alexametrics
23.4 C
Surakarta
Thursday, 7 July 2022

Padukan Motif Kawung dengan Bitcoin

Inovasi Meramu Motif Batik Tradisional dengan Dunia Metaverse

RADARSOLO.ID – Selama ini, motif batik yang dikenal masyarakat adalah batik parang, kawung, atau truntum. Motif-motif batik itu juga yang banyak dijual di pasaran. Untuk menggaet minat anak muda mengenakan kain batik, sekelompok mahasiswa ini berinovasi membuat motif batik mengolaborasikan dengan simbol-simbol di metaverse.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Selama pandemi Covid-19, sektor industri kreatif sempat terpuruk habis-habisan. Salah satunya, perajin batik di Kampung Batik Laweyan. Daya beli masyarakat yang anjlok otomatis membuat jumlah permintaan terhadap kain batik menurun drastis. Sebagai agent of change, sekelompok mahasiswa ini memutar otak menemukan cara meningkatkan kembali perekonomian perajin batik.

“Kami kemudian berinovasi membuat batik dengan tema metaverse. Jadi kami mengadopsi simbol-simbol yang ada di metaverse. Kami apply ke batik tulis. Nah, kami menggandeng dua perajin batik di Kampung Batik Laweyan. Kami yang kasih ide dan referensi desain, perajin batik yang membuat batik tulisnya,” ungkap Nugroho Hasan, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) kepada koran ini kemarin.

Hasan bersama timnya, Ahmad Rifki Hardiansyah, Rifqi Amrulah Fatah, Luluk Aristiani, dan Lutfi A lantas membuat tiga desain batik bermotif metaverse, yakni Come to Metaverse, Imagine of Metaverse, dan Pongo Beyond The Universe. Masing-masing motif punya filosofi yang menginspirasi.

“Batik yang berjudul Come to Metaverse menggambarkan seseorang mengetahui tentang metaverse. Umumnya, orang mengetahui untuk memasuki dunia metaverse kita memerlukan alat yang bernama VR, virtual reality. Agar dapat merasakan secara langsung. Bukan hanya 2D. Desain batik ini digambarkan wayang yang mengenakan peralatan VR,” beber Hasan.

INOVASI: Motif batik Come to Metaverse padukan Wayang dan suasana futuristik. (ISTIMEWA)

Selain itu, metaverse berhubungan erat dengan teknologi, seperti halnya komputer. Maka pada desain batik ini juga terdapat gambaran motherboard sebagai pusat dari komputer yang diaplikasikan sebagai penghubung antarmotif.

Hasan menyebut yang paling umum orang ketahui tentang metaverse adalah transaksi di dalamnya yang menggunakan mata uang khusus. Pada desain batik ini digambarkan dalam bentuk bitcoin yang bersatu dengan motif kawung.

“Kawung selain terkenal sebagai salah satu motif batik Indonesia juga memiliki filosofi tersendiri yaitu harapan agar manusia tidak melupakan asal usulnya. Yang mana motif kawung dalam batik ini dimaksudkan bahwa sebaik-baik apapun dunia metaverse kita tetap harus menjalani kehidupan nyata yang ada di sekitar kita,” sambungnya.

Motif batik kedua, Imagine of Metaverse menggambarkan tentang kondisi saat seseorang memasuki dunia metaverse. Hasan menjelaskan, seseorang bisa merasakan berbagai teknologi terbaru dari metaverse. Dapat dilihat dari lantai motif yang mengadaptasi motif motherboard dan kendaraan yang tampak lebih modern. Seolah-olah saat sudah memasuki dunia metaverse, seseorang merasakan teknologi-teknologi terbaru.

“Selain terdapat motif kontemporer, dalam batik ini juga terdapat motif batik klasik Indonesia yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, yaitu mega mendung. Mega mendung merupakan motif batik yang memiliki filosofi kesabaran,” imbuhnya.

Motif ketiga, berjudul Orang Utan: Pongo Beyond The Universe. Motif ini menggambarkan tentang makna metaverse. Yang mana adalah melampaui alam semesta. Motif ini digambarkan sesuai dengan pemikiran orang awam tentang melewati alam semesta. Terdapat jalan di antara planet-planet yang dibuat seperti melewati alam semesta. Pada jalan itu juga terdapat orang utan yang menggunakan VR.

“Alasan kami menggunakan orang utan (pongo) pada desain batik adalah karena orang utan merupakan salah satu hewan endemik di Indonesia. Kenapa Pongo menggunakan VR? Karena untuk memasuki dunia metaverse kita membutuhkan alat yang bernama VR. Dan pada motif ini juga terdapat motif mega mendung. Yang seperti dijelaskan sebelumnya mega mendung memiliki arti untuk bermimpi setinggi-tingginya dan tetap bebas,” urainya.

Melalui motif-motif batik futuristik ini Hasan dkk berharap dapat mengenalkan budaya Indonesia, khususnya batik di kancah internasional. Terlebih di kalangan generasi muda masa kini. Dengan mengombinasikan antara motif batik legendaris dengan hal baru, seperti dunia metaverse. Sehingga menghasilkan motif batik yang modern dan lebih hidup.

“Prosesnya ide kreatifnya, kurang lebih membutuhkan waktu seminggu untuk tiap desain. Nah, untuk proses produksinya cukup cepat. Tiga motif itu bisa digarap seminggu,” ujarnya.

Hasan dkk berencana memasarkan motif batik metaverse ini. Tujuannya, selain ingin membantu meningkatkan penjualan perajin batik. Juga ingin membuat motif batik yang lebih ngenomi untuk anak muda. Proyeksinya, motif batik ini bakal menyasar konsumen segmen anak muda agar tidak malas pakai kain batik.

Atas inovasinya ini, Hasan dkk berhasil membawa pulang medali emas di ajang kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang diadakan oleh The International Invention, Innovation, and Technology Exhibition (ITEX) secara luring di Kuala Lumpur City Center (KLCC).

“Berdasarkan review juri kemarin, nilai plus motif batik ini adalah kekinian, beda, dan ada inovasi baru dalam pembuatan batik. Tapi tetap masih ada budaya batik lama,” ujarnya. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Selama ini, motif batik yang dikenal masyarakat adalah batik parang, kawung, atau truntum. Motif-motif batik itu juga yang banyak dijual di pasaran. Untuk menggaet minat anak muda mengenakan kain batik, sekelompok mahasiswa ini berinovasi membuat motif batik mengolaborasikan dengan simbol-simbol di metaverse.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Selama pandemi Covid-19, sektor industri kreatif sempat terpuruk habis-habisan. Salah satunya, perajin batik di Kampung Batik Laweyan. Daya beli masyarakat yang anjlok otomatis membuat jumlah permintaan terhadap kain batik menurun drastis. Sebagai agent of change, sekelompok mahasiswa ini memutar otak menemukan cara meningkatkan kembali perekonomian perajin batik.

“Kami kemudian berinovasi membuat batik dengan tema metaverse. Jadi kami mengadopsi simbol-simbol yang ada di metaverse. Kami apply ke batik tulis. Nah, kami menggandeng dua perajin batik di Kampung Batik Laweyan. Kami yang kasih ide dan referensi desain, perajin batik yang membuat batik tulisnya,” ungkap Nugroho Hasan, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) kepada koran ini kemarin.

Hasan bersama timnya, Ahmad Rifki Hardiansyah, Rifqi Amrulah Fatah, Luluk Aristiani, dan Lutfi A lantas membuat tiga desain batik bermotif metaverse, yakni Come to Metaverse, Imagine of Metaverse, dan Pongo Beyond The Universe. Masing-masing motif punya filosofi yang menginspirasi.

“Batik yang berjudul Come to Metaverse menggambarkan seseorang mengetahui tentang metaverse. Umumnya, orang mengetahui untuk memasuki dunia metaverse kita memerlukan alat yang bernama VR, virtual reality. Agar dapat merasakan secara langsung. Bukan hanya 2D. Desain batik ini digambarkan wayang yang mengenakan peralatan VR,” beber Hasan.

INOVASI: Motif batik Come to Metaverse padukan Wayang dan suasana futuristik. (ISTIMEWA)

Selain itu, metaverse berhubungan erat dengan teknologi, seperti halnya komputer. Maka pada desain batik ini juga terdapat gambaran motherboard sebagai pusat dari komputer yang diaplikasikan sebagai penghubung antarmotif.

Hasan menyebut yang paling umum orang ketahui tentang metaverse adalah transaksi di dalamnya yang menggunakan mata uang khusus. Pada desain batik ini digambarkan dalam bentuk bitcoin yang bersatu dengan motif kawung.

“Kawung selain terkenal sebagai salah satu motif batik Indonesia juga memiliki filosofi tersendiri yaitu harapan agar manusia tidak melupakan asal usulnya. Yang mana motif kawung dalam batik ini dimaksudkan bahwa sebaik-baik apapun dunia metaverse kita tetap harus menjalani kehidupan nyata yang ada di sekitar kita,” sambungnya.

Motif batik kedua, Imagine of Metaverse menggambarkan tentang kondisi saat seseorang memasuki dunia metaverse. Hasan menjelaskan, seseorang bisa merasakan berbagai teknologi terbaru dari metaverse. Dapat dilihat dari lantai motif yang mengadaptasi motif motherboard dan kendaraan yang tampak lebih modern. Seolah-olah saat sudah memasuki dunia metaverse, seseorang merasakan teknologi-teknologi terbaru.

“Selain terdapat motif kontemporer, dalam batik ini juga terdapat motif batik klasik Indonesia yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, yaitu mega mendung. Mega mendung merupakan motif batik yang memiliki filosofi kesabaran,” imbuhnya.

Motif ketiga, berjudul Orang Utan: Pongo Beyond The Universe. Motif ini menggambarkan tentang makna metaverse. Yang mana adalah melampaui alam semesta. Motif ini digambarkan sesuai dengan pemikiran orang awam tentang melewati alam semesta. Terdapat jalan di antara planet-planet yang dibuat seperti melewati alam semesta. Pada jalan itu juga terdapat orang utan yang menggunakan VR.

“Alasan kami menggunakan orang utan (pongo) pada desain batik adalah karena orang utan merupakan salah satu hewan endemik di Indonesia. Kenapa Pongo menggunakan VR? Karena untuk memasuki dunia metaverse kita membutuhkan alat yang bernama VR. Dan pada motif ini juga terdapat motif mega mendung. Yang seperti dijelaskan sebelumnya mega mendung memiliki arti untuk bermimpi setinggi-tingginya dan tetap bebas,” urainya.

Melalui motif-motif batik futuristik ini Hasan dkk berharap dapat mengenalkan budaya Indonesia, khususnya batik di kancah internasional. Terlebih di kalangan generasi muda masa kini. Dengan mengombinasikan antara motif batik legendaris dengan hal baru, seperti dunia metaverse. Sehingga menghasilkan motif batik yang modern dan lebih hidup.

“Prosesnya ide kreatifnya, kurang lebih membutuhkan waktu seminggu untuk tiap desain. Nah, untuk proses produksinya cukup cepat. Tiga motif itu bisa digarap seminggu,” ujarnya.

Hasan dkk berencana memasarkan motif batik metaverse ini. Tujuannya, selain ingin membantu meningkatkan penjualan perajin batik. Juga ingin membuat motif batik yang lebih ngenomi untuk anak muda. Proyeksinya, motif batik ini bakal menyasar konsumen segmen anak muda agar tidak malas pakai kain batik.

Atas inovasinya ini, Hasan dkk berhasil membawa pulang medali emas di ajang kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang diadakan oleh The International Invention, Innovation, and Technology Exhibition (ITEX) secara luring di Kuala Lumpur City Center (KLCC).

“Berdasarkan review juri kemarin, nilai plus motif batik ini adalah kekinian, beda, dan ada inovasi baru dalam pembuatan batik. Tapi tetap masih ada budaya batik lama,” ujarnya. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/