alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Karya Sendiri dari Kreasi Bonsai Akar Potongan Pohon 

Ketika Bonsai Jadi Buruan Penikmat Seni

RADARSOLO.ID – Pengaruh seni tradisional hortikultura bonsai, saat ini sudah menyebar sampai ke pelosok Indonesia. Bonsai juga merupakan warisan kuno seni botani yang terus bertahan sampai sekarang. Dan karya seninya bernilai jual tinggi.

Bonsai tidak hanya digemari oleh orang kalangan elite saja, melainkan juga pada kalangan masyarakat ekonomi biasa saja yang dapat menikmatinya.

Melihat potensi ini, akhirnya berdirilah Komunitas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) dengan sebaran cabangnya yang ada di mana-mana. Ini menandakan bahwa budaya kreasi pada pohon bonsai sudah terpenetrasi lebih luas di masyarakat Indonesia.

Meski awalnya dianggap kurang kerjaan karena setiap saat mencari bekas akar potongan kayu di berbagai lokasi, seperti perkebunan dan hutan. Namun dari hasil tersebut, ternyata dapat menumbuhkan kreativitas yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini juga mempunyai daya tarik tersendiri bagi sejumlah penghobi ataupun penikmat seni tanaman akar. Apalagi perkembangan seni dari bonsai begitu meroket.

Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara yang cukup positif. Akar-akar pohon yang sebelumnya hanya ditinggal dan dibakar, ternyata dikreasikan. Bahkan kreasi hasil dari bonsai akar sering kali dipamerkan di sejumlah kegiatan, baik secara formal maupun nonformal.

Salah satu pencinta kreasi bonsai akar asal Jatiyoso, Karanganyar, Muri Agusti Budi Utomo, mengungkapkan, seni akar bonsai sendiri sudah dicintai sejak lama. Bersama dengan sejumlah teman -temannya, Mury mengaku sering mencari akar sisa penebangan kayu yang ada di berbagai wilayah. Khususnya di perkebunan warga yang ada di Kawasan hutan Gunung Lawu.

Setelah akar-akar tersebut diambil dan dibersihkan dari beberapa kebun atau hutan, Mury selanjutnya mengubah akar tersebut menjadi sebuah karya seni. Dimana akar tersebut diletakan di sebuah pot dan didesain menyerupai sebuah tumbuhan yang benar-benar hidup tapi dalam ukuran kecil.

Tak hanya itu saja, dari berbagai bentuk serat akar dari berbagai jenis pohon. Dengan kreasi yang dia miliki, dia mengubah serat-serat tersebut menjadi seperti wajah manusia. Tentunya dengan dengan ditambahkan sedikit dedaunan yang muncul dari akar pohon itu untuk mengkreasikan karya.

”Bonsai dibuat dari berbagai jenis pohon-pohon yang telah mati karena ditebang untuk pembukaan lahan perumahan. Akar pohonnya itu justru disukai karena tidak perlu perawatan dibanding bonsai yang hidup dan besar. Kadang untuk akar juga kita buat untuk pot kemudian digabung dengan bonsainya” terang Mury, yang mengaku sudah puluhan tahun menggeluti kreasi bonsai tersebut.

Meski berasal dari limbah potongan kayu, namun setelah dikreasikan tekstur akar yang menyerupai ranting akan menjadi pemandangan yang sangat sedap dipandang mata. Berkat kesabaran dan keterampilan mengolah potongan kayu tersebut, saat ini Mury membentuk sebuah wadah pecinta bonsai di Karanganyar.

Dia juga menggelar sejumlah kegiat an pameran, untuk memperkenalkan bonsai di kalangan masyarakat. ”Beberapa akar yang memang cocok untuk pembuatan bonsai ada berbagai jenis, seperti serut, beringin, dn asam jawa. Bahkan sekarang pohon kelapa pun bisa dijadikan sebagai bonsai. Tergantung dari kreasi dan kesukaannya masing-masing dalam membuat bonsai,” ucapnya.

Ditanya terkait dengan harga kreasi bonsai, Muri mengaku masing-masing bonsai memiliki harga berbeda-beda. Dibedakan sesuai dengan kreasi dan usia tanaman bonsai itu sendiri. ”Ada yang Rp 5 juta hingga puluhan juta. Yang puluhan juta itu pastinya sudah dirawat beberapa tahun mungkin lebih dari 5 tahun atau 10 tahun,” pungkasnya. (rud/nik)

RADARSOLO.ID – Pengaruh seni tradisional hortikultura bonsai, saat ini sudah menyebar sampai ke pelosok Indonesia. Bonsai juga merupakan warisan kuno seni botani yang terus bertahan sampai sekarang. Dan karya seninya bernilai jual tinggi.

Bonsai tidak hanya digemari oleh orang kalangan elite saja, melainkan juga pada kalangan masyarakat ekonomi biasa saja yang dapat menikmatinya.

Melihat potensi ini, akhirnya berdirilah Komunitas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) dengan sebaran cabangnya yang ada di mana-mana. Ini menandakan bahwa budaya kreasi pada pohon bonsai sudah terpenetrasi lebih luas di masyarakat Indonesia.

Meski awalnya dianggap kurang kerjaan karena setiap saat mencari bekas akar potongan kayu di berbagai lokasi, seperti perkebunan dan hutan. Namun dari hasil tersebut, ternyata dapat menumbuhkan kreativitas yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini juga mempunyai daya tarik tersendiri bagi sejumlah penghobi ataupun penikmat seni tanaman akar. Apalagi perkembangan seni dari bonsai begitu meroket.

Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara yang cukup positif. Akar-akar pohon yang sebelumnya hanya ditinggal dan dibakar, ternyata dikreasikan. Bahkan kreasi hasil dari bonsai akar sering kali dipamerkan di sejumlah kegiatan, baik secara formal maupun nonformal.

Salah satu pencinta kreasi bonsai akar asal Jatiyoso, Karanganyar, Muri Agusti Budi Utomo, mengungkapkan, seni akar bonsai sendiri sudah dicintai sejak lama. Bersama dengan sejumlah teman -temannya, Mury mengaku sering mencari akar sisa penebangan kayu yang ada di berbagai wilayah. Khususnya di perkebunan warga yang ada di Kawasan hutan Gunung Lawu.

Setelah akar-akar tersebut diambil dan dibersihkan dari beberapa kebun atau hutan, Mury selanjutnya mengubah akar tersebut menjadi sebuah karya seni. Dimana akar tersebut diletakan di sebuah pot dan didesain menyerupai sebuah tumbuhan yang benar-benar hidup tapi dalam ukuran kecil.

Tak hanya itu saja, dari berbagai bentuk serat akar dari berbagai jenis pohon. Dengan kreasi yang dia miliki, dia mengubah serat-serat tersebut menjadi seperti wajah manusia. Tentunya dengan dengan ditambahkan sedikit dedaunan yang muncul dari akar pohon itu untuk mengkreasikan karya.

”Bonsai dibuat dari berbagai jenis pohon-pohon yang telah mati karena ditebang untuk pembukaan lahan perumahan. Akar pohonnya itu justru disukai karena tidak perlu perawatan dibanding bonsai yang hidup dan besar. Kadang untuk akar juga kita buat untuk pot kemudian digabung dengan bonsainya” terang Mury, yang mengaku sudah puluhan tahun menggeluti kreasi bonsai tersebut.

Meski berasal dari limbah potongan kayu, namun setelah dikreasikan tekstur akar yang menyerupai ranting akan menjadi pemandangan yang sangat sedap dipandang mata. Berkat kesabaran dan keterampilan mengolah potongan kayu tersebut, saat ini Mury membentuk sebuah wadah pecinta bonsai di Karanganyar.

Dia juga menggelar sejumlah kegiat an pameran, untuk memperkenalkan bonsai di kalangan masyarakat. ”Beberapa akar yang memang cocok untuk pembuatan bonsai ada berbagai jenis, seperti serut, beringin, dn asam jawa. Bahkan sekarang pohon kelapa pun bisa dijadikan sebagai bonsai. Tergantung dari kreasi dan kesukaannya masing-masing dalam membuat bonsai,” ucapnya.

Ditanya terkait dengan harga kreasi bonsai, Muri mengaku masing-masing bonsai memiliki harga berbeda-beda. Dibedakan sesuai dengan kreasi dan usia tanaman bonsai itu sendiri. ”Ada yang Rp 5 juta hingga puluhan juta. Yang puluhan juta itu pastinya sudah dirawat beberapa tahun mungkin lebih dari 5 tahun atau 10 tahun,” pungkasnya. (rud/nik)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/