alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Gugah Sisi Kemanusiaan lewat Aksi Nyata

Semangat Mujianto, Ketua FPRB Selo 2015-2021 Tak Pernah Surut

BOYOLALI – Mitigasi bencana bukan hal asing bagi Mujianto. Warga Pentongan RT 001 RW003, Samiran, Selo menjadi relawan kemanusiaan sejak 2006. Banyak pengalaman didapat ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Selo periode 2015-2021. Berikut petikan wawancaranya bersama Jawa Pos Radar Solo.

Apa kabar Mas Mujianto? Kegiatannya sekarang?

Alhamdulillah sehat. Merapi juga sehat. Tapi di masa pergantian musim seperti sekarang, rawan bencana alam. Jadi kegiatannya kalau nggak siaga di pos, ya bertani.

Motivasi aktif di penanganan bencana?

Awalnya pada 2006 terjadi erupsi Gunung Merapi lalu gempa Jogjakarta. Waktu itu masih awam tentang mitigasi bencana. Warga belum tahu harus mencari informasi di mana, ke mana dan bagaimana kondisi Gunung Merapi.  Lalu Kabupaten Magelang, Klaten, Boyolali dan Jogjakarta membentuk jaringan informasi lingkar (Jalin) Merapi untuk memberikan informasi akurat kepada warga.

Cara komunikasi dengan warga saat itu?

Banyak informasi hoax. Makanya kami berikan informasi lewat radio komunitas. Seperti MMC FM di Boyolali dan KFM di Magelang lalu lewat Twitter.

Titik balik kesadaran mitigasi bencana?

Erupsi Gunung Merapi 2010 menjadi pembelajaran berharga bagi kami. Saat itu ada 3.000 relawan yang membantu terkait komunikasi dan sebagainya.

Sejarah terbentuknya FPRB?

Pasca 2010, ada tim relawan dari sepuluh desa dan elemen lainnya berembuk. Difalisitasi camat Selo. Kami sepakat punya wadah untuk berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan bersilaturahmi. Lalu saya diminta mengoordinasi FPRB pada 2015. Lewat forum itu bisa bergerak cepat dan lebih tertata. Siapa, dimana melakukan apa, membutuhkan apa, dan bagaimana. Penanganan bencana lebih cepat.

Manfaat hadirnya FPRB?

Banyak. Memercepat penanggulangan bencana alam di daerah kami. Selain erupsi Merapi, terjadi tanah longsor dan puting beliung pada 2018. Saat itu, status Gunung Merapi naik ke level siaga. Ada yang mengungsi. Berlanjut 2020, Merapi berstatus siaga. Berbarengan dengan pandemi Covid-19. Sangat menyita tenaga. Mau mengungsi, tapi bertentangan dengan penanganan Covid-19. Tetap ada hikmahnya. Memudahkan berkoordinasi, komunikasi dan menginformasikan ke masyarakat serta pemerintah.

Evaluasi penanganan kebencanaan di Selo?

Kondisi saat ini lebih baik. Bermunculan organisasi relawan. Makanya penting diwadahi, karena maaf, ada yang hanya ikut-ikutan. Hoax tentang kondisi Merapi harus bersama-sama ditangkal dengan memberikan informasi secara cepat dan akurat.

RISIKO TINGGI: Pantau aktivitas Gunung Merapi dari dekat. (ISTIMEWA)

Upaya sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat?

Saya mencoba menggugah sisi kemanusiaan masyarakat ketika terjadi bencana banjir di Jakarta 2013 silam. Saya ajak mengirim sayur. Ternyata warga tergerak. Nah itu menarik. Mereka sadar bahwa pada erupsi Gunung Merapi 2010, bantuan datang dari seluruh penjuru Nusantra. Ternyata ketika suatu daerah terjadi bencana, daerah lain ikut membantu. Hasilnya, diperoleh sayuran sebanyak dua truk. Kami kirim dua kali ke Jakarta. Padahal saat itu harga sayur lumayan (mahal).

Harapan peningkatan kualitas penanganan bencana?

