alexametrics
23.4 C
Surakarta
Thursday, 7 July 2022

Rogoh Kocek Mandiri, Pulang Kerja Terjun ke Kali

Relawan Tim Gorong-gorong Solo Rutin Blusukan Sisir Sampah Sungai

RADARSOLO.ID – Menjadi relawan lingkungan butuh mental baja dan siap dalam kondisi apapun. Kerja-kerja mereka terkadang tidak terlihat oleh mata, namun hasilnya luar biasa bagi masyarakat. Seperti yang dilakoni relawan Tim Gorong-gorong Solo ini.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Sejak lahir 2020 lalu, Tim Gorong-gorong Solo menjadi salah satu kelompok bersih sungai yang paling aktif dalam membersihkan bantaran sungai maupun drainase permukiman warga. Komunitas ini bak sebuah wadah yang menyatukan orang-orang militan dalam mewujudkan sungai bersih.

Merasa cocok satu sama lain, komunitas swadaya masyarakat ini pun mulai dikenal sebagai kumpulan orang yang cukup getol dalam urusan membersihkan sampah di bantaran sungai dan gorong-gorong di Kota Bengawan.

“Sebelum dibentuk Tim Gorong-gorong Solo ini, saya membersihkan sungai dan gorong-gorong secara mandiri. Sampai akhirnya 2019 saya bertemu dengan Sugeng atau Bang Togenk. Sejak ketemu Bang Togenk itu saya selalu berdua saat membersihkan sungai,” kata Toyib, pencetus Tim Gorong-gorong Solo.

Toyib merupakan seorang warga yang peduli akan kebersihan sungai dan gorong-gorong. Sejak 2006 dia rutin melakukan misi bersih-bersih secara mandiri. Di sisi lain, sosok Togenk juga menaruh kepedulian yang sama terhadap kehersihan sungai dan lingkungan.

Keduanya sama-sama memiliki kenangan buruk di mana rumahnya kerap kebanjiran karena permasalahan sampah yang menyumbat aliran sungai dan gorong-gorong.

“Akhirnya saya ketemu Bang Togenk ini. Sebelum banyak kawan-kawan yang masuk, kelompok saya ini namanya Duo BT alias Bang Toyib-Bang Togenk. Baru setelah setahun rutin kegiatan ketemu teman-teman dan namanya diganti dengan Tim Gorong-gorong Solo,”  ujar Toyib.

Tim Gorong-gorong ini mewadahi orang-orang yang mau turun untuk bersih sungai dan selokan tanpa dibayar. Kini anggotanya sudah mencapai 35 orang. Mereka rutin melakukan aksi bersih sungai dan selokan setiap minggu. Dengan anggota yang lebih banyak ini mereka bisa semakin cepat menyisir masalah sampah di berbagai titik secara bergiliran.

TANPA PAMRIH: Anggota relawan Tim Gorong-gorong Solo di Taman Sunan Jogo Kali Pucangsawit. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

“Semua alatnya bawa sendiri, ada juga yang inventaris karena ada sejumlah pihak yang sedikit banyak bantu peralatan. Sekarang sudah lebih mending ketimbang awal-awal dulu. Masyarakat sudah lebih banyak yang mendukung, termasuk keluarga dari pada awal-awal dulu,” timpal Togenk yang juga sebagai motor Tim Gorong-gorong Solo.

Bicara soal respons keluarga, Togenk mengaku sempat debat kusir dengan mertua karena sibuk melakukan hal-hal yang tidak menghasilkan untuk keluarga.

“Dulu sempat berselisih paham dengan mertua, dibilang kok kamu sibuk seperti ini buat apa? Ya saya jelaskan saja toh anak istri mendukung. Saya melakukan ini harapannya tidak ada lagi warga yang kebanjiran karena sampah,” kata Togenk.

Berbeda dengan Togenk, Toyib dulunya justru kerap uring-uringan dengan istri karena sibuk bersih-bersih sungai. Meski kondisi rumah sempat memanas, akhirnya keluarga mendukung.

“Dulu itu diprotesnya karena waktu. Jadi seharian sudah kerja, setelah pulang kerja malah bersihkan sungai dan selokan milik orang lain. Tapi lama-lama istri bisa mengerti karena ini untuk menjaga lingkungan,” timpal Toyib.

Tim Gorong-gorong Solo ini memiliki kekompakan luar biasa. Meski datang dari berbagai latar belakang, mereka memiliki keterkaitan batin antara satu dengan lainnya. Makanya saat turun ke lapangan mereka tidak banyak berkoordinasi, namun langsung kerja membersihkan sampah di sekitar masing-masing.

“Persoalan sampah di sungai dan drainase itu sama terus setiap tahun. Makanya kami juga mengajak masyarakat terlibat ketika bersih-bersih. Meski pakai dana mandiri dan alat seadanya kami bersyukur didampingi rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama. Berkumpul bersama rasanya senang,” ujarnya. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Menjadi relawan lingkungan butuh mental baja dan siap dalam kondisi apapun. Kerja-kerja mereka terkadang tidak terlihat oleh mata, namun hasilnya luar biasa bagi masyarakat. Seperti yang dilakoni relawan Tim Gorong-gorong Solo ini.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Sejak lahir 2020 lalu, Tim Gorong-gorong Solo menjadi salah satu kelompok bersih sungai yang paling aktif dalam membersihkan bantaran sungai maupun drainase permukiman warga. Komunitas ini bak sebuah wadah yang menyatukan orang-orang militan dalam mewujudkan sungai bersih.

Merasa cocok satu sama lain, komunitas swadaya masyarakat ini pun mulai dikenal sebagai kumpulan orang yang cukup getol dalam urusan membersihkan sampah di bantaran sungai dan gorong-gorong di Kota Bengawan.

“Sebelum dibentuk Tim Gorong-gorong Solo ini, saya membersihkan sungai dan gorong-gorong secara mandiri. Sampai akhirnya 2019 saya bertemu dengan Sugeng atau Bang Togenk. Sejak ketemu Bang Togenk itu saya selalu berdua saat membersihkan sungai,” kata Toyib, pencetus Tim Gorong-gorong Solo.

Toyib merupakan seorang warga yang peduli akan kebersihan sungai dan gorong-gorong. Sejak 2006 dia rutin melakukan misi bersih-bersih secara mandiri. Di sisi lain, sosok Togenk juga menaruh kepedulian yang sama terhadap kehersihan sungai dan lingkungan.

Keduanya sama-sama memiliki kenangan buruk di mana rumahnya kerap kebanjiran karena permasalahan sampah yang menyumbat aliran sungai dan gorong-gorong.

“Akhirnya saya ketemu Bang Togenk ini. Sebelum banyak kawan-kawan yang masuk, kelompok saya ini namanya Duo BT alias Bang Toyib-Bang Togenk. Baru setelah setahun rutin kegiatan ketemu teman-teman dan namanya diganti dengan Tim Gorong-gorong Solo,”  ujar Toyib.

Tim Gorong-gorong ini mewadahi orang-orang yang mau turun untuk bersih sungai dan selokan tanpa dibayar. Kini anggotanya sudah mencapai 35 orang. Mereka rutin melakukan aksi bersih sungai dan selokan setiap minggu. Dengan anggota yang lebih banyak ini mereka bisa semakin cepat menyisir masalah sampah di berbagai titik secara bergiliran.

TANPA PAMRIH: Anggota relawan Tim Gorong-gorong Solo di Taman Sunan Jogo Kali Pucangsawit. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

“Semua alatnya bawa sendiri, ada juga yang inventaris karena ada sejumlah pihak yang sedikit banyak bantu peralatan. Sekarang sudah lebih mending ketimbang awal-awal dulu. Masyarakat sudah lebih banyak yang mendukung, termasuk keluarga dari pada awal-awal dulu,” timpal Togenk yang juga sebagai motor Tim Gorong-gorong Solo.

Bicara soal respons keluarga, Togenk mengaku sempat debat kusir dengan mertua karena sibuk melakukan hal-hal yang tidak menghasilkan untuk keluarga.

“Dulu sempat berselisih paham dengan mertua, dibilang kok kamu sibuk seperti ini buat apa? Ya saya jelaskan saja toh anak istri mendukung. Saya melakukan ini harapannya tidak ada lagi warga yang kebanjiran karena sampah,” kata Togenk.

Berbeda dengan Togenk, Toyib dulunya justru kerap uring-uringan dengan istri karena sibuk bersih-bersih sungai. Meski kondisi rumah sempat memanas, akhirnya keluarga mendukung.

“Dulu itu diprotesnya karena waktu. Jadi seharian sudah kerja, setelah pulang kerja malah bersihkan sungai dan selokan milik orang lain. Tapi lama-lama istri bisa mengerti karena ini untuk menjaga lingkungan,” timpal Toyib.

Tim Gorong-gorong Solo ini memiliki kekompakan luar biasa. Meski datang dari berbagai latar belakang, mereka memiliki keterkaitan batin antara satu dengan lainnya. Makanya saat turun ke lapangan mereka tidak banyak berkoordinasi, namun langsung kerja membersihkan sampah di sekitar masing-masing.

“Persoalan sampah di sungai dan drainase itu sama terus setiap tahun. Makanya kami juga mengajak masyarakat terlibat ketika bersih-bersih. Meski pakai dana mandiri dan alat seadanya kami bersyukur didampingi rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama. Berkumpul bersama rasanya senang,” ujarnya. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/