alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Belajar dari Kesalahan, Mengantarkan Kesuksesan

Mengenal Havid Danang Purnomo Widodo, Camat Sukoharjo Kota

RADARSOLO.ID – Posisi Havid Danang Purnomo Widodo sebagai camat Sukoharjo Kota dirintis dari nol. Dimulai sebagai tenaga harian lepas. Bagaimana liku-likunya? Berikut penuturannya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Awal berkarir di pemerintahan?

Sebagai tenaga harian lepas (THL). Waktu itu 2007 ada lowogan di Kantor Humas Informasi dan Komunikasi (HIK). Mendaftar dan lolos seleksi. Ditempatkan sebagai petugas administrasi di RSPD (radio siaran pemerintah daerah).

Pengalaman menjadi THL?

DI RSPD selain siaran, juga sering ikut motret-motret kegiatan bupati. Dari situ belajar membangun jaringan dan komunikasi. Banyak temannya

 Kapan menjadi ASN?

 Melamar dan ikut tes di Sukoharjo, Solo, dan sekitarnya. Akhirnya diterima sebagai ASN pada 2010. Kali pertama ditempatkan di satpol PP selama empat bulan. Karena di humas lebih membutuhkan, saya ditarik ke humas sebagai juru kamera.

Tugas di humas?

Mendokumentasikan kegiatan bupati. Bikin majalah Suara Makmur dan dipercaya sebagai redaktur.

Yang berkesan di Kehumasan?

Bisa dekat dengan wartawan. Ternyata ilmu komunikasi itu sangat penting. Setelah empat tahun di humas, naik pangkat 3B. Selang 2 bulan, diberi amanah menjadi Kepala Sub Bagian Pemerintahan. Harus belajar lagi. Kepala bagian saya galak sekali. Di sana mengurusi batas wilayah. Banyak pelajaran, ilmu dari humas tentang komunikasi bisa diigunakan. Di Bagian Pemerintahan bisa mengantar bapak Bupati Wardoyo Wijaya meraih penghargaan Satya Lancana Pembangunan. Beliau sangat senang. Alhamdulillah semua pekerjaan bisa dilakukan dengan baik.

Karir berikutnya?

Selama dua tahun Bagian Pemerintahan, pada 2016 dipercaya sebagai Lurah Gayam, Kecamatan Sukoharjo Kota. Menyelami kebiasaaan dan tradisi di masyarakat. Semula banyak yang meragukan saya karena masih muda. Saat itu baru usia 33 tahun. Karena Gayam itu wilayah yang unik, banyak rumah dinas, rumah kepala OPD (organisasi perangkat daerah), banyak tokoh masyarakat. Berkat ilmu komunikasi yang didapat saat di humas dan pengetahuan tentang pemerintahan, akhirnya banyak prestasi di Gayam.

Apa saja prestasinya?

Membangun Taman Pakujoyo yang sebelumnya merupakan lahan tidur, kini menjadi ruang terbuka hijau, bisa menggerakan PKL untuk mengelola taman. Lalu membangun Taman Losari. Semula adalah tempat kumuh di pinggir kali dan masih banyak lagi. Termasuk mengubah mindset Kampung Menjing, yang tadinya dinilai lingkungannya buruk, menjadi kampung wisata.

Sejak kapan menjadi camat?

Awalnya dipercaya sebagai Plt (pelaksana tugas) camat Sukoharjo Kota sejak 2019. Jadi disambi, selain lurah Gayam, juga camat Sukoharjo Kota. Lebih banyak di kecamatan. Tapi karena kesalahan dan keteledoran, saya di copot sebagai Plt Camat Sukoharjo Kota pada Mei 2021. Dikembalikan lagi ke jabatan semula yakni lurah Gayam. Kala itu menghadiri acara halalbihalal. Padahal saat itu ada aturan halalbihalal dilarang untuk mencegah penularan Covid-19. Sebagai ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Sukoharjo, seharusnya tidak melakukannya. Saya mengakui itu kesalahan fatal, tidak akan saya ulangi lagi. Kejadian tersebut saya jadikan evaluasi. Saat kembali menjadi lurah Gayam, saya membentuk tracer Covid-19 tingkat RT, lalu mengadakan kegiatan menghibur anak-anak yang isolasi mandiri, membawakan oleh-oleh mereka. Sehingga kasus penularan Covid-19 di Sukoharjo Kota dapat ditekan. Bahkan, membawa Gayam menjadi juara Kampung Siaga Candi. September 2021 kembali diberi amanah menjadi Camat Sukoharjo Kota. Mungkin, karena pimpinan melihat kinerja dan  profesionalitas dalam menjalankan tugas. (kwl/wa)

RADARSOLO.ID – Posisi Havid Danang Purnomo Widodo sebagai camat Sukoharjo Kota dirintis dari nol. Dimulai sebagai tenaga harian lepas. Bagaimana liku-likunya? Berikut penuturannya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Awal berkarir di pemerintahan?

