alexametrics
29 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Rela Izin Kerja, Tak Bisa Tidur Nyenyak

Kisah Para Orang Tua yang Berjuang demi Sekolah Anak

RADARSOLO.ID – Berbagai cara dilakukan para orang tua demi masa depan anak. Ibaratnya mereka rela jungkir balik agar anaknya bisa diterima di sekolah yang diinginkan. Nah, potret ini juga terjadi selama PPDB jalur afirmasi SMP di Kota Solo yang berakhir kemarin.

SEPTIAN REVFINDA, Solo, Radar Solo

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00. Lobi Kantor Dinas Pendidikan Kota Surakarta di Jalan DI Panjaitan, Stabelan, Banjarsari, sudah penuh sesak orang tua dan calon siswa. Mereka menunggu dengan penuh perasaan campur aduk antara kekhawatiran dan ketidakpastian.

Para orang tua calon siswa ini rela bolak-balik mengurus semu keperluan PPDB untuk anaknya. Tak bisa dipungkiri, PPDB online menjadi momok paling mengkawatirkan bagi wali murid. Sebab, informasi dituntut lebih cepat dan berkas harus benar-benar valid agar bisa diterima sistem. Salah sedikit saja bisa ambyar.

Asih Ripasih misalnya. Salah satu wali murid dari Kelurahan Mojosongo ini berencana mendaftarkan anaknya di SD Negeri Mojosongo II melalui jalur afirmasi. Dia mengaku sudah sejak hari pertama dibukanya PPDB jalur afirmasi, tak bisa makan dan tidur dengan tenang. Dia khawatir jika anaknya tak bisa masuk sekolah negeri.

“Hampir dua hari saya itu tidak tidur, ngurus berkas-berkas PPDB ini. Karena ada kesalahan input data dari pihak sekolah, jadi saya harus mengurus semuanya sendiri, wira-wiri sana-sini sendiri,” ujarnya

Ironisnya Asih harus menerima kenyataan pahit. Di hari terakhir PPDB jalur afirmasi kemarin anaknya tak lolos. Dengan berat hati, Asih akan mencoba mendaftarkan anaknya melalui jalur zonasi agar dapat masuk ke sekolah negeri.

Bagi dia dan anaknya, masuk sekolah negeri menjadi tujuaan utama. Sebab, dari jarak rumah ke sekolah sekolah cukup dekat. Dari segi biaya, sekolah negeri juga jauh lebih terjangkau.

“Kalau swasta saya ndak mampu. Makanya kalau bisa masuk negeri saja. Apalagi anak saya itu dua. Satu sudah masuk SMP negeri yang satu ini semoga juga bisa masuk SD negeri,” ungkapnya.

Kekhawatiran serupa juga dialami Murniati, wali murid dari Kadipiro, Banjarsari yang ingin mendaftrankan anaknya melalui jalur afirmasi. Dia hari terakhir PPDB jalur afirmasi, dia masih mengalami kendala salah alamat. Alamat dalam web PPDB masih tertera di alamat yang lama.

“Setelah saya masukkan NIK yang muncul alamat yang lama, padahal di KK sudah berubah karena ada pemekaran tahun lalu. Ini mau ngurus itu, karena kemarin sudah terlanjur bikin akun,” ungkapnya.

Murniati juga berharap anaknya juga dapat masuk melalui jalur afirmasi ke sekolah negeri. Sebab, dia juga tak sanggup untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta karena terkendala biaya mahal.

“Terpenting bisa masuk negeri dulu. Kalau bisa tidak usah di swasta. Kami ini orang susah, kalau di suruh masuk swasta kami tidak sanggup,” ungkapnya.

Bahkan ada wali murid yang rela tak bekerja demi mengurus berkas PPDB anaknya pada hari terakhir PPDB jalur afirmasi. Sebab, itu akan menjadi penentu anaknya bisa masuk sekolah negeri atau tidak.

“Sebenarnya hari ini (kemarin), saya harus kerja. Tapi karena mau mengurus berkas PPDB ini saya izin dulu sehari,” ujar Santoso, salah seoraqng wali murid asal Banjarsari.

Koordinator PPDB Disdik Kota Surakarta Abi Satoto mengatakan, momentum PPDB memang menjadi hal istimewa bagi orang tua. Tak sedikit orang tua yang rela berkorban apapun demi pendidikan anaknya. Khawatir dan panik sering terjadi saat proses PPDB.

“Pasti ada saja itu yang dikhawatirkan orang tua. Mulai dari takut jika anaknya tidak dapat sekolah, atau takut jika tidak bisa masuk sekolah tujuannya, setiap tahun pasti ada,” ungkapnya. (*/bun) 

RADARSOLO.ID – Berbagai cara dilakukan para orang tua demi masa depan anak. Ibaratnya mereka rela jungkir balik agar anaknya bisa diterima di sekolah yang diinginkan. Nah, potret ini juga terjadi selama PPDB jalur afirmasi SMP di Kota Solo yang berakhir kemarin.

SEPTIAN REVFINDA, Solo, Radar Solo

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00. Lobi Kantor Dinas Pendidikan Kota Surakarta di Jalan DI Panjaitan, Stabelan, Banjarsari, sudah penuh sesak orang tua dan calon siswa. Mereka menunggu dengan penuh perasaan campur aduk antara kekhawatiran dan ketidakpastian.

Para orang tua calon siswa ini rela bolak-balik mengurus semu keperluan PPDB untuk anaknya. Tak bisa dipungkiri, PPDB online menjadi momok paling mengkawatirkan bagi wali murid. Sebab, informasi dituntut lebih cepat dan berkas harus benar-benar valid agar bisa diterima sistem. Salah sedikit saja bisa ambyar.

Asih Ripasih misalnya. Salah satu wali murid dari Kelurahan Mojosongo ini berencana mendaftarkan anaknya di SD Negeri Mojosongo II melalui jalur afirmasi. Dia mengaku sudah sejak hari pertama dibukanya PPDB jalur afirmasi, tak bisa makan dan tidur dengan tenang. Dia khawatir jika anaknya tak bisa masuk sekolah negeri.

“Hampir dua hari saya itu tidak tidur, ngurus berkas-berkas PPDB ini. Karena ada kesalahan input data dari pihak sekolah, jadi saya harus mengurus semuanya sendiri, wira-wiri sana-sini sendiri,” ujarnya

Ironisnya Asih harus menerima kenyataan pahit. Di hari terakhir PPDB jalur afirmasi kemarin anaknya tak lolos. Dengan berat hati, Asih akan mencoba mendaftarkan anaknya melalui jalur zonasi agar dapat masuk ke sekolah negeri.

Bagi dia dan anaknya, masuk sekolah negeri menjadi tujuaan utama. Sebab, dari jarak rumah ke sekolah sekolah cukup dekat. Dari segi biaya, sekolah negeri juga jauh lebih terjangkau.

“Kalau swasta saya ndak mampu. Makanya kalau bisa masuk negeri saja. Apalagi anak saya itu dua. Satu sudah masuk SMP negeri yang satu ini semoga juga bisa masuk SD negeri,” ungkapnya.

Kekhawatiran serupa juga dialami Murniati, wali murid dari Kadipiro, Banjarsari yang ingin mendaftrankan anaknya melalui jalur afirmasi. Dia hari terakhir PPDB jalur afirmasi, dia masih mengalami kendala salah alamat. Alamat dalam web PPDB masih tertera di alamat yang lama.

“Setelah saya masukkan NIK yang muncul alamat yang lama, padahal di KK sudah berubah karena ada pemekaran tahun lalu. Ini mau ngurus itu, karena kemarin sudah terlanjur bikin akun,” ungkapnya.

Murniati juga berharap anaknya juga dapat masuk melalui jalur afirmasi ke sekolah negeri. Sebab, dia juga tak sanggup untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta karena terkendala biaya mahal.

“Terpenting bisa masuk negeri dulu. Kalau bisa tidak usah di swasta. Kami ini orang susah, kalau di suruh masuk swasta kami tidak sanggup,” ungkapnya.

Bahkan ada wali murid yang rela tak bekerja demi mengurus berkas PPDB anaknya pada hari terakhir PPDB jalur afirmasi. Sebab, itu akan menjadi penentu anaknya bisa masuk sekolah negeri atau tidak.

“Sebenarnya hari ini (kemarin), saya harus kerja. Tapi karena mau mengurus berkas PPDB ini saya izin dulu sehari,” ujar Santoso, salah seoraqng wali murid asal Banjarsari.

Koordinator PPDB Disdik Kota Surakarta Abi Satoto mengatakan, momentum PPDB memang menjadi hal istimewa bagi orang tua. Tak sedikit orang tua yang rela berkorban apapun demi pendidikan anaknya. Khawatir dan panik sering terjadi saat proses PPDB.

“Pasti ada saja itu yang dikhawatirkan orang tua. Mulai dari takut jika anaknya tidak dapat sekolah, atau takut jika tidak bisa masuk sekolah tujuannya, setiap tahun pasti ada,” ungkapnya. (*/bun) 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/