alexametrics
23.4 C
Surakarta
Friday, 8 July 2022

Keistimewaan Luwak Pandan: Kondisi Terancam, Keluarkan Aroma Wangi

RADARSOLO.ID – Dulu, luwak atau musang, tidak begitu banyak penggemarnya. Kini berbeda. Hewan liar ini digandrungi karena memiliki aroma khas. Mirip wangi daun pandan.

Pemilik luwak pandan, Joko Widodo alias Toyib, 45, tertarik memelihara hewan nocturnal ini lantaran keunikannya tersebut. “Mengapa diberi nama luwak pandan atau musang pandan? Ya karena hewan ini baunya seperti daun pandan. Apalagi kalau mereka terancam,” jelas kepada Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Meskipin terkategori hewan predator, luwak pandan juga menjadi buruan hewan lain. Aroma daun pandan yang dikeluarkan sebagai upaya menyamarkan bau tubuhnya untuk mengelabui pemasang.

Luwak pandan yang milik Toyib merupakan hasil tangkapan liar di kompleks pemakaman wali kota Surakarta pertama RT Sindoerejo, di Kampung Sewu, Jebres.

Siang itu, saat Toyib membersihkan makam, dia melihat kawanan musang berlarian. Satu ekor yang ukurannya paling kecil tertinggal. Tak tega melihat si musang sendirian, Toyib memungutnya.

“Saya bawa pulang dan minta izin ke istri untuk merawat. Akhirnya dipelihara sampai sekarang. Saya beri nama Sindy, karena saya nemu di area makam almarhum Sindoerejo,” ucapnya.

Awal memelihara, tangan Toyib dibuat berdarah lantaran digigit atau dicakar si luwak yang juga dikenal musang pulut, toddy cat, hingga common palm civet tersebut.

Seiring waktu, Sindy menjadi jinak dan menjadi peliharaan kesayangan pria pegiat sungai bersih itu. “Perawatannya saya mandikan dua hari sekali pakai sampo. Lalu saya belikan kandang yang cocok. Tubuhnya makin besar. Luwak ini senang memanjat dan berlarian,” paparnya.

Sindy dengan kelamin jantan, imbuh Toyib, sangat suka melahap kepala ayam. Sekali makan, sekitar lima kepala ayam habis. Sebab itu, di alam liar, luwak kerap memangsa ayam ternak warga dan menjadi hama.

“Di kampung sering dianggap hama makanya sering diburu. Model luwak seperti ini hanya makan kepala ayam, tubuhnya ditinggalkan. Beda sama garangan (java mongoose) yang ketika memangsa ayam digondol semua bagian tubuhnya,” tuturnya.

Untuk variasi pakan, luwak pandan Toyib diberi pisang ambon dan sereal balita diseduh air hangat. Minumnya, paling suka susu formula. “Diberi pisang lainnya tidak mau. Saya kurang tahu kenapa,” pungkasnya. (ves/wa/dam)

RADARSOLO.ID – Dulu, luwak atau musang, tidak begitu banyak penggemarnya. Kini berbeda. Hewan liar ini digandrungi karena memiliki aroma khas. Mirip wangi daun pandan.

Pemilik luwak pandan, Joko Widodo alias Toyib, 45, tertarik memelihara hewan nocturnal ini lantaran keunikannya tersebut. “Mengapa diberi nama luwak pandan atau musang pandan? Ya karena hewan ini baunya seperti daun pandan. Apalagi kalau mereka terancam,” jelas kepada Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Meskipin terkategori hewan predator, luwak pandan juga menjadi buruan hewan lain. Aroma daun pandan yang dikeluarkan sebagai upaya menyamarkan bau tubuhnya untuk mengelabui pemasang.

Luwak pandan yang milik Toyib merupakan hasil tangkapan liar di kompleks pemakaman wali kota Surakarta pertama RT Sindoerejo, di Kampung Sewu, Jebres.

Siang itu, saat Toyib membersihkan makam, dia melihat kawanan musang berlarian. Satu ekor yang ukurannya paling kecil tertinggal. Tak tega melihat si musang sendirian, Toyib memungutnya.

“Saya bawa pulang dan minta izin ke istri untuk merawat. Akhirnya dipelihara sampai sekarang. Saya beri nama Sindy, karena saya nemu di area makam almarhum Sindoerejo,” ucapnya.

Awal memelihara, tangan Toyib dibuat berdarah lantaran digigit atau dicakar si luwak yang juga dikenal musang pulut, toddy cat, hingga common palm civet tersebut.

Seiring waktu, Sindy menjadi jinak dan menjadi peliharaan kesayangan pria pegiat sungai bersih itu. “Perawatannya saya mandikan dua hari sekali pakai sampo. Lalu saya belikan kandang yang cocok. Tubuhnya makin besar. Luwak ini senang memanjat dan berlarian,” paparnya.

Sindy dengan kelamin jantan, imbuh Toyib, sangat suka melahap kepala ayam. Sekali makan, sekitar lima kepala ayam habis. Sebab itu, di alam liar, luwak kerap memangsa ayam ternak warga dan menjadi hama.

“Di kampung sering dianggap hama makanya sering diburu. Model luwak seperti ini hanya makan kepala ayam, tubuhnya ditinggalkan. Beda sama garangan (java mongoose) yang ketika memangsa ayam digondol semua bagian tubuhnya,” tuturnya.

Untuk variasi pakan, luwak pandan Toyib diberi pisang ambon dan sereal balita diseduh air hangat. Minumnya, paling suka susu formula. “Diberi pisang lainnya tidak mau. Saya kurang tahu kenapa,” pungkasnya. (ves/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/