alexametrics
29 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Santri dari Berbagai Daerah, Ajak Warga Berbait ke Jamaah

Keseharian Aktivitas Kelompok Diduga Jamaah Khilafatul Muslimin

RADARSOLO.ID – Keberadaan lembaga pendidikan yang diduga berafiliasi dengan kelompok Khilafatul Muslimin di Dusun Jaten, Desa Wonokerto, Wonogiri Kota, menjadi sorotan setelah tujuh guru dan pengasuh ditetapkan sebagai tersangka. Seperti apa keseharian kegiatan mereka?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Kamis siang sekitar pukul 11.45, di sekitar area lembaga pendidikan itu terdapat sejumlah spanduk yang berisi penolakan Khilafatul Muslimin. Diketahui, spanduk-spanduk itu dipasang oleh warga Dusun Jaten.

Di jalan masuk menuju rumah yang digunakan untuk lembaga pendidikan itu juga dipasang spanduk bernada serupa. Selain itu, jalan masuk itu juga ditutup menggunakan bambu.

Sejumlah bangunan berdiri di lahan dengan luas sekitar 2.000 meter persegi itu. Ada pula sejumlah petak kebun di area sekolah tersebut. Sementara itu, sisi luar seluruh bangunan dipasangi dengan garis polisi. Pantauan koran ini, tak ada aktivitas apapun di area itu selain sejumlah awak media yang meliput.

Kepala Desa Wonokerto, Kecamatan Wonogiri Kota, Suyanto mengatakan, rumah yang digunakan untuk sekolah itu adalah milik R warga setempat. Diketahui, awalnya tanah itu milik orang tua R hingga akhirnya dibeli dan digunakan kelompok Khilafatul Muslimin.

“Awalnya R ini merantau ke Jakarta. Balik sekitar 2010 lalu,” kata dia.

Diketahui, saat itu R sering bolak-balik ke luar daerah. Dia diketahui bekerja sebagai fotografer di salah satu objek wisata terkenal di Wonogiri. Lalu, pada 2014 lalu R dan anggota kelompoknya menggelar pengajian di masjid setempat dan diikuti warga sekitar. Sebelum menggelar pengajian, R meminta izin kepada ketua RT dan kepala dusun (kadus) setempat.

Lampu hijau diperoleh karena saat itu warga belum mengetahui tentang Khilafatul Muslimin. Lalu, kata Suyanto, saat pengajian itu warga merasa aneh dan curiga dengan isi pengajian yang dirasa ada kejanggalan.

“Kalau inti isi pengajian itu mengajak warga untuk berbaiat kepada amir Khilafatul Muslimin jika ingin hidup selamat,” kata Suyanto.

Usai pengajian itu, warga mempertanyakan ajaran yang disampaikan oleh kelompok R. Apalagi interaksi R dan kelompoknya dengan warga setempat sangat minim.

Tak dipungkiri saat itu ada upaya ajakan yang dilakukan agar warga bjsa bergabung dengan kelompok tersebut. Namun, tak ada warga setempat yang ikut bergabung. Warga berusaha menahan diri dengan adanya hal tersebut.

Kadus Jaten Priyatno menuturkan, pada 2016 lalu R dan kelompoknya kembali menggelar pengajian dengan lokasi di rumah R. Menurut dia, pengajian diikuti seratusan orang.

“Didominasi kelompoknya dari luar daerah. Warga sini ada beberapa ikut tapi karena mereka juga belum paham juga,” kata dia.

Bahkan saat itu tokoh sentral Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Baraja disebut-sebut datang ke Dusun Jaten. Hanya saja, mata Priyatno, pihaknya saat itu tak mengetahui siapa orang tersebut. Dia mengetahui bahwa Abdul Qadir Baraja adalah pimpinan kelompok Khilafatul Muslimin belum lama ini.

Sementara itu, diketahui pada Februari 2021 lalu R dan kelompoknya mendirikan lembaga pendidikan di rumah tersebut. Itupun mendapat penolakan dari warga setempat.

Setelah itu, kelompok itu mengajukan izin kepada pihak desa terkait pendirian lembaga pendidikan itu. Namun pihak desa menjelaskan bahwa tak bisa memberikan izin karena tak memiliki wewenang penuh. Namun, pembangunan tetap dilakukan di bagian belakang rumah utama. Masyarakat mulai resah.

“Sebab pada 2014 lalu masyarakat sudah mengetahui isi pengajiannya. Tapi kok nekat. Saya kira itu mau bikin rumah, tapi ternyata seperti itu akhirnya saya matur Pak Polo (lapor ke kepala desa, Red),” kata Priyatno

Priyatno menuturkan, awalnya ada empat murid yang menimba ilmu di sekolah itu. Berjalannya waktu, jumlah murid disana mencapai 15 orang baik laki-laki dan perempuan. Diketahui, belasan murid itu berasal dari luar Wonogiri, misalnya Klaten, Sukoharjo, Jepara dan lain sebagainya.

“Sementara gurunya ada tujuh orang. Ada yang memasak dan tukang kebun masing-masing satu orang. Itu dari kelompok mereka dan dari luar Wonogiri semua,” papar dia.

Sekitar Juni 2021 lalu warga setempat makin kesal. Menurut kadus, saat itu banyak warga yang kemudian membuat tulisan anti kelompok itu. Hal itu berusaha diviralkan di media sosial. Setelah itu, dilakukan mediasi yang dipimpin forkompimcam untuk menenangkan warga. Namun akhirnya kegiatan masih berjalan hingga akhirnya kini sudah dilakukan tindakan oleh penegak hukum. Warga pun menyambut baik langkah yang diambil kepolisian.

Salah satu warga setempat Sutrisno, 55, mengaku tak mengenal satu pun orang yang ada di sekolah milik Khilafatul Muslimin itu. Menurut dia, orang-orang yang ada di sekolah tersebut tak pernah berinteraksi dengan warga.

“Orang-orangnya tertutup, jadi tidak kenal siapa orangnya. Begitu juga dengan anak-anak yang disana,” kata dia.

Menurut Sutrisno, warga setempat sempat diajak untuk bergabung dengan sejumlah kegiatan disana. Namun, dia sendiri tak berani ikut kegiatan tersebut.

Sementara itu, dia mengaku senang dengan penutupan sekolah tersebut. “Semua warga tidak sepakat dengan ajaran di sana,” kata dia.

Ketua RT setempat Rudiyanto juga mengaku pernah mendatangi pengajian yang digelar kelompok tersebut 2016 silam. Sepengakuan dia, saat pengajian dilakukan ada materi yang menurut dia aneh.

“Katanya kalau tidak mau dibaiat, nanti mati dalam kegelapan atau mati jahiliyah. Walaupun selama hidup salat, puasa, beramal, haji, umrah dan lain-lain nanti mati dalam kegelapan jahiliyah kalau tidak baiat, kata pengisi pengajiannya seperti itu, ketuanya atau siapa saya tidak kenal,” papar dia.

Saat itu, warga mengira pengajian yang digelar hanya pengajian biasa. Keanehan mulai muncul saat membahas kewajiban baiat. Bahkan, kata dia, saat ada warga yang bertanya malah dibentak dan diberi ketegasan jika tidak dibaiat maka akan mati dalam kegelapan.

Disinggung soal aktivitas di sekolah tersebut ketika masih beroperasi, Rudiyanto menuturkan, sehari-hari biasanya para siswa mengaji hingga berolahraga. Terkadang, siswa juga diajak jalan-jalan ke sawah di sekitar wilayah tersebut.

Dia juga menyebut sosok R maupun orang di sekolah tersebut jarang bersosialisasi dengan warga setempat. Menurut dia, itu juga yang membuat warga sekitar takut dan enggan memasuki area sekolah tersebut.

