alexametrics
21.9 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Bantu Atasi Keterlambatan Alat Pernafasan Pasien

Pasien Covid Membeludak, Inisiatif Produksi Nasal Cannula

MEMBELUDAKNYA pasien Covid-19 di rumah sakit berimbas pada kekurangan stok nasal cannula yang merupakan komponen high flow nasal cannula (HFNC). Komponen ini berfungsi membantu proses pernapasan pasien. Tim dosen ini lantas memproduksi nasal cannula dan diserahkan ke rumah sakit.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Dalam penanganan pasien Covid-19, HFNC digunakan untuk mengirimkan oksigen tambahan. Alat ini mampu meningkatkan aliran udara dengan laju aliran sekitar 30- 90 l per menit. Sementara nasal cannula yang biasa, tidak bisa meningkatkan laju aliran sebesar itu.

“Berdasarkan hasil simulasi, aliran fluida dari HFNC yang didesain normal, hasilnya kecepatan dan tekanannya berbeda,” ungkap Ketua Tim Produksi Nasal Cannula Ubaidillah kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Produksi nasal cannula yang merupakan selang alat bantu pernapasan pada lubang hidung ini dicetak dengan menggunakan printer 3 dimensi. Ini atas inisiasi Laboratorium Getaran Program Studi  Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi.

“Karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang dirawat, RSUD Dr Moewardi mengalami kelebihan kapasitas ruangan. Akibatnya, terjadi kekurangan stok nasal cannula yang merupakan komponen HFNC. RSUD Dr Moewardi juga terkendala suplai komponen nasal cannula yang sering terlambat. Ini mengganggu proses penanganan pasien Covid-19. Apalagi penggunaan alat tersebut sangat dibutuhkan,” bebernya.

Menurutnya, penanganan pasien menjadi terhambat lantaran ketersediaan alat terapi tidak sebanding dengan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat. Nah, HFNC ini memerlukan komponen nasal cannula tipe aliran tinggi yang terpasang di hidung pasien selama proses penyembuhan. Untuk menjawab keterbatasan jumlah nasal cannula tersebut, Ubaidillah dan tim memproduksi dengan sistem molding.

“Dengan molding ini, pembuatan nasal cannula yang menggunakan teknik plastic injection molding dapat menghasilkan alat dalam jumlah yang banyak dengan waktu relatif cepat. Kelebihannya, yaitu nasal cannula ini bukan hanya untuk pasien Covid-19 saja. Tapi dapat digunakan untuk pasien yang mempunyai diagnosis penyakit lain,” sambungnya.

Penyakit lain tersebut yakni paru obstruktif kronik, restrictive thoracic diseases (RTD), obesity hypoventilation syndrome 5, deformitas dinding dada, penyakit neuromuskular, dan decompensated obstructive sleep apnea.

“Selain itu, dengan adanya molding dari nasal cannula, proses produksi dari alat tersebut menjadi meningkat,” imbuhnya.

Ubaidillah tidak sendiri. Dalam produksinya, dia dibantu anggota tim lainnya yang merupakan dosen fakultas teknik lainnya, yakni Aditya Rio Prabowo, Didik Djoko Susilo, Wibowo, dan Dharu Feby Smaradhana.

“Melalui produksi ini, kami memberikan perhatian bagi penanganan pasien positif Covid-19 di RSUD Dr Moewardi. Semoga ini bisa membantu dalam penanganan pasien,” ujarnya. (*/bun) 

 


MEMBELUDAKNYA pasien Covid-19 di rumah sakit berimbas pada kekurangan stok nasal cannula yang merupakan komponen high flow nasal cannula (HFNC). Komponen ini berfungsi membantu proses pernapasan pasien. Tim dosen ini lantas memproduksi nasal cannula dan diserahkan ke rumah sakit.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Dalam penanganan pasien Covid-19, HFNC digunakan untuk mengirimkan oksigen tambahan. Alat ini mampu meningkatkan aliran udara dengan laju aliran sekitar 30- 90 l per menit. Sementara nasal cannula yang biasa, tidak bisa meningkatkan laju aliran sebesar itu.

“Berdasarkan hasil simulasi, aliran fluida dari HFNC yang didesain normal, hasilnya kecepatan dan tekanannya berbeda,” ungkap Ketua Tim Produksi Nasal Cannula Ubaidillah kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Produksi nasal cannula yang merupakan selang alat bantu pernapasan pada lubang hidung ini dicetak dengan menggunakan printer 3 dimensi. Ini atas inisiasi Laboratorium Getaran Program Studi  Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi.

“Karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang dirawat, RSUD Dr Moewardi mengalami kelebihan kapasitas ruangan. Akibatnya, terjadi kekurangan stok nasal cannula yang merupakan komponen HFNC. RSUD Dr Moewardi juga terkendala suplai komponen nasal cannula yang sering terlambat. Ini mengganggu proses penanganan pasien Covid-19. Apalagi penggunaan alat tersebut sangat dibutuhkan,” bebernya.

Menurutnya, penanganan pasien menjadi terhambat lantaran ketersediaan alat terapi tidak sebanding dengan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat. Nah, HFNC ini memerlukan komponen nasal cannula tipe aliran tinggi yang terpasang di hidung pasien selama proses penyembuhan. Untuk menjawab keterbatasan jumlah nasal cannula tersebut, Ubaidillah dan tim memproduksi dengan sistem molding.

“Dengan molding ini, pembuatan nasal cannula yang menggunakan teknik plastic injection molding dapat menghasilkan alat dalam jumlah yang banyak dengan waktu relatif cepat. Kelebihannya, yaitu nasal cannula ini bukan hanya untuk pasien Covid-19 saja. Tapi dapat digunakan untuk pasien yang mempunyai diagnosis penyakit lain,” sambungnya.

Penyakit lain tersebut yakni paru obstruktif kronik, restrictive thoracic diseases (RTD), obesity hypoventilation syndrome 5, deformitas dinding dada, penyakit neuromuskular, dan decompensated obstructive sleep apnea.

“Selain itu, dengan adanya molding dari nasal cannula, proses produksi dari alat tersebut menjadi meningkat,” imbuhnya.

Ubaidillah tidak sendiri. Dalam produksinya, dia dibantu anggota tim lainnya yang merupakan dosen fakultas teknik lainnya, yakni Aditya Rio Prabowo, Didik Djoko Susilo, Wibowo, dan Dharu Feby Smaradhana.

“Melalui produksi ini, kami memberikan perhatian bagi penanganan pasien positif Covid-19 di RSUD Dr Moewardi. Semoga ini bisa membantu dalam penanganan pasien,” ujarnya. (*/bun) 

 

Populer

Berita Terbaru