggu proses pengeringan. Proses-proses ini nanti menghasilkan biji kopi dengan aroma khas dan rasa yang nikmat.

Harga jual biji kopi lokal?

Tentu naik. Untuk grade biasa Rp 22 ribu-Rp 25 ribu per kilogram. Naik Rp 3 ribu – Rp 5 ribu dibandingkan dulu, sedangkan biji kopi yang kualitas tinggi, bisa sampai Rp 80 ribu-Rp 100 ribu  per kilogram.

Adakah bagian kopi yang dikembangkan?

Selama ini kulit kopi hanya dibuang atau buat pupuk. Tidak dikembangkan lebih jauh. Lalu saya coba membuat minuman fermentasi kulit kopi. Jadinya, ada manis, asam, namun menyegarkan. Racikan ini juga yang jadi favorit. Fermentasi kulit kopi ini namannya kombuca. Pembuatannya difermentasi selama 20 hari sampai 35 hari. Sekali fermentasi membutuhkan 4 ons kulit kopi dan air 12 liter ditambah ragi kue 2,5 gram dan gula 1,5 kilogram untuk manisnya.

Peminat belajar meracik kopi?

Meski tempatnya naik di desa, tiap hari pasti ada pembeli luar kota yang mampir. Yang belajar menyeduh kopi juga banyak. Sebulan bisa 50 orang. Datang dari eks Karesidenan Surakarta. Mayoritas dari Jogjakarta dan Semarang. (rgl/wa)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/