24.7 C
Surakarta
Sunday, 4 December 2022

Temukan Gua Perawan, Sambangi Desa Pedalaman hingga Sekolah Alam

Petualangan 11 Mahasiswa Pecinta Alam Specta di Pulau Kalimantan

RADARSOLO.ID – Menyusuri sungai, menjelajahi hutan dan mendaki gunung di Pulau Kalimantan dilalui 11 mahasiswa pecinta alam asal Kota Bengawan. Mereka berpetualang selama 20 hari, mulai 23 Oktober-13 November. Tidak hanya misi alam, mereka juga memiliki misi sosial.

MANNISA ELFIRASolo, Radar Solo

Cahaya matahari terlihat cerah di langit Pulau Kalimantan. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WITA, 11 mahasiswa pecinta alam Specta Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta sudah selesai briefing. Selanjutnya mereka dibagi menjadi empat tim. Terdiri dari tim gunung hutan, tim rafting, rock clambing dan caving. Mereka bertekad untuk menuntaskan misi di setiap medan masing-masing yang dilalui.

Inilah tanda dimulainya penjelajahan menembus Pulau Seribu Sungai. Gunung Bukit Raya via Tumbang Habangoi merupakan salah satu medan dalam ekspedisi ini. Salah satu puncak tertinggi plus pegunungan terbesar kedua di Indonesia tersebut didaki oleh dua ekspeditor Specta. Yakni, Luthfian Farhandika dan Pungky Ferdyan Nesta.

Untuk mendaki, mereka harus menyelusuri 67 sungai dan hutan belantara di wilayah Kalimantan Tengah itu. Mereka harus berhati-hati menerbobos medan. Karena meski siang hari, cahaya matahari sangat terbatas tertutup lebatnya hutan.

“Hal yang paling menakjubkan adalah flora dan fauna endemik. Seperti burung enggang, tumbuhan kantong semar, dan sebagainya,” ujar Luthfian Farhandika, koordinator lapangan tim gunung hutan dalam ekspedisi ini.

Perlu waktu delapan hari bagi Luthfian dan Pungky untuk bisa menembus lika-liku perjalanan. Maklum, mereka juga melakukan pemetaan jalur serta eksplorasi. Yang akhirnya bisa sampai ke lokasi terakhir yakni Desa Tumbang Habangoi.

Medan selanjutnya bertempat di Sungai Amandit, Loksado, Kalimantan Selatan. Empat ekspeditor harus melakukan rafting. Arta Dian Pratama, Novia Azizi, Betty Susiana, dan Tika Kartika perlu waktu empat hari. Menariknya, tim ini mengarungi jalur atas. Jalur ini sudah lama tidak dilewati selama 1,5 tahun sebelumnya. Tak kenal takut. Berbekal semangat dan kepercayaan diri tinggi mereka terus melaju.

“Kami kembali ke jalur atas untuk meksplorasi lebih dalam jalur atas pengarungan Sungai Amandit,” jelas Arta Dian yang menjadi koordinator lapangan tim rafting.

Peta jalur pengarungan Sungai Amadit dimulai dari Desa Lian Paku, Hartai. Finishnya di kawasan Sungai Amadit bagian bawah. Tepatnya Desa Halunuk di Kalimantan Selatan. Tim melakukan pemetaan jeram yang merupakan medan sulit untuk dilewati.

“Kemudian data tersebut bisa digunakan untuk memberi informasi terkait jeram yang dipetakan,” tambah Arta.

Beralih ke medan ketiga, Intan Az Zahra dan Danang Prakoso siap melakukan rock climbing selama lima hariTepatnya di Tebing Batu Laki dan Batu Bini, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Tebing ini merupakan medan ikonik  bagi para pemanjat. Ciri khasnya itu tebing Batu Laki berada di sisi Sungai Amandit. Sementara Batu Bini merupakan jalur baru yang di buat oleh tim Vertikal Rescue Indonesia.

“Namun track menuju lokasinya bisa dibilang cukup sulit. Apalagi kondisi alam Kalimantan masih asri. Sehingga banyak ditemukan satwa endemik seperti bekantan dan monyet hitam,” ungkap Intan Az Zahra yang kali ini didapuk menjadi koordinator lapangan tim rock climbing.

Hebatnya, tim ini berhasil merintis jalur panjat sejauh 12 meter dari dasar tebing Batu Laki. Meski tinggi tebing terhitung 25 meter, medan ini masih aman untuk dipanjat. Catatannya butuh kehati-hatian ekstra dalam memilih tambatan dan pengaman saat proses pemanjatan.

Selanjutnya, selama lima hari tiga ekspeditor menjalani caving di Desa Nateh, Hulu Sungai Tengah dan Telaga Langsat. Raihan Hibban, Khanifa Eva, dan Rosita Indah akan menuju Gua Batu Sawar. Perjalanannya tentu tak mudah, mereka harus memanjati bukit untuk mencapai mulut gua.

“Gua Batu Sawar juga masih asri sehingga banyak ditemukan flora dan fauna baik di dalam maupun di luar Gua,” kata Raihan yang juga koordinator lapangan tim caving.

Selain Gua Batu Sawar, tim ini juga menuju Gua Ali. Petualangannya cukup panjang. Mereka perlu melewati hutan sekitar satu jam lebih untuk menuju mulut gua. Hal tersebut tak memutuskan semangat mereka.

“Di Gua Ali ini masih sangat kental perihal mistis dan hal gaib lainnya. Gua ini sangat luas dan banyak sekali cabangnya. Konon di Gua Ali masih banyak manusia kerdil,” jelas Raihan.

Menariknya, tim caving juga menelusuri gua tanpa nama. Gua ini jarang dijangkau manusia. Masyarakat sekitar saja masih jarang yang mengetahui adanya gua ini.  Jadi tim caving menyebutnya gua tanpa nama.

“Akses menuju guanya sulit. Kami harus membuka jalur kembali untuk menuju ke mulut gua ini. Karena sudah lama tidak ada yang memasuki gua ini, sehingga masih banyak ditemukan satwa endemik di dalamnya,” bebernya.

Sementara itu, tiap divisi menyelesaikan misinya dengan jangka waktu yang berbeda. Mereka yang sudah selesai misinya akan menunggu tim lainnya di Banjarmasin. Setelah semua tim kembali, mereka tak langsung kembali ke Kota Bengawan. Masih ada urusan untuk melakukan pengabdian masyarakat di Desa Artain, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Berlangsung mulai 4-7 November.

Desa Artain merupakan daerah yang jauh dari perkotaan. Akses transportasinya saja menggunakan perahu klothok. Kearifan lokal plus flora dan fauna di Desa Artain lah yang menarik perhatian tim untuk pengabdian. Kaitannya dengan keadaan sosial perilaku masyarakat dan perekonomian.

Desa Artain sangat berpotensi menjadi desa wisata dengan keindahan alam. Serta beberapa titik tempat wisata alam yang mampu memukau para wisatawan kelak  Hal ini mendorong kepala desa dan tim ekspedisi untuk membenahi perilaku warga dan memberikan sosialisasi perilaku dasar terkait kebersihan lingkungan.

“Hasil pengabdian menunjukkan kawasan wisata di desa kami sangat memukau. Hal ini dapat membantu perekonomian masyarakat desa. Di sisi lain, perilaku masyarakat terkait sampah masih menjadi prioritas pekerjaan  rumah,” tutur Sekertaris Desa Artain Rahmat Basuki.