Sebagai tenaga harian lepas (THL). Waktu itu 2007 ada lowogan di Kantor Humas Informasi dan Komunikasi (HIK). Mendaftar dan lolos seleksi. Ditempatkan sebagai petugas administrasi di RSPD (radio siaran pemerintah daerah).

Pengalaman menjadi THL?

DI RSPD selain siaran, juga sering ikut motret-motret kegiatan bupati. Dari situ belajar membangun jaringan dan komunikasi. Banyak temannya

 Kapan menjadi ASN?

 Melamar dan ikut tes di Sukoharjo, Solo, dan sekitarnya. Akhirnya diterima sebagai ASN pada 2010. Kali pertama ditempatkan di satpol PP selama empat bulan. Karena di humas lebih membutuhkan, saya ditarik ke humas sebagai juru kamera.

Tugas di humas?

Mendokumentasikan kegiatan bupati. Bikin majalah Suara Makmur dan dipercaya sebagai redaktur.

Yang berkesan di Kehumasan?

Bisa dekat dengan wartawan. Ternyata ilmu komunikasi itu sangat penting. Setelah empat tahun di humas, naik pangkat 3B. Selang 2 bulan, diberi amanah menjadi Kepala Sub Bagian Pemerintahan. Harus belajar lagi. Kepala bagian saya galak sekali. Di sana mengurusi batas wilayah. Banyak pelajaran, ilmu dari humas tentang komunikasi bisa diigunakan. Di Bagian Pemerintahan bisa mengantar bapak Bupati Wardoyo Wijaya meraih penghargaan Satya Lancana Pembangunan. Beliau sangat senang. Alhamdulillah semua pekerjaan bisa dilakukan dengan baik.

Karir berikutnya?

Selama dua tahun Bagian Pemerintahan, pada 2016 dipercaya sebagai Lurah Gayam, Kecamatan Sukoharjo Kota. Menyelami kebiasaaan dan tradisi di masyarakat. Semula banyak yang meragukan saya karena masih muda. Saat itu baru usia 33 tahun. Karena Gayam itu wilayah yang unik, banyak rumah dinas, rumah kepala OPD (organisasi perangkat daerah), banyak tokoh masyarakat. Berkat ilmu komunikasi yang didapat saat di humas dan pengetahuan tentang pemerintahan, akhirnya banyak prestasi di Gayam.

Apa saja prestasinya?

Membangun Taman Pakujoyo yang sebelumnya merupakan lahan tidur, kini menjadi ruang terbuka hijau, bisa menggerakan PKL untuk mengelola taman. Lalu membangun Taman Losari. Semula adalah tempat kumuh di pinggir kali dan masih banyak lagi. Termasuk mengubah mindset Kampung Menjing, yang tadinya dinilai lingkungannya buruk, menjadi kampung wisata.

Sejak kapan menjadi camat?

Awalnya dipercaya sebagai Plt (pelaksana tugas) camat Sukoharjo Kota sejak 2019. Jadi disambi, selain lurah Gayam, juga camat Sukoharjo Kota. Lebih banyak di kecamatan. Tapi karena kesalahan dan keteledoran, saya di copot sebagai Plt Camat Sukoharjo Kota pada Mei 2021. Dikembalikan lagi ke jabatan semula yakni lurah Gayam. Kala itu menghadiri acara halalbihalal. Padahal saat itu ada aturan halalbihalal dilarang untuk mencegah penularan Covid-19. Sebagai ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Sukoharjo, seharusnya tidak melakukannya. Saya mengakui itu kesalahan fatal, tidak akan saya ulangi lagi. Kejadian tersebut saya jadikan evaluasi. Saat kembali menjadi lurah Gayam, saya membentuk tracer Covid-19 tingkat RT, lalu mengadakan kegiatan menghibur anak-anak yang isolasi mandiri, membawakan oleh-oleh mereka. Sehingga kasus penularan Covid-19 di Sukoharjo Kota dapat ditekan. Bahkan, membawa Gayam menjadi juara Kampung Siaga Candi. September 2021 kembali diberi amanah menjadi Camat Sukoharjo Kota. Mungkin, karena pimpinan melihat kinerja dan  profesionalitas dalam menjalankan tugas. (kwl/wa)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/