23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Mahasiswa Ciptakan Alat Pemanas Makanan dari Gas Buang Kendaraan

RADARSOLO.ID – Pernah mengalami pesan makanan via ojek online (ojol) tapi kecewa lantaran makanannya sudah tidak hangat? Alhasil kurang nikmat saat disantap. Sekelompok mahasiswa ini menawarkan inovasi alat penghangat makanan memanfaatkan panas buang kendaraan bermotor. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Radar Solo, Solo.

Di masa pandemi Covid-19 ini, jasa layanan pesan antar semakin menjamur. Tak terhitung lagi jumlah ojol yang tumbuh sporadis. Tak terkecuali di Kota Bengawan. Di balik tingginya animo masyarakat menggunakan jasa ini, ada satu kendala yang dirasakan konsumen. Makanan sampai ke rumah sudah tidak lagi nikmat lantaran suhu panasnya habis saat perjalanan.

“Kami mendapat informasi dari beberapa ojol. Rata-rata mereka mengantar makanan dari restoran ke konsumen membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Menurut kami, itu sangat lama. Otomatis kalau tidak ada dukungan khusus untuk menjaga suhu panas, makanan akan dingin. Sehingga mengurangi kenikmatan saat menyantap makanan. Seperti bakso, mi ayam, dan lain sebagainya,” ungkap Bioma Cakrawala, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret (UNS), kemarin

Permasalahan ini direspons oleh Bioma dan timnya. Menurutnya, fenomena menjamurnya jasa layanan pesan antar ini menjadi peluang yang sangat besar. Bioma dan tim menciptakan inovasi kotak penghangat makanan bagi ojol dan restoran yang memiliki jasa layanan pesan antar.

Bioma tidak sendiri, dia dibantu Riski Husain Alfathan, Ardi Esdiyanto, Imroatus Sholikhah, dan Aida Nur Sabrina. Bukan sembarang kotak, penghangat makanan buatan Bioma dkk memanfaatkan panas dari sisa pembakaran di dalam mesin kendaraan bermotor.

“Biasanya, panas sisa pembakaran kendaraan itu hanya terbuang sia-sia ke lingkungan. Memang sudah banyak upaya dari para peneliti untuk memanfaatkan panas buang ini. Dan kami mengambil langkah menggunakan panas ini sebagai sumber panas untuk kotak penghangat makanan. Menyalurkan panas ini ke wadah penghangat makanan yang kami buat,” bebernya

Bioma mengklaim kotak penghangat makanannya berbeda dengan alat serupa lainnya. Alat yang digunakan ojol selama ini bentuknya hanya berupa tas yang di dalamnya terlapisi aluminium foil. Sementara, alumunium foil sifatnya hanya sebagai penahan panas. Bukan sumber panas. Alat lainnya, ada yang menggunakan panas dengan bantuan baterai.

Nah, kelebihan kotak penghangat makanan kami, ada sumber panasnya. Memanfaatkan panas dari sepeda motor. Jadi panas yang tadinya terbuang percuma, kami ambil dan manfaatkan untuk menghangatkan wadah makanan yang kami buat. Sehingga, tidak hanya menjaga suhu. Karena alat kami menghasilkan panas,” jelasnya.

Waktu yang diperlukan alat ini untuk menghangatkan makanan tegantung pada kecepatan dan waktu penggunaan sepeda motor. Semakin tinggi kecepatan sepeda motor dan semakin lama waktu penggunaan sepeda motor, dapat meningkatkan suhu knalpot. Sehingga suhu makanan menjadi semakin hangat. Untuk mencapai suhu 50 derajat celcius diperlukan kecepatan 40 kilometer per jam selama 7 menit.

Kelebihan lainnya, Bioma dkk menambahkan fitur Bluetooth yang bisa disambungkan ke smartphone. Dipasang juga micro controller. Sehingga penggunaan bisa mengatur on-off alat pemanas melalui smartphone. Sekaligus bisa memonitor suhu makanan. Sebab kotak penghangat makanan ini juga dipasang thermo cable untuk mengukur suhu yang ada di dalam kotak.

Untuk materialnya, menggunakan stainless steel tipe 304 yang food grade. Sehingga aman untuk makanan. Dan kayu lapis atau multiplex. Stainless steel untuk membuat ruang makanan. Dan juga membuat pipa penghantar panas di bagian knalpot.

“Jadi knalpot ini kami modifikasi. Kami pasang dengan pipa stainless khusus untuk memindahkan panas dari knalpot ke kotaknya,” paparnya.

Sebagai pemindah panas, Bioma dkk menggunakan media air. Artinya, perambatan panas melalui air yang dipompa. Jadi alat ini menggunakan pompa untuk mengalirkan air dari knalpot ke kotak. Dan sebaliknya, dari kotak ke knalpot. Proses itu akan bersirkulasi terus menerus.

“Sedangkan kayu lapis untuk mengisolasi kotak pemanas makanan. Karena kalau tanpa isolator dia panasnya akan keluar ke lingkungan. Kayu lapis ini akan menghambat adanya perambatan panas ke lingkungan luar,” sambungnya.

Bioma mengatakan, kotak penghangat makanan buatannya ini masih dalam bentuk prototype. Masih perlu dilakukan beberapa kali pengujian. Dan mungkin akan dilakukan beberapa pengembangan. Namun, jika alat ini sudah berhasil lolos uji dan memenuhi kriteria, Bioma dkk berencana akan memproduksi massal alat ini. (*/bun) 

RADARSOLO.ID – Pernah mengalami pesan makanan via ojek online (ojol) tapi kecewa lantaran makanannya sudah tidak hangat? Alhasil kurang nikmat saat disantap. Sekelompok mahasiswa ini menawarkan inovasi alat penghangat makanan memanfaatkan panas buang kendaraan bermotor. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Radar Solo, Solo.

Di masa pandemi Covid-19 ini, jasa layanan pesan antar semakin menjamur. Tak terhitung lagi jumlah ojol yang tumbuh sporadis. Tak terkecuali di Kota Bengawan. Di balik tingginya animo masyarakat menggunakan jasa ini, ada satu kendala yang dirasakan konsumen. Makanan sampai ke rumah sudah tidak lagi nikmat lantaran suhu panasnya habis saat perjalanan.

“Kami mendapat informasi dari beberapa ojol. Rata-rata mereka mengantar makanan dari restoran ke konsumen membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Menurut kami, itu sangat lama. Otomatis kalau tidak ada dukungan khusus untuk menjaga suhu panas, makanan akan dingin. Sehingga mengurangi kenikmatan saat menyantap makanan. Seperti bakso, mi ayam, dan lain sebagainya,” ungkap Bioma Cakrawala, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret (UNS), kemarin

Permasalahan ini direspons oleh Bioma dan timnya. Menurutnya, fenomena menjamurnya jasa layanan pesan antar ini menjadi peluang yang sangat besar. Bioma dan tim menciptakan inovasi kotak penghangat makanan bagi ojol dan restoran yang memiliki jasa layanan pesan antar.

Bioma tidak sendiri, dia dibantu Riski Husain Alfathan, Ardi Esdiyanto, Imroatus Sholikhah, dan Aida Nur Sabrina. Bukan sembarang kotak, penghangat makanan buatan Bioma dkk memanfaatkan panas dari sisa pembakaran di dalam mesin kendaraan bermotor.

“Biasanya, panas sisa pembakaran kendaraan itu hanya terbuang sia-sia ke lingkungan. Memang sudah banyak upaya dari para peneliti untuk memanfaatkan panas buang ini. Dan kami mengambil langkah menggunakan panas ini sebagai sumber panas untuk kotak penghangat makanan. Menyalurkan panas ini ke wadah penghangat makanan yang kami buat,” bebernya

Bioma mengklaim kotak penghangat makanannya berbeda dengan alat serupa lainnya. Alat yang digunakan ojol selama ini bentuknya hanya berupa tas yang di dalamnya terlapisi aluminium foil. Sementara, alumunium foil sifatnya hanya sebagai penahan panas. Bukan sumber panas. Alat lainnya, ada yang menggunakan panas dengan bantuan baterai.

Nah, kelebihan kotak penghangat makanan kami, ada sumber panasnya. Memanfaatkan panas dari sepeda motor. Jadi panas yang tadinya terbuang percuma, kami ambil dan manfaatkan untuk menghangatkan wadah makanan yang kami buat. Sehingga, tidak hanya menjaga suhu. Karena alat kami menghasilkan panas,” jelasnya.

Waktu yang diperlukan alat ini untuk menghangatkan makanan tegantung pada kecepatan dan waktu penggunaan sepeda motor. Semakin tinggi kecepatan sepeda motor dan semakin lama waktu penggunaan sepeda motor, dapat meningkatkan suhu knalpot. Sehingga suhu makanan menjadi semakin hangat. Untuk mencapai suhu 50 derajat celcius diperlukan kecepatan 40 kilometer per jam selama 7 menit.

Kelebihan lainnya, Bioma dkk menambahkan fitur Bluetooth yang bisa disambungkan ke smartphone. Dipasang juga micro controller. Sehingga penggunaan bisa mengatur on-off alat pemanas melalui smartphone. Sekaligus bisa memonitor suhu makanan. Sebab kotak penghangat makanan ini juga dipasang thermo cable untuk mengukur suhu yang ada di dalam kotak.

Untuk materialnya, menggunakan stainless steel tipe 304 yang food grade. Sehingga aman untuk makanan. Dan kayu lapis atau multiplex. Stainless steel untuk membuat ruang makanan. Dan juga membuat pipa penghantar panas di bagian knalpot.

“Jadi knalpot ini kami modifikasi. Kami pasang dengan pipa stainless khusus untuk memindahkan panas dari knalpot ke kotaknya,” paparnya.

Sebagai pemindah panas, Bioma dkk menggunakan media air. Artinya, perambatan panas melalui air yang dipompa. Jadi alat ini menggunakan pompa untuk mengalirkan air dari knalpot ke kotak. Dan sebaliknya, dari kotak ke knalpot. Proses itu akan bersirkulasi terus menerus.

“Sedangkan kayu lapis untuk mengisolasi kotak pemanas makanan. Karena kalau tanpa isolator dia panasnya akan keluar ke lingkungan. Kayu lapis ini akan menghambat adanya perambatan panas ke lingkungan luar,” sambungnya.

Bioma mengatakan, kotak penghangat makanan buatannya ini masih dalam bentuk prototype. Masih perlu dilakukan beberapa kali pengujian. Dan mungkin akan dilakukan beberapa pengembangan. Namun, jika alat ini sudah berhasil lolos uji dan memenuhi kriteria, Bioma dkk berencana akan memproduksi massal alat ini. (*/bun) 

Populer

Berita Terbaru

spot_img