Selain itu, Tim Ekspedisi Nagari Borneo juga melakukan pengabdian di Sekolah Dasar Negeri Artain. Mereka sempat mengajar di sekolah alam. Memperkenalkan kepada murid-murid tentang kepedulian terhadap lingkungan dan pemanfaatan sampah. Setelah semua misi kelar, mereka kembali ke Kota Bengawan tepatnya pada 13 November lalu. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Menyusuri sungai, menjelajahi hutan dan mendaki gunung di Pulau Kalimantan dilalui 11 mahasiswa pecinta alam asal Kota Bengawan. Mereka berpetualang selama 20 hari, mulai 23 Oktober-13 November. Tidak hanya misi alam, mereka juga memiliki misi sosial.

MANNISA ELFIRASolo, Radar Solo

Cahaya matahari terlihat cerah di langit Pulau Kalimantan. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WITA, 11 mahasiswa pecinta alam Specta Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta sudah selesai briefing. Selanjutnya mereka dibagi menjadi empat tim. Terdiri dari tim gunung hutan, tim rafting, rock clambing dan caving. Mereka bertekad untuk menuntaskan misi di setiap medan masing-masing yang dilalui.

Inilah tanda dimulainya penjelajahan menembus Pulau Seribu Sungai. Gunung Bukit Raya via Tumbang Habangoi merupakan salah satu medan dalam ekspedisi ini. Salah satu puncak tertinggi plus pegunungan terbesar kedua di Indonesia tersebut didaki oleh dua ekspeditor Specta. Yakni, Luthfian Farhandika dan Pungky Ferdyan Nesta.

Untuk mendaki, mereka harus menyelusuri 67 sungai dan hutan belantara di wilayah Kalimantan Tengah itu. Mereka harus berhati-hati menerbobos medan. Karena meski siang hari, cahaya matahari sangat terbatas tertutup lebatnya hutan.

“Hal yang paling menakjubkan adalah flora dan fauna endemik. Seperti burung enggang, tumbuhan kantong semar, dan sebagainya,” ujar Luthfian Farhandika, koordinator lapangan tim gunung hutan dalam ekspedisi ini.

Perlu waktu delapan hari bagi Luthfian dan Pungky untuk bisa menembus lika-liku perjalanan. Maklum, mereka juga melakukan pemetaan jalur serta eksplorasi. Yang akhirnya bisa sampai ke lokasi terakhir yakni Desa Tumbang Habangoi.

Medan selanjutnya bertempat di Sungai Amandit, Loksado, Kalimantan Selatan. Empat ekspeditor harus melakukan rafting. Arta Dian Pratama, Novia Azizi, Betty Susiana, dan Tika Kartika perlu waktu empat hari. Menariknya, tim ini mengarungi jalur atas. Jalur ini sudah lama tidak dilewati selama 1,5 tahun sebelumnya. Tak kenal takut. Berbekal semangat dan kepercayaan diri tinggi mereka terus melaju.

“Kami kembali ke jalur atas untuk meksplorasi lebih dalam jalur atas pengarungan Sungai Amandit,” jelas Arta Dian yang menjadi koordinator lapangan tim rafting.

Peta jalur pengarungan Sungai Amadit dimulai dari Desa Lian Paku, Hartai. Finishnya di kawasan Sungai Amadit bagian bawah. Tepatnya Desa Halunuk di Kalimantan Selatan. Tim melakukan pemetaan jeram yang merupakan medan sulit untuk dilewati.

“Kemudian data tersebut bisa digunakan untuk memberi informasi terkait jeram yang dipetakan,” tambah Arta.

Beralih ke medan ketiga, Intan Az Zahra dan Danang Prakoso siap melakukan rock climbing selama lima hariTepatnya di Tebing Batu Laki dan Batu Bini, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Tebing ini merupakan medan ikonik  bagi para pemanjat. Ciri khasnya itu tebing Batu Laki berada di sisi Sungai Amandit. Sementara Batu Bini merupakan jalur baru yang di buat oleh tim Vertikal Rescue Indonesia.

