alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Perjuangan Berat Peserta Ujian PPPK di Wonogiri

Mulai Ujian PPPK Perut Chintya Kontraksi, selesai Ujian Melahirkan

RADARSOLO.ID – Sudah mulai kerasa melahirkan, Chintya Kesuma Pratingkas nekat mengikuti tes seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru. Akhirnya, perempuan 27 tahun itu pun melahirkan usai tes. Seperti apa perjuangannya?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Senin kemarin (13/9), jam dinding menunjukkan tepat pukul 05.00 saat Chintya memakan sebungkus roti sebagai pengganjal perut. Roti itu bercitarasa cokelat dan terasa manis di lidahnya. Teh panas pun diteguknya perlahan. Hawa masih terasa dingin di rumahnya di Dusun Mlopo Desa Mlopoharjo Kecamatan Wuryantoro.

Segera setelah itu, dia diantarkan sang suami Dwi Cahyo Mulyawan, 26, ke salah satu klinik bidan di Kecamatan Wonogiri untuk memeriksakan kandungannya. Chintya sudah merasakan kontraksi sejak Sabtu (11/9) lalu. Perjalanan 30 menit dari rumah ke klinik itupun berjalan mulus.

Baju setelan putih hitam pun terlipat rapi dibawanya. Ya, Senin kemarin, dia dijadwalkan untuk mengikuti tes seleksi PPPK. Dia mendaftar formasi guru kelas di SD Negeri 1 Wuryantoro, tempatnya mengabdi sejak 2017 lalu.

“Sebelum tes memang sengaja periksa dulu di klinik. Soalnya istri saya sudah merasa kontraksi sebelumnya. Periksa dulu apa bisa ikut tes atau nggak,” kata sang suami di ujung telepon, Selasa (14/9).

Ternyata, Chintya sudah mengalami bukaan satu (awal proses melahirkan). Keduanya pun bertanya kepada petugas yang memeriksa kondisi Chintya, apakah masih memungkinkan atau tidak menjalani tes seleksi dengan kondisi seperti itu.

Sebagai informasi, Chintya bakal menjalani tes seleksi pada pukul 08.00 -10.50 di SMA Negeri 1 Wonogiri. Sementara itu, para peserta diwajibkan datang tepat pada pukul 07.00.

Ternyata, berdasarkan analisis petugas, Chintya masih bisa mengikuti tes seleksi dalam kurun waktu tersebut. Jika memang tanda-tanda melahirkan terlihat, dia pun bisa segera dirujuk di klinik itu yang tak jauh dari lokasi tes. Bergegaslah perempuan itu mengganti pakaiannya dengan setelan putih hitam di sebuah masjid.

Berkas-berkas yang diperlukan pun sudah disiapkan untuk registrasi. Termasuk juga hasil negatif rapid tes antigen yang dijalaninya pada malam sebelumnya. Saat registrasi, ternyata berdasarkan pertimbangan petugas sang suami diperbolehkan mendampingi sang istri. Meski hanya menunggu di luar ruangan tes, Cahyo pun cukup puas dengan kebijakan petugas.

“Akhirnya saya dampingi istri saya ke lantai tiga. Tesnya memang di lantai tiga. Petugasnya sangat baik, karena langsung koordinasi sama puskesmas. Ambulans juga langsung disiagakan di sana. Sampai saat ini juga petugas puskesmas masih menghubungi saya tanya-tanya kondisi istri saya,” papar Cahyo yang juga seorang ASN ini.

Sebenarnya peserta tes tidak diperkenankan keluar ruangan sebelum waktu tes selesai pada pukul 10.50. Namun, Chintya sudah selesai mengerjakan soal-soal pada pukul 10.00. Karena dalam kondisi khusus, Chintya akhirnya diperbolehkan meninggalkan ruangan tes lebih awal.

Chintya awalnya mengaku bimbang apakah akan tetap nekat mengikuti tes pada hari itu atau tidak. Kesempatan tidak datang dua kali, maka dia bertekad ikut tes.

“Saya waktu itu los saja. Suami bilang yang penting periksa dulu, Bismillah yang penting berkah. Setelah periksa, saya bilang ke anak saya, dek ikut ibu tes dulu ya. Sambil ngelus-elus perut,” kata Chintya.

Saat menjalani tes, dia juga berusaha fokus mengerjakan soal. Saat rasa sakit menyerangnya, dia beberapa kali izin untuk keluar ruang tes. Dengan dibawa berjalan rasa sakit itu berkurang.

Usahanya tidak sia-sia. Chintya dinyatakan lolos pada tahap seleksi uji kompetensi itu. Sebab hasilnya langsung bisa diketahui setelah tes selesai. Nilai yang didapatnya yakni materi manajerial dan sosial kultural mendapat skor 188, wawancara memperoleh skor 40 dan teknis mendapat skor 320. Pasangan itupun merasa bersyukur atas hasil itu.

Keduanya pun pulang ke Wuryantoro. Pukul 11.30 keduanya sudah tiba di rumahnya. Tidak berlama lama sang istri mengalami tanda-tanda melahirkan. Air ketubannya sudah pecah. Bergegaslah dibawa ke klinik yang pada pagi harinya disinggahi dan tiba pada pukul 12.30.

“Di sana menunggu sampai bukaan sepuluh, sampai pukul empat sore. Karena ada kendala, bayinya terlalu besar. Pukul lima sore dirujuk ke Rumah Sakit Mulia Hati Wonogiri. Akhirnya lahir lewat operasi caesar, malam pukul sembilan lebih sepuluh menit,” Jelas Cahyo.

Anak pertama pasangan itu berjenis kelamin perempuan. Kondisinya sehat dengan berat badan 2,9 kilogram dan tinggi badan 49 sentimeter. Bayi cantik itu diberi nama Inara Kamilia Bestari. Menurut sang ayah, nama itu memiliki arti anak perempuan yang selalu bertumbuh cerdas dan berbudi baik.

Alhamdulillah senang mas. Kayak dapat jackpot, rezekinya dobel ini. Mohon doanya lancar segala urusannya,” kata Chintya.

Sementara itu, Kabid Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri Retno Puspitorini juga membenarkan adanya peserta seleksi PPPK guru yang mengalami kontraksi saat sedang menjalani tes di SMAN 1 Wonogiri Senin lalu. Karena itu disiapkan tenaga medis dari puskesmas setempat. Selain itu, lokasi tes di SMA Negeri 1 Wonogiri juga berdekatan dengan rumah sakit.

“Saya terharu melihat perjuangannya sebagai ibu dan peserta tes. Suaminya sampai menunggui juga. Peserta tersebut lolos tahap itu,” kata dia. (*/bun)


RADARSOLO.ID – Sudah mulai kerasa melahirkan, Chintya Kesuma Pratingkas nekat mengikuti tes seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru. Akhirnya, perempuan 27 tahun itu pun melahirkan usai tes. Seperti apa perjuangannya?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Senin kemarin (13/9), jam dinding menunjukkan tepat pukul 05.00 saat Chintya memakan sebungkus roti sebagai pengganjal perut. Roti itu bercitarasa cokelat dan terasa manis di lidahnya. Teh panas pun diteguknya perlahan. Hawa masih terasa dingin di rumahnya di Dusun Mlopo Desa Mlopoharjo Kecamatan Wuryantoro.

Segera setelah itu, dia diantarkan sang suami Dwi Cahyo Mulyawan, 26, ke salah satu klinik bidan di Kecamatan Wonogiri untuk memeriksakan kandungannya. Chintya sudah merasakan kontraksi sejak Sabtu (11/9) lalu. Perjalanan 30 menit dari rumah ke klinik itupun berjalan mulus.

Baju setelan putih hitam pun terlipat rapi dibawanya. Ya, Senin kemarin, dia dijadwalkan untuk mengikuti tes seleksi PPPK. Dia mendaftar formasi guru kelas di SD Negeri 1 Wuryantoro, tempatnya mengabdi sejak 2017 lalu.

“Sebelum tes memang sengaja periksa dulu di klinik. Soalnya istri saya sudah merasa kontraksi sebelumnya. Periksa dulu apa bisa ikut tes atau nggak,” kata sang suami di ujung telepon, Selasa (14/9).

Ternyata, Chintya sudah mengalami bukaan satu (awal proses melahirkan). Keduanya pun bertanya kepada petugas yang memeriksa kondisi Chintya, apakah masih memungkinkan atau tidak menjalani tes seleksi dengan kondisi seperti itu.

Sebagai informasi, Chintya bakal menjalani tes seleksi pada pukul 08.00 -10.50 di SMA Negeri 1 Wonogiri. Sementara itu, para peserta diwajibkan datang tepat pada pukul 07.00.

Ternyata, berdasarkan analisis petugas, Chintya masih bisa mengikuti tes seleksi dalam kurun waktu tersebut. Jika memang tanda-tanda melahirkan terlihat, dia pun bisa segera dirujuk di klinik itu yang tak jauh dari lokasi tes. Bergegaslah perempuan itu mengganti pakaiannya dengan setelan putih hitam di sebuah masjid.

Berkas-berkas yang diperlukan pun sudah disiapkan untuk registrasi. Termasuk juga hasil negatif rapid tes antigen yang dijalaninya pada malam sebelumnya. Saat registrasi, ternyata berdasarkan pertimbangan petugas sang suami diperbolehkan mendampingi sang istri. Meski hanya menunggu di luar ruangan tes, Cahyo pun cukup puas dengan kebijakan petugas.

“Akhirnya saya dampingi istri saya ke lantai tiga. Tesnya memang di lantai tiga. Petugasnya sangat baik, karena langsung koordinasi sama puskesmas. Ambulans juga langsung disiagakan di sana. Sampai saat ini juga petugas puskesmas masih menghubungi saya tanya-tanya kondisi istri saya,” papar Cahyo yang juga seorang ASN ini.

Sebenarnya peserta tes tidak diperkenankan keluar ruangan sebelum waktu tes selesai pada pukul 10.50. Namun, Chintya sudah selesai mengerjakan soal-soal pada pukul 10.00. Karena dalam kondisi khusus, Chintya akhirnya diperbolehkan meninggalkan ruangan tes lebih awal.

Chintya awalnya mengaku bimbang apakah akan tetap nekat mengikuti tes pada hari itu atau tidak. Kesempatan tidak datang dua kali, maka dia bertekad ikut tes.

“Saya waktu itu los saja. Suami bilang yang penting periksa dulu, Bismillah yang penting berkah. Setelah periksa, saya bilang ke anak saya, dek ikut ibu tes dulu ya. Sambil ngelus-elus perut,” kata Chintya.

Saat menjalani tes, dia juga berusaha fokus mengerjakan soal. Saat rasa sakit menyerangnya, dia beberapa kali izin untuk keluar ruang tes. Dengan dibawa berjalan rasa sakit itu berkurang.

Usahanya tidak sia-sia. Chintya dinyatakan lolos pada tahap seleksi uji kompetensi itu. Sebab hasilnya langsung bisa diketahui setelah tes selesai. Nilai yang didapatnya yakni materi manajerial dan sosial kultural mendapat skor 188, wawancara memperoleh skor 40 dan teknis mendapat skor 320. Pasangan itupun merasa bersyukur atas hasil itu.

Keduanya pun pulang ke Wuryantoro. Pukul 11.30 keduanya sudah tiba di rumahnya. Tidak berlama lama sang istri mengalami tanda-tanda melahirkan. Air ketubannya sudah pecah. Bergegaslah dibawa ke klinik yang pada pagi harinya disinggahi dan tiba pada pukul 12.30.

“Di sana menunggu sampai bukaan sepuluh, sampai pukul empat sore. Karena ada kendala, bayinya terlalu besar. Pukul lima sore dirujuk ke Rumah Sakit Mulia Hati Wonogiri. Akhirnya lahir lewat operasi caesar, malam pukul sembilan lebih sepuluh menit,” Jelas Cahyo.

Anak pertama pasangan itu berjenis kelamin perempuan. Kondisinya sehat dengan berat badan 2,9 kilogram dan tinggi badan 49 sentimeter. Bayi cantik itu diberi nama Inara Kamilia Bestari. Menurut sang ayah, nama itu memiliki arti anak perempuan yang selalu bertumbuh cerdas dan berbudi baik.

Alhamdulillah senang mas. Kayak dapat jackpot, rezekinya dobel ini. Mohon doanya lancar segala urusannya,” kata Chintya.

Sementara itu, Kabid Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri Retno Puspitorini juga membenarkan adanya peserta seleksi PPPK guru yang mengalami kontraksi saat sedang menjalani tes di SMAN 1 Wonogiri Senin lalu. Karena itu disiapkan tenaga medis dari puskesmas setempat. Selain itu, lokasi tes di SMA Negeri 1 Wonogiri juga berdekatan dengan rumah sakit.

“Saya terharu melihat perjuangannya sebagai ibu dan peserta tes. Suaminya sampai menunggui juga. Peserta tersebut lolos tahap itu,” kata dia. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru