alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Tanduk Hewan Jadi Kerajinan Tangan: Gelas Sloki Paling Diminati di Jepang

BOYOLALI – Tanduk sapi dan kerbau bisa dimaksimalkan untuk jadi sebuah kerajinan tangan. Seperti yang dikembangkan oleh Narioto, 60, warga Dusun/Desa Urutsewu, Ampel. Dia buat jadi beberapa barang, salah satunya adalah pipa untuk merokok.

Tanduk-tanduk tersimpan rapi di dalam gudang penyimpanan, di rumah Narioto. Ketika terpengaruh udara lembab dan cuaca tak bersahabat, tanduk basah dan akan memunculkan bau tak sedap. Namun, ketika sudah diolah, tanduk-tanduk ini menjadi buah tangan yang ciamik.

Narioto mengakui, mulai merintis usaha ini sejak 20 tahun silam. Tanduk-tanduk berasal dari hewan sapi lokal, kerbau, kebo bule dan lainnya. Sejak puluhan tahun dia mulai rutin mengumpulkan. Awalnya dia mulai mencoba-coba membuat pipa rokok. Melalui serangkaian proses panjang, dan beberapa kali mengalami kegagalan. Pipa berukuran panjang 15 sentimeter (cm) dengan luaran halus berhasil dibuatnya.

“Saya rintis sejak 20 tahun lalu. Saya juga berdayakan masyarakat di sini. Ada 6-8 orang yang biasa ikut buat kerajinan tanduk ini. Mereka bawa pulang, jadi mereka mengerjakannya di rumah. Tujuan saya agar masyarakat ada kegiatan. Biar di sini bisa jadi sentra kerajinan tangan dari tanduk sapi dan kerbau. Saya buat setengah jadi tinggal pekerja yang moles untuk finishing,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo.

Kerajinan tulang biasanya dibuat untuk pipa. Sedangkan tanduk sapi dan kerbau bisa dibuat berbagai macam produk kerajinan, seperti pipa untuk merokok, gelas sloki, sisir, sendok, tempat kacang, alat pijat, kerokan, serta produk lainnya. Pangsa pasarnya tak hanya di sekitar Jawa Tengah saja. Gelas sloki bahkan bisa dibilang sangat diminati di luar negeri, yakni salah satunya di Jepang.

Keahlian mengolah tanduk menjadi kerajinan ini diturunkan dari orang tuanya, yang tinggal di  Magelang. Setelah berumah tangga, dia mulai bekerja di pabrik. Narioto memutuskan keluar dan fokus pada pembuatan kerajinan tanduk. Hasilnya tak main-main, dia menjadi penyuplai buah tangan kerajinan di tempat-tempat wisata.

“Tanduk saya beli kiloan. Per kilogram tanduk kerbau bule Rp 300 ribu/kilogram. Satu tanduk bisa seberat 1,5 kilogram. Kalau tanduk kerbau hitam murah hanya Rp 100 ribu/kilogram,” terangnya.

Beda tanduk, beda juga hasil kerajinannya. Khusus untuk pipa harus menggunakan tanduk kerbau betina. Karena tebal dan berisi. Sedangkan tanduk sapi dan kerbau jantan cenderung lebih tipis serta tak berisi. Sehingga tanduk jenis ini hanya dibuat untuk sisir dan kerajinan lain. Kemudian tanduk yang melengkung bisa untuk gelas sloki. Pembuatan kerajinan ini juga menempuh proses panjang.

Setelah dijemur dan kering baru diolah. Tanduk memiliki tekstur unik. Tanduk yang dipanaskan bisa lembek, tetapi tidak bisa meleleh. Melalui proses pemanasan inilah, tanduk lebih mudah dibelah dan dibuat pola. Setelah itu dihaluskan dengan mengamplas tanduk. Setelah itu pembentukan hasil kerajinanrampung, dan masuk ke proses finishing.

“Satu tanduk bisa beda-beda karena karakternya beda-beda. Ada yang tebal dan tipis. Tulang yang diambil juga tulang belakang. Bahan baku tidak terlalu sulit. Hanya yang sulitnya itu kalau mau memilih tanduknya, jadi kita pilih harus bisa mengira-ngira tebal tipis dan bahannya sesuai tidak,” jelasnya.

Bahan tanduk sapi dia dapatkan dari lokal Ampel, Boyolali. Sedangakan tanduk kerbau didapar dari Demak, kiriman dari Kalimantan, Nusa Tenggara, Sumatera dan lainnya. Untuk harga kerajinan cukup murah. Untuk kerajinan kerok menjadi yang paling favorit. Bisa habis 2 ribuan pcs perbulan dengan harga Rp 6 ribu per pcs. Kemudian pipa tulang Rp 12,5 ribu/biji dan pipa tanduk besar Rp 25 ribu/biji.

“Kalau omzetnya bisa mencapai Rp 20 juta perbulan. Karena pesanan tanduk kebo bule buat handle golok dan wayang juga ramai peminatnya,” pungkasnya. (rgl/nik/dam)

BOYOLALI – Tanduk sapi dan kerbau bisa dimaksimalkan untuk jadi sebuah kerajinan tangan. Seperti yang dikembangkan oleh Narioto, 60, warga Dusun/Desa Urutsewu, Ampel. Dia buat jadi beberapa barang, salah satunya adalah pipa untuk merokok.

Tanduk-tanduk tersimpan rapi di dalam gudang penyimpanan, di rumah Narioto. Ketika terpengaruh udara lembab dan cuaca tak bersahabat, tanduk basah dan akan memunculkan bau tak sedap. Namun, ketika sudah diolah, tanduk-tanduk ini menjadi buah tangan yang ciamik.

Narioto mengakui, mulai merintis usaha ini sejak 20 tahun silam. Tanduk-tanduk berasal dari hewan sapi lokal, kerbau, kebo bule dan lainnya. Sejak puluhan tahun dia mulai rutin mengumpulkan. Awalnya dia mulai mencoba-coba membuat pipa rokok. Melalui serangkaian proses panjang, dan beberapa kali mengalami kegagalan. Pipa berukuran panjang 15 sentimeter (cm) dengan luaran halus berhasil dibuatnya.

“Saya rintis sejak 20 tahun lalu. Saya juga berdayakan masyarakat di sini. Ada 6-8 orang yang biasa ikut buat kerajinan tanduk ini. Mereka bawa pulang, jadi mereka mengerjakannya di rumah. Tujuan saya agar masyarakat ada kegiatan. Biar di sini bisa jadi sentra kerajinan tangan dari tanduk sapi dan kerbau. Saya buat setengah jadi tinggal pekerja yang moles untuk finishing,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo.

Kerajinan tulang biasanya dibuat untuk pipa. Sedangkan tanduk sapi dan kerbau bisa dibuat berbagai macam produk kerajinan, seperti pipa untuk merokok, gelas sloki, sisir, sendok, tempat kacang, alat pijat, kerokan, serta produk lainnya. Pangsa pasarnya tak hanya di sekitar Jawa Tengah saja. Gelas sloki bahkan bisa dibilang sangat diminati di luar negeri, yakni salah satunya di Jepang.

Keahlian mengolah tanduk menjadi kerajinan ini diturunkan dari orang tuanya, yang tinggal di  Magelang. Setelah berumah tangga, dia mulai bekerja di pabrik. Narioto memutuskan keluar dan fokus pada pembuatan kerajinan tanduk. Hasilnya tak main-main, dia menjadi penyuplai buah tangan kerajinan di tempat-tempat wisata.

“Tanduk saya beli kiloan. Per kilogram tanduk kerbau bule Rp 300 ribu/kilogram. Satu tanduk bisa seberat 1,5 kilogram. Kalau tanduk kerbau hitam murah hanya Rp 100 ribu/kilogram,” terangnya.

Beda tanduk, beda juga hasil kerajinannya. Khusus untuk pipa harus menggunakan tanduk kerbau betina. Karena tebal dan berisi. Sedangkan tanduk sapi dan kerbau jantan cenderung lebih tipis serta tak berisi. Sehingga tanduk jenis ini hanya dibuat untuk sisir dan kerajinan lain. Kemudian tanduk yang melengkung bisa untuk gelas sloki. Pembuatan kerajinan ini juga menempuh proses panjang.

Setelah dijemur dan kering baru diolah. Tanduk memiliki tekstur unik. Tanduk yang dipanaskan bisa lembek, tetapi tidak bisa meleleh. Melalui proses pemanasan inilah, tanduk lebih mudah dibelah dan dibuat pola. Setelah itu dihaluskan dengan mengamplas tanduk. Setelah itu pembentukan hasil kerajinanrampung, dan masuk ke proses finishing.

“Satu tanduk bisa beda-beda karena karakternya beda-beda. Ada yang tebal dan tipis. Tulang yang diambil juga tulang belakang. Bahan baku tidak terlalu sulit. Hanya yang sulitnya itu kalau mau memilih tanduknya, jadi kita pilih harus bisa mengira-ngira tebal tipis dan bahannya sesuai tidak,” jelasnya.

Bahan tanduk sapi dia dapatkan dari lokal Ampel, Boyolali. Sedangakan tanduk kerbau didapar dari Demak, kiriman dari Kalimantan, Nusa Tenggara, Sumatera dan lainnya. Untuk harga kerajinan cukup murah. Untuk kerajinan kerok menjadi yang paling favorit. Bisa habis 2 ribuan pcs perbulan dengan harga Rp 6 ribu per pcs. Kemudian pipa tulang Rp 12,5 ribu/biji dan pipa tanduk besar Rp 25 ribu/biji.

“Kalau omzetnya bisa mencapai Rp 20 juta perbulan. Karena pesanan tanduk kebo bule buat handle golok dan wayang juga ramai peminatnya,” pungkasnya. (rgl/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/