Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ketika Seniman di Klaten Bertahan Hidup dengan Buka Usaha Angkringan

Damianus Bram • Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:30 WIB
BERTAHAN: Sejumlah seniman sedang menata berbagai menu angkringan yang hendak disajikan ke pelanggan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
BERTAHAN: Sejumlah seniman sedang menata berbagai menu angkringan yang hendak disajikan ke pelanggan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Kegiatan seni dan budaya di Klaten mulai dilonggarkan. Tetapi kondisi itu belum mampu mengubah nasib seniman ketoprak dan audio visual di kota itu. Seperti dua seniman ini,  Margono dan Suyoto. Bagaimana mereka bertahan?

ANGGA PURNDA, Klaten, Radar Solo

Sebuah usaha angkringan telah berdiri pada lahan berdekatan pada palang pintu kereta api di daerah Krapyak, Kecamatan Klaten Selatan. Angkringan yang menawarkan spesial wedang rempah itu baru aktif sekitar satu minggu ini. Ada pun angkringan itu dinamai Pak Lethek yang merujuk pada salah satu pemilik usaha tersebut.

Saat Jawa Pos Radar Solo menghampiri angkringan itu tampak Margono sedang sibuk menata nasi bungkus. Dia adalah pria yang dimaksud Pak Lethek yang berasal dari Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan. Sebelum mengelola usaha angkringan, pria 51 tahun ini sibuk dengan pementasan ketoprak karena memang seorang seniman.

Saat berjualan itu dia ditemani seorang pria yang menyiapkan berbagai menu angkringan yakni Suyoto. Pria yang berusia 48 tahun itu berasal dari Kecamatan Bayat dan lebih akrab dipanggil Paijo. Sebelum membantu dalam usaha angkringan itu dia juga malang-melintang dengan kegiatan shooting karena dia adalah seniman audio visual.

Kedua seniman itu memang terkena dampak pandemi Covid-19 karena gelaran seni dan budaya sempat tidak boleh digelar. Hal itu berimbas pada kesulitan ekonominya. Hingga akhirnya ada seorang donatur yang memberikan modal usaha untuk membuka angkringan.

“Jadi kronologi awalnya itu teman-teman seniman ini menangis harus bagaimana dengan kondisi ini. Mengingat kegiatan seni budaya tidak boleh diadakan. Hingga akhirnya terbentuk paguyuban gentayangan budaya beranggotakan 25 orang dari berbagai latarbelakang seniman,” ucap inisiator Paguyuban Gentayangan Budaya Klaten,  Supriyadi, 51, yang juga seniman tari dari Kecamatan Cawas.

Pria berambut gondrong yang lebih akrab dipanggil Jimbling itu lantas menginisiasi kegiatan seni dan budaya dengan membuat konten pada situs berbagi video. Menampilkan sejumlah karya yang mendapatkan apresiasi melalu like hingga subscribe. Tetapi dalam perjalanannya para seniman mengeluhkan hal baru yakni terkait ekonomi.

“Hingga akhirnya diinisiasi untuk membuka usaha angkringan dengan dibantu modal usaha dari donatur sekitar Rp 5 juta. Usaha angkringan ini tidak saja menjadikan dapur sekadar mengebul, tetapi juga menjadi pelipur lara ketika sepi tawaran manggung. Angkringan ini juga menjadi tempat curhat para seniman di Klaten atas kondisi saat ini,” ucap Jimbling.

Berbagai menu bisa dijumpai di angkringan itu seperti nasi bandeng, aneka gorengan, aneka sate hingga minuman. Angkringan yang dikelola dua seniman itu telah menghasilkan pendapatan rata-rata sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Bahkan hendak membuka cabang baru di Gunungkidul yang juga dikelola oleh seniman dalam paguyuban yang sama.

Salah satu seniman yang mengelola angkringan itu, Margono mengaku, jika sebelum pandemi Covid-19 biasanya mendapatkan pemasukan Rp 1 juta per bulan dari pementasan ketoprak. Tetapi saat kegiatan seni dan budaya tidak diperbolehkan selama pandemi kondisi ekonomi morat-marit. Bahkan sebagai seorang seniman mengaku kesulitan mendapatkan bantuan.

“Para seniman ini mati-matian mempertahankan seni tradisional. Tapi kondisinya saat ini tambah sulit. Sangat berbeda di era 1980-an ketika ketoprak di masa kejayaannya,” ucap Margono yang menekuni sebagai seniman ketoprak sejak usia 14 tahun itu.

Kini dengan banting stir menjadi pedagang angkringan Margono cukup menikmati profesi barunya itu. Meski dalam hartinya ada keinginan untuk bisa tampil sebagai seniman ketoprak. Apalagi kegiatan seni dan budaya sudah diperbolehkan digelar dengan berbagai pembatasan. Ketika nanti tawaran untuk manggung ke depan semakin banyak direncanakan usaha angkringan tetap berjalan dengan dikelola para seniman.

“Kami berharap pemkab juga memberikan ruang pada kami para seniman. Misalnya saja saat menggelar berbagai event tetap berkolaberasi dengan seni tradisional. Kalau tidak dilibatkan seni tradisional akan mati pelan-pelan,” ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Seniman di Klaten #Seniman di Klaten Buka Usaha Angkringan #Seniman Bertahan Hidup di Masa Pandemi #Seniman di Klaten Buka Angkringan