alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Novianto Yoga Cs Gagas Pertanian Terpadu: Panen Lele Cepat, Kakung Subur

RADARSOLO.ID – Mata pencaharian mayoritas penduduk di Desa Kragan, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar di bidang pertanian. Untuk memudahkan panen, sekelompok mahasiswa ini punya inovasi integrated farming zero waste. Berbasis kolam lele bioflok. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Kolam bioflok buatan Novianto Yoga Wibisono dan tim diklaim mampu membudidayakan ikan lele sebanyak 3 ribu ekor. Masa panennya pun lebih cepat. Hanya sekitar 2-3 bulan. Dengan jumlah panen sebanyak ini, hanya dibutuhkan kolam bioflok selebar diameter 3 meter. Artinya, lebih hemat tempat.

“Air kolam bioflok juga bisa digunakan untuk pupuk aquaponik. Di sisi samping kolam, kami buat aquaponik kangkung mengitari luas kolam. Nah, air kolam itu bisa jadi pupuk nutrisi untuk kangkungnya,” ujar Novianto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Metode ini disebut Novianto sebagai integrated farming zero waste atau pertanian terpadu bebas sampah. Sebab, air kolam bioflok bisa dialirkan ke tanaman yang mengelilinginya. Bahkan kandungan air tersebut bisa menyuburkan tanah. Sehingga metode integrated farming bisa diartikan sistem pertanian yang terintegrasi. Mulai dari peternakan, dalam hal ini ikan lele, kemudian pertanian aquaponik, dan olahan pupuk dari air kolam.

“Dari peternakan ikan lele itu kan ada air limbahnya. Nah, itu bisa diolah lagi untuk pertanian. Proses ini akhirnya membentuk siklus. Tujuannya, mendapatkan zero waste. Tanpa limbah sama sekali,” sambungnya.

Pengolahan air limbah kolam ikan lele inilah yang membedakan kolam bioflok dengan kolam konvensional biasanya. Pada kolam konvensional, hanya diisi air biasa. Sedangkan pada kolam bioflok ada proses persiapan, yakni pembuatan flok. Dibuat dari campuran probiotik, molase, kapur dolomit, dan garam grosok.

“Garam ini fungsinya untuk menyeterilkan air. Kemudian ada kapur dolomit untuk menetralkan ph air. Karena dalam kolam itu akan ada makhluk hidup berupa ikan lele. Jadi ph air perlu distabilkan. Sekitar 6-8 kadar normalnya,” imbuhnya.

Perlengkapan yang dibutuhkan dalam pembangunan kolam di antaranya rangka dasar kolam, brambit padi, pasir, dan semen. Setelah pembuatan kolam bioflok kelar, dilanjutkan pengisian air. Air diendapkan kurang lebih seminggu sebelum bibit ditebar. Proses pengendapan dilakukan untuk memurnikan air.

Air yang berasal dari kolam bioflok kemudian difilter dan disalurkan melalui sistem fertigasi tetes untuk mengairi tanaman yang berada di sekitar kolam bioflok milik Desa Kragan.

“Pembuatan saluran fertigasi tetes diawali dengan persiapan bahan seperti pipa ukuran setengah inci yang telah dilubangi 6 milimeter (mm), selang PE ukuran diameter 6 mm, stop kran, pompa akuarium dorongan 3 meter, pipa T, dan pipa L. Bahan tersebut disambungkan agar menjadi saluran fertigasi,” beber Novianto.

Pembangunan kolam bioflok dan pembuatan saluran fertigasi tetes menjadi salah satu langkah awal untuk mendukung program integrated farming. Ditambah konsep zero waste untuk mengurangi limbah pertanian. Pemanfaatan kembali limbah pertanian ini guna mendukung pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, Novianto tidak sendiri dalam pembuatan kolam bioflok ini. Dia dibantu 15 rekannya mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS).

“Kami menyambut baik kegiatan positif yang dilakukan teman-teman mahasiswa ini. Apalagi bisa bermanfaat bagi masyarakat desa. Kami mendukung segala kegiatan yang berhubungan dengan kemajuan desa,” ujar Kepala Desa Kragan, Widada. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Mata pencaharian mayoritas penduduk di Desa Kragan, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar di bidang pertanian. Untuk memudahkan panen, sekelompok mahasiswa ini punya inovasi integrated farming zero waste. Berbasis kolam lele bioflok. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Kolam bioflok buatan Novianto Yoga Wibisono dan tim diklaim mampu membudidayakan ikan lele sebanyak 3 ribu ekor. Masa panennya pun lebih cepat. Hanya sekitar 2-3 bulan. Dengan jumlah panen sebanyak ini, hanya dibutuhkan kolam bioflok selebar diameter 3 meter. Artinya, lebih hemat tempat.

“Air kolam bioflok juga bisa digunakan untuk pupuk aquaponik. Di sisi samping kolam, kami buat aquaponik kangkung mengitari luas kolam. Nah, air kolam itu bisa jadi pupuk nutrisi untuk kangkungnya,” ujar Novianto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Metode ini disebut Novianto sebagai integrated farming zero waste atau pertanian terpadu bebas sampah. Sebab, air kolam bioflok bisa dialirkan ke tanaman yang mengelilinginya. Bahkan kandungan air tersebut bisa menyuburkan tanah. Sehingga metode integrated farming bisa diartikan sistem pertanian yang terintegrasi. Mulai dari peternakan, dalam hal ini ikan lele, kemudian pertanian aquaponik, dan olahan pupuk dari air kolam.

“Dari peternakan ikan lele itu kan ada air limbahnya. Nah, itu bisa diolah lagi untuk pertanian. Proses ini akhirnya membentuk siklus. Tujuannya, mendapatkan zero waste. Tanpa limbah sama sekali,” sambungnya.

Pengolahan air limbah kolam ikan lele inilah yang membedakan kolam bioflok dengan kolam konvensional biasanya. Pada kolam konvensional, hanya diisi air biasa. Sedangkan pada kolam bioflok ada proses persiapan, yakni pembuatan flok. Dibuat dari campuran probiotik, molase, kapur dolomit, dan garam grosok.

“Garam ini fungsinya untuk menyeterilkan air. Kemudian ada kapur dolomit untuk menetralkan ph air. Karena dalam kolam itu akan ada makhluk hidup berupa ikan lele. Jadi ph air perlu distabilkan. Sekitar 6-8 kadar normalnya,” imbuhnya.

Perlengkapan yang dibutuhkan dalam pembangunan kolam di antaranya rangka dasar kolam, brambit padi, pasir, dan semen. Setelah pembuatan kolam bioflok kelar, dilanjutkan pengisian air. Air diendapkan kurang lebih seminggu sebelum bibit ditebar. Proses pengendapan dilakukan untuk memurnikan air.

Air yang berasal dari kolam bioflok kemudian difilter dan disalurkan melalui sistem fertigasi tetes untuk mengairi tanaman yang berada di sekitar kolam bioflok milik Desa Kragan.

“Pembuatan saluran fertigasi tetes diawali dengan persiapan bahan seperti pipa ukuran setengah inci yang telah dilubangi 6 milimeter (mm), selang PE ukuran diameter 6 mm, stop kran, pompa akuarium dorongan 3 meter, pipa T, dan pipa L. Bahan tersebut disambungkan agar menjadi saluran fertigasi,” beber Novianto.

Pembangunan kolam bioflok dan pembuatan saluran fertigasi tetes menjadi salah satu langkah awal untuk mendukung program integrated farming. Ditambah konsep zero waste untuk mengurangi limbah pertanian. Pemanfaatan kembali limbah pertanian ini guna mendukung pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, Novianto tidak sendiri dalam pembuatan kolam bioflok ini. Dia dibantu 15 rekannya mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS).

“Kami menyambut baik kegiatan positif yang dilakukan teman-teman mahasiswa ini. Apalagi bisa bermanfaat bagi masyarakat desa. Kami mendukung segala kegiatan yang berhubungan dengan kemajuan desa,” ujar Kepala Desa Kragan, Widada. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru