23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Uji Coba Berkali-kali, Diklaim Ramah bagi Pasien Diabetes

Kreativitas Mahasiswa asal Solo Produksi Bihun dari Ketan Hitam

RADARSOLO.ID – Ketan hitam tidak hanya untuk kudapan. Hasil penelitian sekelompok mahasiswa di Solo ini, bahan ini bisa dibuat makanan penurun gula darah yang diklaim khasiatnya setara dengan meminum obat pengontrol gula darah.

SEPTIAN REFVINDA,  Solo, Radar Solo

Bukan rahasia lagi jika ketan hitam merupakan bahan makanan yang kaya akan nutrisi. Ketan hitam pakai dipercaya menjadi salah satu makanan yang bermanfaat untuk penderita diabetesNamun, selama ini masyarakat masih mengenal ketan sebagai kudapan manis yang justru bisa meningkatkan gula darah.

Di tangan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi Surakarta ini, beras ketan hitam disulap menjadi makanan yang bisa membantu menurunkan gula darah.

Rachel Erdha Christyanna dan timnya mengubah beras ketan hitam menjadi bihun. Menariknya, bihun ini diklaim memiliki khasiat yang hampir menyerupai obat penurun gula darah. Aman dikonsumsi secara rutin oleh semua kalangan penderita diabetes. Jika bisanya para penderita diabetes harus rutin mengonsumsi obat untuk mengontrol gula darahnya, dengan adanya bihun ini mereka bisa mengurangi konsumsi obat untuk kesehatan ginjal.

“Berdasarkan uji penelitian yang sudah kami lakukan, 30 gram bihun jika dikonsumsi selama 28 hari itu khasiatnya hampir setara dengan mengonsumsi obat. Ini bisa menjadi terapi nutrisi untuk melengkapi pengobatan medis yang dijalankan, ” jelas Rachel.

Dari segi rasa dan tekstur, Rachel mengatakan, tidak jauh berbeda dengan bihun pada umumnya. Diolah dengan bahan-bahan organik, bihun tersebut dapat bertahan selama satu bulan. Bihun ekstrak beras ketan hitam tersebut juga tidak menggunakan garam sebagai tambahan bahannya. Sebab, garam dapat memicu meningkatkan tekanan darah. Untuk penderita diabetes, tekanan darah tinggi tentu akan berdampak fatal.

“Maka untuk rasanya masih terkesan hambar, jadi mudah untuk diaplikasikan di masakan yang lainnya,” imbuhnya.

Rachel mengatakan, dalam menciptakan inovasi tersebut banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya manajemen waktu yang sulit. Mengolah beras ketan hitam hingga menjadi sari pati untuk bahan membuat bihun membutuhkan waktu sekitar satu 7-10 hari lamanya. Butuh kesabaran ekstra untuk dapat menghasilkan 200-300 gram bihun beras ketan hitam.

“Satu kilogram beras ketan hitam itu bisa diolah menjadi bihun 200-300 gram saja, sulit memang untuk tahap prosesnya. Banyak memakan waktu dan butuh kesabaran dan ketelitian yang tepat,” ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk menghasilkan bihun beras ketan hitam tersebut, Rachel bersama timnya juga harus melakukan uji coba berkali-kali demi menemukan titik resep yang sempurna. Uji coba dilakukan pada tikus putih yang sebelumnya telah diberi penyakit diabetes. Selama uji coba tersebut, tak jarang masih menemukan kegagalan dan hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

“Kami gunakan tikus putih karena secara struktur hampir sama dengan manusia. Jika ini langsung diujikan ke manusia jauh lebih riskan. Maka kami lakukan uji coba berang-ulang hingga menemukan hasil yang kami inginkan,” ujar dia.

Bersama dengan timnya, Rachel juga memiliki harapan yang tinggi agar dapat memproduksi bihun beras ketan hitam tersebut secara masal. Dengan adanya inovasi tersebut, masyarakat penderita diabetes memiliki alternatif lainnya dalam hal mengontrol gula darah dalam tubuh melalui bahan pangan tanpa harus meminum obat.

