alexametrics
31.8 C
Surakarta
Sunday, 25 September 2022

Rumah Terkepung Proyek Tol, Setiap Hari Berteman Suara Bising

Derita Sri Surantini, Tak Kunjung Terima Ganti Rugi Tol karena Digugat Anak

RADARSOLO.ID – Di usia senja seharusnya Sri Surantini, 73, tinggal menikmati hidup yang damai dan nyaman. Namun, saat ini dia harus menghadapi kenyataan pahit. Berkali-kali dia digugat dua anaknya soal tanah warisan yang kini terdampak proyek tol Solo-Jogja. Gara-gara kasus ini, kompensasi ganti rugi tak kunjung cair.

RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo

Suara bising alat berat dari proyek tol Solo-Jogja di Dusun Klinggen, Desa Guwokajen, Sawit, sudah menjadi “teman” sehari-hari bagi Sri Surantini. Rumah yang dia tempati kini dikepung proyek tol. Lantaran, tanah pekarangan seluas 1.166 meter persegi yang ditempatinya masih menjadi sengketa sehingga kompensasi ganti rugi tol belum bisa cair.

Ya, kasus gugatan oleh kedua anak kandungnya, Rini Sawestri dan Indri Aliyanto tak juga usai. Meski gugatan di Pengadilan Agama (PA) Boyolali ditolak, kedua anaknya tersebut bersikukuh mengajukan gugatan kedua. Mau tak mau, Sri Surantini dan anak pertamanya, Gunawan bersama keluarganya tetap bertahan di rumahnya yang saat ini terkepung proyek tol Solo- Jogja.

Tepat di belakang rumahnya sudah berdiri kokoh pondasi jembatan. Jalan akses kampungnya juga sudah tertutup tanah. Pondasi-pondasi beton untuk jalan tol sudah berdiri kokoh. Rumahnya tampak mungil. Setiap hari, Sri Surantini harus berjibaku dengan suara bising. Ditambah kepulan debu di musim kemarau maupun jalanan becek saat hujan mampir.

“Ya, seperti ini keadaannya, debu dan suara bising terus mengganggu tiap hari. Kalau mau keluar ya harus hati-hati, lewat kawasan proyek. Jalannya juga sudah nggak keliatan, ketutup material proyek,” terang Gunawan saat ditemui di rumahnya pada Rabu (21/9).

Gunawan, anak Sri Surantini yang turut digugat adiknya. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Dia sendiri harus menahan kondisi ini selama setahun terakhir. Sebab, pembagian uang ganti rugi Rp 2,115 miliar untuk empat bidang tanah yang seharusnya cair September tahun lalu tak kunjung cair. Sebelum persoalan tanah ini klir.

“Kalau untuk pindah ke mana? Uang ganti rugi saja belum cair,” ujar Gunawan dengan mata menerawang.

Gugatan pertama oleh kedua adiknya ini dilayangkan di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali. Namun, ditolak. Karena tak puas akhirnya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jateng. Hasilnya juga sama. Gugatan Rini dan Indri ditolak. Dan keputusan inkrah. Dia sempat senang, dan mengira sudah putusan final. Namun, nyatanya, kedua adiknya kembali mengajukan gugatan ke PA dengan materi yang sama.

“Seharusnya ada patokan hukum yang tegas terkait pengajuan gugatan. Kalau materi sama, seharusnya tak boleh diajukan lagi. Bayangkan semisal ada 100 orang berbuat sama untuk proyek tol Solo-Jogja ini, pemerintah sendiri pasti repot,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Indri Aliyanto mengamini kembali melayangkan gugatan kedua di PA. Dia telah mengajukan gugatan pembagian hak waris pada April lalu. Namun, gugatan tersebut ditolak. Sehingga dia mengajukan gugatan kedua dengan materi gugatan tentang pembatalan hibah.

“Betul, kami mengajukan gugatan lagi. Kami hanya meminta keadilan dan hak kami, itu saja. Karena gugatan pertama tentang pembagian warisan ditolak. Lalu diarahkan untuk gugatan pembagian hibah dulu. Baru setelah itu, masuk gugatan keduanya untuk pembagian warisan,” tegasnya.

Dia menambahkan, objek gugatan dan pihak tergugatnya juga sama. Yakni, ada empat bidang tanah yang menjadi objek atau pokok persoalan gugatan. Dengan lima pokok gugatan. Yakni, tanah secara keseluruhan seluas 1.166, kemudian halaman depan atas nama Afrizal anak dari Rini seluas 142 meterpersegi, rumah induk seluas 250 persegi atas nama Wiwik.

Kemudian rumah di sisi timur milik Gunawan seluas 235 meter persegi, serta kebun belakang seluas 576 meter persegi atas nama Aris Haryono. Dia menilai pembagian hibah tersebut juga tidak merata dan melampui ketentuan syariat Islam. Apalagi, ada salah satu penerima hibah yang non Islam. Sedangkan menurutnya, secara syariat ada aturannya sendiri. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Di usia senja seharusnya Sri Surantini, 73, tinggal menikmati hidup yang damai dan nyaman. Namun, saat ini dia harus menghadapi kenyataan pahit. Berkali-kali dia digugat dua anaknya soal tanah warisan yang kini terdampak proyek tol Solo-Jogja. Gara-gara kasus ini, kompensasi ganti rugi tak kunjung cair.

RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo

Suara bising alat berat dari proyek tol Solo-Jogja di Dusun Klinggen, Desa Guwokajen, Sawit, sudah menjadi “teman” sehari-hari bagi Sri Surantini. Rumah yang dia tempati kini dikepung proyek tol. Lantaran, tanah pekarangan seluas 1.166 meter persegi yang ditempatinya masih menjadi sengketa sehingga kompensasi ganti rugi tol belum bisa cair.

Ya, kasus gugatan oleh kedua anak kandungnya, Rini Sawestri dan Indri Aliyanto tak juga usai. Meski gugatan di Pengadilan Agama (PA) Boyolali ditolak, kedua anaknya tersebut bersikukuh mengajukan gugatan kedua. Mau tak mau, Sri Surantini dan anak pertamanya, Gunawan bersama keluarganya tetap bertahan di rumahnya yang saat ini terkepung proyek tol Solo- Jogja.

Tepat di belakang rumahnya sudah berdiri kokoh pondasi jembatan. Jalan akses kampungnya juga sudah tertutup tanah. Pondasi-pondasi beton untuk jalan tol sudah berdiri kokoh. Rumahnya tampak mungil. Setiap hari, Sri Surantini harus berjibaku dengan suara bising. Ditambah kepulan debu di musim kemarau maupun jalanan becek saat hujan mampir.

“Ya, seperti ini keadaannya, debu dan suara bising terus mengganggu tiap hari. Kalau mau keluar ya harus hati-hati, lewat kawasan proyek. Jalannya juga sudah nggak keliatan, ketutup material proyek,” terang Gunawan saat ditemui di rumahnya pada Rabu (21/9).

Gunawan, anak Sri Surantini yang turut digugat adiknya. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Dia sendiri harus menahan kondisi ini selama setahun terakhir. Sebab, pembagian uang ganti rugi Rp 2,115 miliar untuk empat bidang tanah yang seharusnya cair September tahun lalu tak kunjung cair. Sebelum persoalan tanah ini klir.

“Kalau untuk pindah ke mana? Uang ganti rugi saja belum cair,” ujar Gunawan dengan mata menerawang.

Gugatan pertama oleh kedua adiknya ini dilayangkan di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali. Namun, ditolak. Karena tak puas akhirnya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jateng. Hasilnya juga sama. Gugatan Rini dan Indri ditolak. Dan keputusan inkrah. Dia sempat senang, dan mengira sudah putusan final. Namun, nyatanya, kedua adiknya kembali mengajukan gugatan ke PA dengan materi yang sama.

“Seharusnya ada patokan hukum yang tegas terkait pengajuan gugatan. Kalau materi sama, seharusnya tak boleh diajukan lagi. Bayangkan semisal ada 100 orang berbuat sama untuk proyek tol Solo-Jogja ini, pemerintah sendiri pasti repot,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Indri Aliyanto mengamini kembali melayangkan gugatan kedua di PA. Dia telah mengajukan gugatan pembagian hak waris pada April lalu. Namun, gugatan tersebut ditolak. Sehingga dia mengajukan gugatan kedua dengan materi gugatan tentang pembatalan hibah.

“Betul, kami mengajukan gugatan lagi. Kami hanya meminta keadilan dan hak kami, itu saja. Karena gugatan pertama tentang pembagian warisan ditolak. Lalu diarahkan untuk gugatan pembagian hibah dulu. Baru setelah itu, masuk gugatan keduanya untuk pembagian warisan,” tegasnya.

Dia menambahkan, objek gugatan dan pihak tergugatnya juga sama. Yakni, ada empat bidang tanah yang menjadi objek atau pokok persoalan gugatan. Dengan lima pokok gugatan. Yakni, tanah secara keseluruhan seluas 1.166, kemudian halaman depan atas nama Afrizal anak dari Rini seluas 142 meterpersegi, rumah induk seluas 250 persegi atas nama Wiwik.

Kemudian rumah di sisi timur milik Gunawan seluas 235 meter persegi, serta kebun belakang seluas 576 meter persegi atas nama Aris Haryono. Dia menilai pembagian hibah tersebut juga tidak merata dan melampui ketentuan syariat Islam. Apalagi, ada salah satu penerima hibah yang non Islam. Sedangkan menurutnya, secara syariat ada aturannya sendiri. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/