alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Cerita di Balik Nama Unik ‘N’…Clio, Balita asal Eromoko, Wonogiri

RADARSOLO.ID – Nama yang diberikan orang tua kepada anaknya selalu memiliki arti. Nah, di Kecamatan Eromoko, ada orang tua yang memberikan nama unik kepada anaknya. Seperti apa?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Perut Amin Sulistiyorini mengalami kontraksi Kamis (4/2) lalu. Ya, perempuan 40 tahun itu bersiap untuk melahirkan anak keempatnya. Sebenarnya, dia disarankan untuk melakukan operasi caesar  karena suatu hal. Namun dia bersikukuh melahirkan dengan proses normal seperti ketiga anaknya yang lain.

Saat itu, cahaya matahari tertutupi mendung tebal. Hujan sudah hampir turun saat perempuan asal Dusun Eromoko Kulon RT 02 RW 02 Desa/Kecamatan Eromoko itu dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Pracimantoro untuk menjalani proses persalinan. Namun dia perlu berjuang keras untuk melahirkan anaknya itu. Saking lemasnya, sampai tak sadarkan diri dan terancam nyawanya.

“Terakhir saya ingat bilang ke suami saya kalau sudah nyerah, ndak kuat. Suami mbisiki yen kudu kuat, anake wes metu separo. Sambil nangis. Kalau tidak salah empat bidan yang menangani saya,” kata Amin Sulistiyorini saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/10).

Suami Amin Sulistiyorini, Widodo menambahkan, hujan sudah mengguyur di area puskesmas saat itu. Listrik pun tiba-tiba padam. Gelap gulita di ruang persalinan. Pencahayaan pun akhirnya dibantu dengan senter handphone. Namun akhirnya anak keempat dari pasangan itupun lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya perempuan dengan berat 3,7 kilogram dan panjang sekitar 50 sentimeter. Tak berselah lama setelah anak mereka lahir, azan Asar pun berkumandang.

Anak itu akhirnya diberi nama unik. Namanya adalah ‘N’…Clio. Ya, dengan tanda kutip yang mengimpit abjad N dan juga tiga buah tanda titik sebelum Clio. Nama itu diberikan oleh sang ayah dan baru ditentukan saat hari sepasaran bayi itu.

Awalnya, Widodo hanya ingin menamai anaknya dengan abjad N saja. Menurut anggota paguyuban kebudayaan Ajisaka itu, N dalam abjad jawa memiliki arti pengangkat derajat dan kata keberuntungan. Namun hal itu diprotes oleh anak ketiganya yang heran dengan singkatnya nama sang adik. Karena itu ditambahkan tanda titik yang berjumlah tiga dan Clio.

“Kalau di Paguyuban Ajisaka sudah paham arti dari tanda kutip dan titik. Kalau orang dulu, kata sandi surat jawa,” terang pria 42 tahun itu.

Sementara itu, tambahan nama Clio terinspirasi dari nama Ratu Mesir, Cleopatra. Nama ‘N’…Clio pun akhirnya dipilih sebagai nama anak keempatnya. Bisa dipanggil N, bisa juga dipanggil Clio.

Widodo mengakui, nama anak keempatnya ini paling berbeda dengan nama ketiga anaknya yang lain. Ambil contoh anak keduanya yang satu-satunya berjenis kelamin laki-laki, dinamai Bilal Shorim Nasrullah.

Kini, Clio sudah berusia delapan bulan. Anak itu pun tumbuh sehat. Menurut Widodo, gigi Clio sudah mulai tumbuh saat usia lima bulan. Sementara itu, dia merasa anaknya seperti sudah ingin berlari.

Saat sejumlah wartawan datang dan bertemu dengannya, wajah Clio nampak riang. Tak ada rasa takut dengan orang yang kali pertama bertemu dengannya.

Beberapa waktu lalu, jagat publik dihebohkan dengan adanya anak yang kesulitan mendapatkan akta kelahiran karena namanya terlalu panjang di Tuban Jawa Timur. Namun, hal itu tak berlaku bagi Clio yang memiliki tanda baca di dalam namanya. Akta kelahiran mudah didapatkan.

Widodo pun dengan pede menunjukkannya bersama dengan Kartu Keluarga rilisan terbaru dimana sudah tercantum nama Clio. Namun diakuinya dia sempat dipanggil ke balai desa saat pengurusan dokumen kependudukan.

“Saat mengurus itu sempat tiga hari dipanggil terus ke desa. Tapi cuma ditanya arti namanya apa, terus soal penulisan nama. Yang ditakutkan kalau penulisannya keliru. Tapi akhirnya juga bisa keluar. Banyak yang bilang namanya unik juga,” bebernya.

Meski memiliki nama yang unik, harapan dari orang tua kepada ‘N’…Clio sangat sederhana. Bahkan seperti harapan orang tua pada umumnya. Pasutri itu kompak menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeha, bisa menjaga nama baik keluarga dan selalu diberi kesehatan. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Nama yang diberikan orang tua kepada anaknya selalu memiliki arti. Nah, di Kecamatan Eromoko, ada orang tua yang memberikan nama unik kepada anaknya. Seperti apa?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Perut Amin Sulistiyorini mengalami kontraksi Kamis (4/2) lalu. Ya, perempuan 40 tahun itu bersiap untuk melahirkan anak keempatnya. Sebenarnya, dia disarankan untuk melakukan operasi caesar  karena suatu hal. Namun dia bersikukuh melahirkan dengan proses normal seperti ketiga anaknya yang lain.

Saat itu, cahaya matahari tertutupi mendung tebal. Hujan sudah hampir turun saat perempuan asal Dusun Eromoko Kulon RT 02 RW 02 Desa/Kecamatan Eromoko itu dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Pracimantoro untuk menjalani proses persalinan. Namun dia perlu berjuang keras untuk melahirkan anaknya itu. Saking lemasnya, sampai tak sadarkan diri dan terancam nyawanya.

“Terakhir saya ingat bilang ke suami saya kalau sudah nyerah, ndak kuat. Suami mbisiki yen kudu kuat, anake wes metu separo. Sambil nangis. Kalau tidak salah empat bidan yang menangani saya,” kata Amin Sulistiyorini saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/10).

Suami Amin Sulistiyorini, Widodo menambahkan, hujan sudah mengguyur di area puskesmas saat itu. Listrik pun tiba-tiba padam. Gelap gulita di ruang persalinan. Pencahayaan pun akhirnya dibantu dengan senter handphone. Namun akhirnya anak keempat dari pasangan itupun lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya perempuan dengan berat 3,7 kilogram dan panjang sekitar 50 sentimeter. Tak berselah lama setelah anak mereka lahir, azan Asar pun berkumandang.

Anak itu akhirnya diberi nama unik. Namanya adalah ‘N’…Clio. Ya, dengan tanda kutip yang mengimpit abjad N dan juga tiga buah tanda titik sebelum Clio. Nama itu diberikan oleh sang ayah dan baru ditentukan saat hari sepasaran bayi itu.

Awalnya, Widodo hanya ingin menamai anaknya dengan abjad N saja. Menurut anggota paguyuban kebudayaan Ajisaka itu, N dalam abjad jawa memiliki arti pengangkat derajat dan kata keberuntungan. Namun hal itu diprotes oleh anak ketiganya yang heran dengan singkatnya nama sang adik. Karena itu ditambahkan tanda titik yang berjumlah tiga dan Clio.

“Kalau di Paguyuban Ajisaka sudah paham arti dari tanda kutip dan titik. Kalau orang dulu, kata sandi surat jawa,” terang pria 42 tahun itu.

Sementara itu, tambahan nama Clio terinspirasi dari nama Ratu Mesir, Cleopatra. Nama ‘N’…Clio pun akhirnya dipilih sebagai nama anak keempatnya. Bisa dipanggil N, bisa juga dipanggil Clio.

Widodo mengakui, nama anak keempatnya ini paling berbeda dengan nama ketiga anaknya yang lain. Ambil contoh anak keduanya yang satu-satunya berjenis kelamin laki-laki, dinamai Bilal Shorim Nasrullah.

Kini, Clio sudah berusia delapan bulan. Anak itu pun tumbuh sehat. Menurut Widodo, gigi Clio sudah mulai tumbuh saat usia lima bulan. Sementara itu, dia merasa anaknya seperti sudah ingin berlari.

Saat sejumlah wartawan datang dan bertemu dengannya, wajah Clio nampak riang. Tak ada rasa takut dengan orang yang kali pertama bertemu dengannya.

Beberapa waktu lalu, jagat publik dihebohkan dengan adanya anak yang kesulitan mendapatkan akta kelahiran karena namanya terlalu panjang di Tuban Jawa Timur. Namun, hal itu tak berlaku bagi Clio yang memiliki tanda baca di dalam namanya. Akta kelahiran mudah didapatkan.

Widodo pun dengan pede menunjukkannya bersama dengan Kartu Keluarga rilisan terbaru dimana sudah tercantum nama Clio. Namun diakuinya dia sempat dipanggil ke balai desa saat pengurusan dokumen kependudukan.

“Saat mengurus itu sempat tiga hari dipanggil terus ke desa. Tapi cuma ditanya arti namanya apa, terus soal penulisan nama. Yang ditakutkan kalau penulisannya keliru. Tapi akhirnya juga bisa keluar. Banyak yang bilang namanya unik juga,” bebernya.

Meski memiliki nama yang unik, harapan dari orang tua kepada ‘N’…Clio sangat sederhana. Bahkan seperti harapan orang tua pada umumnya. Pasutri itu kompak menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeha, bisa menjaga nama baik keluarga dan selalu diberi kesehatan. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru