23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

"Saya Nggak Khawatir Suhunya, tapi Gas Beracun."

Lahar Bara, Relawan yang Mengevakuasi Jenazah Pendaki dari Dasar Kawah Merapi

RADARSOLO.ID – Evakuasi jasad Erri Yunanto, mahasiswa yang terperosok di kawah Gunung Merapi 2015, tak pernah hilang dari ingatan Bakat Setiawan alias Lahar Bara. Warga Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali ini masih ingat setiap detiknya. Berikut petikan wawancaranya dengan Jawa Pos Radar Solo.

Kondisi puncak Gunung Merapi kala itu? 

Puncak garuda masih ada. Namun, pendakian tidak diizinkan sampai puncak. Hanya sampai Pasar Bubrah. BPTKG dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) memang sudah melarang.

Posisi saat kejadian?

Saya lagi di resepsi. Sekira pukul 13.00, ditelepon sama teman, Samsuri. “Har, buruan ke BTM,” di situ ramai, kumpul-kumpul dan ada kode-kode. Jelas itu evakuasi besar. Karena kode itu biasanya untuk evakuasi orang yang kritis, meninggal. Artinya semua anggota Barameru harus berkumpul. Saya langsung ke basecamp, masih pakai batik, masih pakai pantofel, celana kain. Niatnya assessment dulu, ada apa. Sebenarnya sudah tahu ada evakuasi, tapi kasusnya seperti apa belum tahu.

Suasana jelang evakuasi? 

Waktu itu pendakian ramai. Kami sterilkan jalur, tutup pendakian, karena kejadian ini di luar jangkauan kita. Lalu kami membuat plan A sampai Z. Tapi sampai pukul 00.00, masih buntu. Belum ada yang mau turun karena risikonya besar.

Proses komunikasi dengan keluarga korban?

Kakaknya almarhum Erri mencoba ikhlas. Lalu menemui saya. Tanya kalau saya pernah turun ke kawah. Saya jawab sudah, dia lanjut ngomong, “Suatu hari nanti, kalau Mas Lahar turun ke kawah lagi, tolong ya mas, fotokan jenazah adik saya apapun keadaannya,”. Di situ saya merasa ditampol dan akhirnya memutuskan turun ke kawah. Evakuasi ini kemungkinan selamatnya hanya 10 persen.

Siapa saja yang masuk tim evakuasi? 

Saya memilih tim. Ada Mas Giman, Mas Adi, Mas Soni, Mas Ari. Malamnya itu, di pos satu, saya sempat mimpi ada banyak orang pakai beskap. Kayak orang among tamu. Lalu bilang, “Yen meh mbok jupuk, monggo. Penting ora nguyuh (kalau mau diambil silakan. Asal tidak kencing). Bahkan pandangan mata saya itu sampai ke jenazah. Lalu saya terbangun, duduk.

TARUHAN NYAWA: Lahar Bara saat evakuasi jenazah Erri Yunanto yang terperosok ke dasar kawah Gunung Merapi 2015. (DOK. PRIBADI)

Kondisi di dasar kawah?

Saya nggak khawatirkan suhunya, tapi gas beracun. Badannya korban besar, saya nggak mungkin mengangkat sendiri. Lalu saya kontak teman, Hendro agar membantu, dan lebih pengalaman. Jadi Hendro saya minta naik dulu, saya pastikan dia sampai ke atas. Baru aku naik, karena teknik vertical rescue-ku masih dangkal. Lalu saya ditarik ke atas sama empat orang.

Pesan untuk pendaki Gunung Merapi?

Saya sarankan jangan sampai puncak, karena sangat berisiko. Kalau naik, jangan lupa turun lagi. Itu yang penting. (rgl/wa/dam)

RADARSOLO.ID – Evakuasi jasad Erri Yunanto, mahasiswa yang terperosok di kawah Gunung Merapi 2015, tak pernah hilang dari ingatan Bakat Setiawan alias Lahar Bara. Warga Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali ini masih ingat setiap detiknya. Berikut petikan wawancaranya dengan Jawa Pos Radar Solo.

Kondisi puncak Gunung Merapi kala itu? 

Puncak garuda masih ada. Namun, pendakian tidak diizinkan sampai puncak. Hanya sampai Pasar Bubrah. BPTKG dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) memang sudah melarang.

Posisi saat kejadian?

Saya lagi di resepsi. Sekira pukul 13.00, ditelepon sama teman, Samsuri. “Har, buruan ke BTM,” di situ ramai, kumpul-kumpul dan ada kode-kode. Jelas itu evakuasi besar. Karena kode itu biasanya untuk evakuasi orang yang kritis, meninggal. Artinya semua anggota Barameru harus berkumpul. Saya langsung ke basecamp, masih pakai batik, masih pakai pantofel, celana kain. Niatnya assessment dulu, ada apa. Sebenarnya sudah tahu ada evakuasi, tapi kasusnya seperti apa belum tahu.

Suasana jelang evakuasi? 

Waktu itu pendakian ramai. Kami sterilkan jalur, tutup pendakian, karena kejadian ini di luar jangkauan kita. Lalu kami membuat plan A sampai Z. Tapi sampai pukul 00.00, masih buntu. Belum ada yang mau turun karena risikonya besar.

Proses komunikasi dengan keluarga korban?

Kakaknya almarhum Erri mencoba ikhlas. Lalu menemui saya. Tanya kalau saya pernah turun ke kawah. Saya jawab sudah, dia lanjut ngomong, “Suatu hari nanti, kalau Mas Lahar turun ke kawah lagi, tolong ya mas, fotokan jenazah adik saya apapun keadaannya,”. Di situ saya merasa ditampol dan akhirnya memutuskan turun ke kawah. Evakuasi ini kemungkinan selamatnya hanya 10 persen.

Siapa saja yang masuk tim evakuasi? 

Saya memilih tim. Ada Mas Giman, Mas Adi, Mas Soni, Mas Ari. Malamnya itu, di pos satu, saya sempat mimpi ada banyak orang pakai beskap. Kayak orang among tamu. Lalu bilang, “Yen meh mbok jupuk, monggo. Penting ora nguyuh (kalau mau diambil silakan. Asal tidak kencing). Bahkan pandangan mata saya itu sampai ke jenazah. Lalu saya terbangun, duduk.

TARUHAN NYAWA: Lahar Bara saat evakuasi jenazah Erri Yunanto yang terperosok ke dasar kawah Gunung Merapi 2015. (DOK. PRIBADI)

Kondisi di dasar kawah?

Saya nggak khawatirkan suhunya, tapi gas beracun. Badannya korban besar, saya nggak mungkin mengangkat sendiri. Lalu saya kontak teman, Hendro agar membantu, dan lebih pengalaman. Jadi Hendro saya minta naik dulu, saya pastikan dia sampai ke atas. Baru aku naik, karena teknik vertical rescue-ku masih dangkal. Lalu saya ditarik ke atas sama empat orang.

Pesan untuk pendaki Gunung Merapi?

Saya sarankan jangan sampai puncak, karena sangat berisiko. Kalau naik, jangan lupa turun lagi. Itu yang penting. (rgl/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img