“Semoga dengan temuan inovasi ini dapat dilirik oleh pemerintah dan dibantu produksi secara massal. Melihat manfaat dan khasiat yang ditimbulkan, bihun ini bisa menjadi alternatif bagi para penderita diabetes untuk mengontrol gula darah tanpa obat,” tandasnya. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Ketan hitam tidak hanya untuk kudapan. Hasil penelitian sekelompok mahasiswa di Solo ini, bahan ini bisa dibuat makanan penurun gula darah yang diklaim khasiatnya setara dengan meminum obat pengontrol gula darah.

SEPTIAN REFVINDA,  Solo, Radar Solo

Bukan rahasia lagi jika ketan hitam merupakan bahan makanan yang kaya akan nutrisi. Ketan hitam pakai dipercaya menjadi salah satu makanan yang bermanfaat untuk penderita diabetesNamun, selama ini masyarakat masih mengenal ketan sebagai kudapan manis yang justru bisa meningkatkan gula darah.

Di tangan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi Surakarta ini, beras ketan hitam disulap menjadi makanan yang bisa membantu menurunkan gula darah.

Rachel Erdha Christyanna dan timnya mengubah beras ketan hitam menjadi bihun. Menariknya, bihun ini diklaim memiliki khasiat yang hampir menyerupai obat penurun gula darah. Aman dikonsumsi secara rutin oleh semua kalangan penderita diabetes. Jika bisanya para penderita diabetes harus rutin mengonsumsi obat untuk mengontrol gula darahnya, dengan adanya bihun ini mereka bisa mengurangi konsumsi obat untuk kesehatan ginjal.

“Berdasarkan uji penelitian yang sudah kami lakukan, 30 gram bihun jika dikonsumsi selama 28 hari itu khasiatnya hampir setara dengan mengonsumsi obat. Ini bisa menjadi terapi nutrisi untuk melengkapi pengobatan medis yang dijalankan, ” jelas Rachel.

Dari segi rasa dan tekstur, Rachel mengatakan, tidak jauh berbeda dengan bihun pada umumnya. Diolah dengan bahan-bahan organik, bihun tersebut dapat bertahan selama satu bulan. Bihun ekstrak beras ketan hitam tersebut juga tidak menggunakan garam sebagai tambahan bahannya. Sebab, garam dapat memicu meningkatkan tekanan darah. Untuk penderita diabetes, tekanan darah tinggi tentu akan berdampak fatal.

“Maka untuk rasanya masih terkesan hambar, jadi mudah untuk diaplikasikan di masakan yang lainnya,” imbuhnya.

Rachel mengatakan, dalam menciptakan inovasi tersebut banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya manajemen waktu yang sulit. Mengolah beras ketan hitam hingga menjadi sari pati untuk bahan membuat bihun membutuhkan waktu sekitar satu 7-10 hari lamanya. Butuh kesabaran ekstra untuk dapat menghasilkan 200-300 gram bihun beras ketan hitam.

“Satu kilogram beras ketan hitam itu bisa diolah menjadi bihun 200-300 gram saja, sulit memang untuk tahap prosesnya. Banyak memakan waktu dan butuh kesabaran dan ketelitian yang tepat,” ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk menghasilkan bihun beras ketan hitam tersebut, Rachel bersama timnya juga harus melakukan uji coba berkali-kali demi menemukan titik resep yang sempurna. Uji coba dilakukan pada tikus putih yang sebelumnya telah diberi penyakit diabetes. Selama uji coba tersebut, tak jarang masih menemukan kegagalan dan hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

“Kami gunakan tikus putih karena secara struktur hampir sama dengan manusia. Jika ini langsung diujikan ke manusia jauh lebih riskan. Maka kami lakukan uji coba berang-ulang hingga menemukan hasil yang kami inginkan,” ujar dia.

Bersama dengan timnya, Rachel juga memiliki harapan yang tinggi agar dapat memproduksi bihun beras ketan hitam tersebut secara masal. Dengan adanya inovasi tersebut, masyarakat penderita diabetes memiliki alternatif lainnya dalam hal mengontrol gula darah dalam tubuh melalui bahan pangan tanpa harus meminum obat.

“Semoga dengan temuan inovasi ini dapat dilirik oleh pemerintah dan dibantu produksi secara massal. Melihat manfaat dan khasiat yang ditimbulkan, bihun ini bisa menjadi alternatif bagi para penderita diabetes untuk mengontrol gula darah tanpa obat,” tandasnya. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img