alexametrics
23.4 C
Surakarta
Friday, 8 July 2022

Dilengkapi Sensor Pengukur Kadar Oksigen, Pantau via Smartphone 

Inovasi Helm Khusus Bantu Pernapasan Pasien Covid-19

RADARSOLO.ID – Meski angka kasus positif Covid-19 mulai melandai. Namun pandemi masih belum usai. Tak ingin lengah menghadapi pagebluk ini, sekelompok mahasiswa ini menciptakan helm khusus untuk membantu pernapasan pasien Corona.

SEPTINA FADIA PUTRI, Radar Solo, Solo

Pasien Covid-19 bergejala sedang sampai berat rawan berhadapan dengan gangguan pernapasan. Biasanya, pasien yang merasakan gangguan tersebut segera dirujuk ke rumah sakit. Alhasil, tidak sedikit rumah sakit yang kehabisan alat bantu pernapasan nonivasif. Imbas lonjakan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit.

“Melihat fenomena itu, kami berinisiatif menciptakan suatu terobosan alat bantu medis pernapasan. Bentuknya helm. Namanya, continuous positive airway pressure (CPAP) berbasis IoT. Alat ini harapannya dapat memudahkan tenaga medis menangani pasien Covid-19. Sekaligus mengatasi kurangnya alat bantu pernapasan pasien Covid-19 di Indonesia,” ungkap mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Rizqi Husain Alfathan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Husain, sapaan akrabnya, bersama mahasiswa lainnya, Bioma Cakrawala, Muhammad Dzaky Musyaffa, Azzahra Fadhlila Aulia Nisa, dan Rani Dwi Larasati dalam membuat inovasi ini. Helm CPAP adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk mempertahankan tekanan positif pada saluran napas neonates selama pernafasan spontan.

“Helm CPAP ini sudah banyak diteliti oleh berbagai pihak. Tapi masih banyak kekurangannya. Maka, saya dan tim memiliki suatu inovasi untuk membuat helm CPAP yang dilengkapi sensor oksigen, sensor MAX 30102, dan sudah berbasis Internet of Things (IoT),” bebernya.

Mengapa harus dilengkapi oleh sensor oksigen? Husain menjelaskan, ini berguna untuk mengukur kadar oksigen yang masuk ke dalam antarmuka helm CPAP. Sedangkan fungsi dari sensor MAX 30102 yang ditambahkan dalam alat ini untuk mengukur kadar oksigen atau saturasi oksigen yang tersimpan di dalam darah pasien. Alat ini dibuat berbasis IoT. Sehingga penggunaan alat ini cukup mudah.

“Dapat meringankan beban dari tim medis agar tidak selalu mengecek kadar oksigen yang terdapat dalam tubuh pasien. Karena tim medis dapat memantau kadar oksigen yang terkandung dalam darah pasien lewat smartphone,” sambungnya.

Penggunaan alat ini sangat mudah. Pertama, pasangkan dan kaitkan helm CPAP pada tubuh pasien. Kemudian, pasangkan rangkaian saluran output ke helm CPAP. Selanjutnya, hubungkan kotak micro controller ke sensor oksigen. Terakhir, hubungkan micro controller ke smartphone melalui bluetooth.

“Ada beberapa keunggulan helm CPAP buatan kami. Alat ini dapat di-assembly dan maintenance dengan mudah dan cepat. Alat ini juga dapat digunakan berkali-kali dengan mensterilkan komponen CPAP. Kecuali pada tabung CPAP dan perekan leher pasien. Harus diganti saat digunakan kembali. Terpenting, alat ini berbasis IoT,” jelasnya.

Husain dan tim membuat alat ini berbahan plastik polypropylene 30 centimeter (cm) x 85 cm untuk pembuatan tabung. PLA filament untuk proses 3D printing komponen helm CPAP. Nylon 2,2 cm untuk pembuatan saluran input dan output helm CPAP. Sementara rangkaian mikrokontroler menggunakan sensor oksigen OOM202, Arduino Nano, ADS1115, HC 05, baterai 18650, dan kabel jumper.

“Proses pembuatannya, diawali dengan membuat sketsa atau gambaran kasar mengenai alat ini. Setelah mendapatkan sketsanya lalu kami mulai mendesain alat ini menggunakan software 3D engineering drawing. Setelah itu, dilakukan pengujian analisa aliran fluida dengan metode computational fluid dynamics (CFD). Desain alat ini dilakukan berulang kali untuk memperbaiki masuknya aliran oksigen ke dalam helm CPAP,” terangnya.

Desain helm CPAP buatan Husain dkk diklaim telah disederhanakan menjadi tiga bagian. Terdiri dari tabung, saluran input, dan saluran output. Kemudian dilengkapi dengan sensor oksigen oom202 dan sensor saturasi oksigen max3010. Letaknya pada bagian luar helm CPAP. Sedangkan untuk mengubah sinyal analog ke digital, dibuat suatu rangkaian controller. Terdiri dari Arduino nano, modul HC05, dan ADS1115.

“Aplikasi yang kami buat ini memanfaatkan bantuan modul bluetooth HC-05. Kami pasangkan di helm CPAP yang nantinya alat tersebut akan digunakan oleh pasien. Lalu tim medis dapat mengontrol keadaan saturasi oksigen pasien dan kadar oksigen pada antarmuka helm CPAP melalui aplikasi pada ponsel,” imbuhnya.

Salah seorang anggota tim yang berasal dari Fakultas Kedokteran UNS Azzahra Fadhlila Aulia Nisa menyebut ada beberapa fitur aplikasi yang ditawarkan alat ini. Selain mampu memantau kadar oksigen pada antarmuka helm CPAP. Alat ini juga mampu memantau kadar oksigen pada darah pasien.

“Aplikasi yang kami buat ini juga memiliki keunggulan. Bisa digunakan oleh siapapun. Tidak menggunakan internet. Tidak memakan banyak internet. Dan mampu memonitoring helm CPAP dan darah pasien secara real time,” lanjutnya.

Zahra mengklaim pembuatan helm CPAP ini sudah memenuhi standar kesehatan. Alat ini sudah dilakukan beberapa kali simulasi dan hasilnya tekanan yang dihasilkan oleh helm CPAP sudah melebihi nilai klinis.

Semoga alat ini dapat direalisasikan sebagai alat bantu pernapasan. Untuk membantu mengatasi permasalahan pasien Covid-19 saat ini,” ujarnya. (aya/bun/dam)

RADARSOLO.ID – Meski angka kasus positif Covid-19 mulai melandai. Namun pandemi masih belum usai. Tak ingin lengah menghadapi pagebluk ini, sekelompok mahasiswa ini menciptakan helm khusus untuk membantu pernapasan pasien Corona.

SEPTINA FADIA PUTRI, Radar Solo, Solo

Pasien Covid-19 bergejala sedang sampai berat rawan berhadapan dengan gangguan pernapasan. Biasanya, pasien yang merasakan gangguan tersebut segera dirujuk ke rumah sakit. Alhasil, tidak sedikit rumah sakit yang kehabisan alat bantu pernapasan nonivasif. Imbas lonjakan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit.

“Melihat fenomena itu, kami berinisiatif menciptakan suatu terobosan alat bantu medis pernapasan. Bentuknya helm. Namanya, continuous positive airway pressure (CPAP) berbasis IoT. Alat ini harapannya dapat memudahkan tenaga medis menangani pasien Covid-19. Sekaligus mengatasi kurangnya alat bantu pernapasan pasien Covid-19 di Indonesia,” ungkap mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Rizqi Husain Alfathan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Husain, sapaan akrabnya, bersama mahasiswa lainnya, Bioma Cakrawala, Muhammad Dzaky Musyaffa, Azzahra Fadhlila Aulia Nisa, dan Rani Dwi Larasati dalam membuat inovasi ini. Helm CPAP adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk mempertahankan tekanan positif pada saluran napas neonates selama pernafasan spontan.

“Helm CPAP ini sudah banyak diteliti oleh berbagai pihak. Tapi masih banyak kekurangannya. Maka, saya dan tim memiliki suatu inovasi untuk membuat helm CPAP yang dilengkapi sensor oksigen, sensor MAX 30102, dan sudah berbasis Internet of Things (IoT),” bebernya.