Yang sudah baik dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Artinya dari sisi koordinasi, komunikasi, saling mengingatkan satu sama lain. Silaturahmi antarrelawan juga harus terjalin baik. Termasuk dengan pemerintah. Untuk regenerasi relawan, pada 2021 saya sudah menyerahkan FPRB ke teman-teman untuk memegang kendali. Saya ini sudah demisioner. Tapi karena urusan kemanusiaan, kalau belum ada yang koordinir, maka saya tetap aktif membantu. (rgl/wa)

BOYOLALI – Mitigasi bencana bukan hal asing bagi Mujianto. Warga Pentongan RT 001 RW003, Samiran, Selo menjadi relawan kemanusiaan sejak 2006. Banyak pengalaman didapat ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Selo periode 2015-2021. Berikut petikan wawancaranya bersama Jawa Pos Radar Solo.

Apa kabar Mas Mujianto? Kegiatannya sekarang?

Alhamdulillah sehat. Merapi juga sehat. Tapi di masa pergantian musim seperti sekarang, rawan bencana alam. Jadi kegiatannya kalau nggak siaga di pos, ya bertani.

Motivasi aktif di penanganan bencana?

Awalnya pada 2006 terjadi erupsi Gunung Merapi lalu gempa Jogjakarta. Waktu itu masih awam tentang mitigasi bencana. Warga belum tahu harus mencari informasi di mana, ke mana dan bagaimana kondisi Gunung Merapi.  Lalu Kabupaten Magelang, Klaten, Boyolali dan Jogjakarta membentuk jaringan informasi lingkar (Jalin) Merapi untuk memberikan informasi akurat kepada warga.

Cara komunikasi dengan warga saat itu?

Banyak informasi hoax. Makanya kami berikan informasi lewat radio komunitas. Seperti MMC FM di Boyolali dan KFM di Magelang lalu lewat Twitter.

Titik balik kesadaran mitigasi bencana?

Erupsi Gunung Merapi 2010 menjadi pembelajaran berharga bagi kami. Saat itu ada 3.000 relawan yang membantu terkait komunikasi dan sebagainya.

Sejarah terbentuknya FPRB?

Pasca 2010, ada tim relawan dari sepuluh desa dan elemen lainnya berembuk. Difalisitasi camat Selo. Kami sepakat punya wadah untuk berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan bersilaturahmi. Lalu saya diminta mengoordinasi FPRB pada 2015. Lewat forum itu bisa bergerak cepat dan lebih tertata. Siapa, dimana melakukan apa, membutuhkan apa, dan bagaimana. Penanganan bencana lebih cepat.

Manfaat hadirnya FPRB?

Banyak. Memercepat penanggulangan bencana alam di daerah kami. Selain erupsi Merapi, terjadi tanah longsor dan puting beliung pada 2018. Saat itu, status Gunung Merapi naik ke level siaga. Ada yang mengungsi. Berlanjut 2020, Merapi berstatus siaga. Berbarengan dengan pandemi Covid-19. Sangat menyita tenaga. Mau mengungsi, tapi bertentangan dengan penanganan Covid-19. Tetap ada hikmahnya. Memudahkan berkoordinasi, komunikasi dan menginformasikan ke masyarakat serta pemerintah.

Evaluasi penanganan kebencanaan di Selo?

Kondisi saat ini lebih baik. Bermunculan organisasi relawan. Makanya penting diwadahi, karena maaf, ada yang hanya ikut-ikutan. Hoax tentang kondisi Merapi harus bersama-sama ditangkal dengan memberikan informasi secara cepat dan akurat.

RISIKO TINGGI: Pantau aktivitas Gunung Merapi dari dekat. (ISTIMEWA)

Upaya sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat?

Saya mencoba menggugah sisi kemanusiaan masyarakat ketika terjadi bencana banjir di Jakarta 2013 silam. Saya ajak mengirim sayur. Ternyata warga tergerak. Nah itu menarik. Mereka sadar bahwa pada erupsi Gunung Merapi 2010, bantuan datang dari seluruh penjuru Nusantra. Ternyata ketika suatu daerah terjadi bencana, daerah lain ikut membantu. Hasilnya, diperoleh sayuran sebanyak dua truk. Kami kirim dua kali ke Jakarta. Padahal saat itu harga sayur lumayan (mahal).

Harapan peningkatan kualitas penanganan bencana?

Yang sudah baik dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Artinya dari sisi koordinasi, komunikasi, saling mengingatkan satu sama lain. Silaturahmi antarrelawan juga harus terjalin baik. Termasuk dengan pemerintah. Untuk regenerasi relawan, pada 2021 saya sudah menyerahkan FPRB ke teman-teman untuk memegang kendali. Saya ini sudah demisioner. Tapi karena urusan kemanusiaan, kalau belum ada yang koordinir, maka saya tetap aktif membantu. (rgl/wa)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/