“Namun track menuju lokasinya bisa dibilang cukup sulit. Apalagi kondisi alam Kalimantan masih asri. Sehingga banyak ditemukan satwa endemik seperti bekantan dan monyet hitam,” ungkap Intan Az Zahra yang kali ini didapuk menjadi koordinator lapangan tim rock climbing.

Hebatnya, tim ini berhasil merintis jalur panjat sejauh 12 meter dari dasar tebing Batu Laki. Meski tinggi tebing terhitung 25 meter, medan ini masih aman untuk dipanjat. Catatannya butuh kehati-hatian ekstra dalam memilih tambatan dan pengaman saat proses pemanjatan.

Selanjutnya, selama lima hari tiga ekspeditor menjalani caving di Desa Nateh, Hulu Sungai Tengah dan Telaga Langsat. Raihan Hibban, Khanifa Eva, dan Rosita Indah akan menuju Gua Batu Sawar. Perjalanannya tentu tak mudah, mereka harus memanjati bukit untuk mencapai mulut gua.

“Gua Batu Sawar juga masih asri sehingga banyak ditemukan flora dan fauna baik di dalam maupun di luar Gua,” kata Raihan yang juga koordinator lapangan tim caving.

Selain Gua Batu Sawar, tim ini juga menuju Gua Ali. Petualangannya cukup panjang. Mereka perlu melewati hutan sekitar satu jam lebih untuk menuju mulut gua. Hal tersebut tak memutuskan semangat mereka.

“Di Gua Ali ini masih sangat kental perihal mistis dan hal gaib lainnya. Gua ini sangat luas dan banyak sekali cabangnya. Konon di Gua Ali masih banyak manusia kerdil,” jelas Raihan.

Menariknya, tim caving juga menelusuri gua tanpa nama. Gua ini jarang dijangkau manusia. Masyarakat sekitar saja masih jarang yang mengetahui adanya gua ini.  Jadi tim caving menyebutnya gua tanpa nama.

“Akses menuju guanya sulit. Kami harus membuka jalur kembali untuk menuju ke mulut gua ini. Karena sudah lama tidak ada yang memasuki gua ini, sehingga masih banyak ditemukan satwa endemik di dalamnya,” bebernya.

Sementara itu, tiap divisi menyelesaikan misinya dengan jangka waktu yang berbeda. Mereka yang sudah selesai misinya akan menunggu tim lainnya di Banjarmasin. Setelah semua tim kembali, mereka tak langsung kembali ke Kota Bengawan. Masih ada urusan untuk melakukan pengabdian masyarakat di Desa Artain, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Berlangsung mulai 4-7 November.

Desa Artain merupakan daerah yang jauh dari perkotaan. Akses transportasinya saja menggunakan perahu klothok. Kearifan lokal plus flora dan fauna di Desa Artain lah yang menarik perhatian tim untuk pengabdian. Kaitannya dengan keadaan sosial perilaku masyarakat dan perekonomian.

Desa Artain sangat berpotensi menjadi desa wisata dengan keindahan alam. Serta beberapa titik tempat wisata alam yang mampu memukau para wisatawan kelak  Hal ini mendorong kepala desa dan tim ekspedisi untuk membenahi perilaku warga dan memberikan sosialisasi perilaku dasar terkait kebersihan lingkungan.

“Hasil pengabdian menunjukkan kawasan wisata di desa kami sangat memukau. Hal ini dapat membantu perekonomian masyarakat desa. Di sisi lain, perilaku masyarakat terkait sampah masih menjadi prioritas pekerjaan  rumah,” tutur Sekertaris Desa Artain Rahmat Basuki.

Selain itu, Tim Ekspedisi Nagari Borneo juga melakukan pengabdian di Sekolah Dasar Negeri Artain. Mereka sempat mengajar di sekolah alam. Memperkenalkan kepada murid-murid tentang kepedulian terhadap lingkungan dan pemanfaatan sampah. Setelah semua misi kelar, mereka kembali ke Kota Bengawan tepatnya pada 13 November lalu. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/