Mengapa harus dilengkapi oleh sensor oksigen? Husain menjelaskan, ini berguna untuk mengukur kadar oksigen yang masuk ke dalam antarmuka helm CPAP. Sedangkan fungsi dari sensor MAX 30102 yang ditambahkan dalam alat ini untuk mengukur kadar oksigen atau saturasi oksigen yang tersimpan di dalam darah pasien. Alat ini dibuat berbasis IoT. Sehingga penggunaan alat ini cukup mudah.

“Dapat meringankan beban dari tim medis agar tidak selalu mengecek kadar oksigen yang terdapat dalam tubuh pasien. Karena tim medis dapat memantau kadar oksigen yang terkandung dalam darah pasien lewat smartphone,” sambungnya.

Penggunaan alat ini sangat mudah. Pertama, pasangkan dan kaitkan helm CPAP pada tubuh pasien. Kemudian, pasangkan rangkaian saluran output ke helm CPAP. Selanjutnya, hubungkan kotak micro controller ke sensor oksigen. Terakhir, hubungkan micro controller ke smartphone melalui bluetooth.

“Ada beberapa keunggulan helm CPAP buatan kami. Alat ini dapat di-assembly dan maintenance dengan mudah dan cepat. Alat ini juga dapat digunakan berkali-kali dengan mensterilkan komponen CPAP. Kecuali pada tabung CPAP dan perekan leher pasien. Harus diganti saat digunakan kembali. Terpenting, alat ini berbasis IoT,” jelasnya.

Husain dan tim membuat alat ini berbahan plastik polypropylene 30 centimeter (cm) x 85 cm untuk pembuatan tabung. PLA filament untuk proses 3D printing komponen helm CPAP. Nylon 2,2 cm untuk pembuatan saluran input dan output helm CPAP. Sementara rangkaian mikrokontroler menggunakan sensor oksigen OOM202, Arduino Nano, ADS1115, HC 05, baterai 18650, dan kabel jumper.

“Proses pembuatannya, diawali dengan membuat sketsa atau gambaran kasar mengenai alat ini. Setelah mendapatkan sketsanya lalu kami mulai mendesain alat ini menggunakan software 3D engineering drawing. Setelah itu, dilakukan pengujian analisa aliran fluida dengan metode computational fluid dynamics (CFD). Desain alat ini dilakukan berulang kali untuk memperbaiki masuknya aliran oksigen ke dalam helm CPAP,” terangnya.

Desain helm CPAP buatan Husain dkk diklaim telah disederhanakan menjadi tiga bagian. Terdiri dari tabung, saluran input, dan saluran output. Kemudian dilengkapi dengan sensor oksigen oom202 dan sensor saturasi oksigen max3010. Letaknya pada bagian luar helm CPAP. Sedangkan untuk mengubah sinyal analog ke digital, dibuat suatu rangkaian controller. Terdiri dari Arduino nano, modul HC05, dan ADS1115.

“Aplikasi yang kami buat ini memanfaatkan bantuan modul bluetooth HC-05. Kami pasangkan di helm CPAP yang nantinya alat tersebut akan digunakan oleh pasien. Lalu tim medis dapat mengontrol keadaan saturasi oksigen pasien dan kadar oksigen pada antarmuka helm CPAP melalui aplikasi pada ponsel,” imbuhnya.

Salah seorang anggota tim yang berasal dari Fakultas Kedokteran UNS Azzahra Fadhlila Aulia Nisa menyebut ada beberapa fitur aplikasi yang ditawarkan alat ini. Selain mampu memantau kadar oksigen pada antarmuka helm CPAP. Alat ini juga mampu memantau kadar oksigen pada darah pasien.

“Aplikasi yang kami buat ini juga memiliki keunggulan. Bisa digunakan oleh siapapun. Tidak menggunakan internet. Tidak memakan banyak internet. Dan mampu memonitoring helm CPAP dan darah pasien secara real time,” lanjutnya.

Zahra mengklaim pembuatan helm CPAP ini sudah memenuhi standar kesehatan. Alat ini sudah dilakukan beberapa kali simulasi dan hasilnya tekanan yang dihasilkan oleh helm CPAP sudah melebihi nilai klinis.

Semoga alat ini dapat direalisasikan sebagai alat bantu pernapasan. Untuk membantu mengatasi permasalahan pasien Covid-19 saat ini,” ujarnya. (aya/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/