“Warga memang tidak mau ada lembaga pendidikan ini. Sudah memberi pernyataan kepada pihak terkait juga. Setelah ini dibubarkan, warga juga langsung memasang spanduk di sini, saya juga ikut waktu itu. Banyak warga yang ikut,”  kata dia. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Keberadaan lembaga pendidikan yang diduga berafiliasi dengan kelompok Khilafatul Muslimin di Dusun Jaten, Desa Wonokerto, Wonogiri Kota, menjadi sorotan setelah tujuh guru dan pengasuh ditetapkan sebagai tersangka. Seperti apa keseharian kegiatan mereka?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Kamis siang sekitar pukul 11.45, di sekitar area lembaga pendidikan itu terdapat sejumlah spanduk yang berisi penolakan Khilafatul Muslimin. Diketahui, spanduk-spanduk itu dipasang oleh warga Dusun Jaten.

Di jalan masuk menuju rumah yang digunakan untuk lembaga pendidikan itu juga dipasang spanduk bernada serupa. Selain itu, jalan masuk itu juga ditutup menggunakan bambu.

Sejumlah bangunan berdiri di lahan dengan luas sekitar 2.000 meter persegi itu. Ada pula sejumlah petak kebun di area sekolah tersebut. Sementara itu, sisi luar seluruh bangunan dipasangi dengan garis polisi. Pantauan koran ini, tak ada aktivitas apapun di area itu selain sejumlah awak media yang meliput.

Kepala Desa Wonokerto, Kecamatan Wonogiri Kota, Suyanto mengatakan, rumah yang digunakan untuk sekolah itu adalah milik R warga setempat. Diketahui, awalnya tanah itu milik orang tua R hingga akhirnya dibeli dan digunakan kelompok Khilafatul Muslimin.

“Awalnya R ini merantau ke Jakarta. Balik sekitar 2010 lalu,” kata dia.

Diketahui, saat itu R sering bolak-balik ke luar daerah. Dia diketahui bekerja sebagai fotografer di salah satu objek wisata terkenal di Wonogiri. Lalu, pada 2014 lalu R dan anggota kelompoknya menggelar pengajian di masjid setempat dan diikuti warga sekitar. Sebelum menggelar pengajian, R meminta izin kepada ketua RT dan kepala dusun (kadus) setempat.

Lampu hijau diperoleh karena saat itu warga belum mengetahui tentang Khilafatul Muslimin. Lalu, kata Suyanto, saat pengajian itu warga merasa aneh dan curiga dengan isi pengajian yang dirasa ada kejanggalan.

“Kalau inti isi pengajian itu mengajak warga untuk berbaiat kepada amir Khilafatul Muslimin jika ingin hidup selamat,” kata Suyanto.

Usai pengajian itu, warga mempertanyakan ajaran yang disampaikan oleh kelompok R. Apalagi interaksi R dan kelompoknya dengan warga setempat sangat minim.

Tak dipungkiri saat itu ada upaya ajakan yang dilakukan agar warga bjsa bergabung dengan kelompok tersebut. Namun, tak ada warga setempat yang ikut bergabung. Warga berusaha menahan diri dengan adanya hal tersebut.

Kadus Jaten Priyatno menuturkan, pada 2016 lalu R dan kelompoknya kembali menggelar pengajian dengan lokasi di rumah R. Menurut dia, pengajian diikuti seratusan orang.

“Didominasi kelompoknya dari luar daerah. Warga sini ada beberapa ikut tapi karena mereka juga belum paham juga,” kata dia.

Bahkan saat itu tokoh sentral Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Baraja disebut-sebut datang ke Dusun Jaten. Hanya saja, mata Priyatno, pihaknya saat itu tak mengetahui siapa orang tersebut. Dia mengetahui bahwa Abdul Qadir Baraja adalah pimpinan kelompok Khilafatul Muslimin belum lama ini.

Sementara itu, diketahui pada Februari 2021 lalu R dan kelompoknya mendirikan lembaga pendidikan di rumah tersebut. Itupun mendapat penolakan dari warga setempat.

Setelah itu, kelompok itu mengajukan izin kepada pihak desa terkait pendirian lembaga pendidikan itu. Namun pihak desa menjelaskan bahwa tak bisa memberikan izin karena tak memiliki wewenang penuh. Namun, pembangunan tetap dilakukan di bagian belakang rumah utama. Masyarakat mulai resah.

“Sebab pada 2014 lalu masyarakat sudah mengetahui isi pengajiannya. Tapi kok nekat. Saya kira itu mau bikin rumah, tapi ternyata seperti itu akhirnya saya matur Pak Polo (lapor ke kepala desa, Red),” kata Priyatno

Priyatno menuturkan, awalnya ada empat murid yang menimba ilmu di sekolah itu. Berjalannya waktu, jumlah murid disana mencapai 15 orang baik laki-laki dan perempuan. Diketahui, belasan murid itu berasal dari luar Wonogiri, misalnya Klaten, Sukoharjo, Jepara dan lain sebagainya.

“Sementara gurunya ada tujuh orang. Ada yang memasak dan tukang kebun masing-masing satu orang. Itu dari kelompok mereka dan dari luar Wonogiri semua,” papar dia.

Sekitar Juni 2021 lalu warga setempat makin kesal. Menurut kadus, saat itu banyak warga yang kemudian membuat tulisan anti kelompok itu. Hal itu berusaha diviralkan di media sosial. Setelah itu, dilakukan mediasi yang dipimpin forkompimcam untuk menenangkan warga. Namun akhirnya kegiatan masih berjalan hingga akhirnya kini sudah dilakukan tindakan oleh penegak hukum. Warga pun menyambut baik langkah yang diambil kepolisian.

Salah satu warga setempat Sutrisno, 55, mengaku tak mengenal satu pun orang yang ada di sekolah milik Khilafatul Muslimin itu. Menurut dia, orang-orang yang ada di sekolah tersebut tak pernah berinteraksi dengan warga.

“Orang-orangnya tertutup, jadi tidak kenal siapa orangnya. Begitu juga dengan anak-anak yang disana,” kata dia.

Menurut Sutrisno, warga setempat sempat diajak untuk bergabung dengan sejumlah kegiatan disana. Namun, dia sendiri tak berani ikut kegiatan tersebut.

Sementara itu, dia mengaku senang dengan penutupan sekolah tersebut. “Semua warga tidak sepakat dengan ajaran di sana,” kata dia.

Ketua RT setempat Rudiyanto juga mengaku pernah mendatangi pengajian yang digelar kelompok tersebut 2016 silam. Sepengakuan dia, saat pengajian dilakukan ada materi yang menurut dia aneh.

“Katanya kalau tidak mau dibaiat, nanti mati dalam kegelapan atau mati jahiliyah. Walaupun selama hidup salat, puasa, beramal, haji, umrah dan lain-lain nanti mati dalam kegelapan jahiliyah kalau tidak baiat, kata pengisi pengajiannya seperti itu, ketuanya atau siapa saya tidak kenal,” papar dia.

Saat itu, warga mengira pengajian yang digelar hanya pengajian biasa. Keanehan mulai muncul saat membahas kewajiban baiat. Bahkan, kata dia, saat ada warga yang bertanya malah dibentak dan diberi ketegasan jika tidak dibaiat maka akan mati dalam kegelapan.

Disinggung soal aktivitas di sekolah tersebut ketika masih beroperasi, Rudiyanto menuturkan, sehari-hari biasanya para siswa mengaji hingga berolahraga. Terkadang, siswa juga diajak jalan-jalan ke sawah di sekitar wilayah tersebut.

Dia juga menyebut sosok R maupun orang di sekolah tersebut jarang bersosialisasi dengan warga setempat. Menurut dia, itu juga yang membuat warga sekitar takut dan enggan memasuki area sekolah tersebut.

“Warga memang tidak mau ada lembaga pendidikan ini. Sudah memberi pernyataan kepada pihak terkait juga. Setelah ini dibubarkan, warga juga langsung memasang spanduk di sini, saya juga ikut waktu itu. Banyak warga yang ikut,”  kata dia. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/