Kepala Sekolah Home Schooling Kak Seto (HSKS) Solo Heru Suwignyo mengatakan, program yang diberikan kepada para peserta didiknya adalah membuat anak belajar senyaman mungkin seperti konsep rumah. “Sehingga mereka bisa belajar layaknya bersama keluarga. Kemudian kita brake down menjadi konsep,” ujarnya.
Di HSKS sendiri, ada tiga jenis program yang ditawarkan. Yakni, konsep kelas yang disebut komunitas, kemudian distance learning (DL) atau belajar di rumah dengan tenaga guru dari HSKS, serta ketiga difasilitasi pendidikan berbasis keluarga.
“Jadi tutornya adalah orang tuanya, dengan pendampingan dan pemantauan secara berkala dari kami,” ujarnya.
Selain kurikulum yang ditetapkan pemerintah, ada juga kurikulum yang didesain dari HSKS untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). “Jadi divisi kurikulum dan penjaminan mutu akan melakukan observasi. Akan kami lihat kebutuhan anak. Dari situ kami susun program apa yang diberikan kepada anak tersebut,” ujarnya.
Ditambahkan Heru, sebelum masuk, calon peserta didik akan bertemu dengan konselor dan pakar psikologi. Dari hasil itu muncul rekomendasi apakah anak tersebut masuk program komunitas, DL, atau berbasis keluarga.
“Kemudian kami lihat dari pendataan riwayat. Misal kendala di sosialisasi, maka kami arahkan ke komunitas. Ada juga siswa yang memang tidak bisa berbaur karena akan mengganggu proses belajar mengajar, maka kami arahkan dulu ke DL, baik nanti bersama tutor atau dengan orang tua. Tapi nanti tetap kami persiapkan individu anak ini masuk ke komunitas,” imbuh Heru.
Berdasarkan bobot satuan kredit kompetensi (SKK), di dalam kurikulum pembelajaran akademik sebesar 40 persen, sedangkan untuk praktik dan penambahan skill tergantung anak. “Karena konsep dari homeschooling ke arah penguatan diri, praktiknya difasiitasi lembaga, dan aktif secara personal dengan didampingi keluarga,” katanya.
Direktur HSKS Solo Anna Widyati menambahkan, pihaknya terus berbenah guna mengembangkan pendidikan non formal di eks Karesidenan Surakarta, Mengingat, HSKS merupakan satu-satunya homeschooling di Jawa Tengah. “Jadi kami terus menjalin kemitraan untuk pengembangan itu dan kolaborasi,” ujarnya.
“Kami terus menjalin MoU dengan lembaga pendidikan, lembaga bakat minat, lembaga terapis, kemudian biro psikologi dan terakhir dengan PP PAUD Dikmas. Harapannya home schooling tidak lagi menjadi sekolah alternatif, namun jadi sekolah tujuan bagi calon peserta didik yang ingin mencari konsep sekolah rumahan,” urianya.
Diakui Anna, mengubah stigma masyarakat terkait homeschooling memang tidak mudah. Kesan ekslusif selalu disematkan. “Kalau sekolah di homeschooling itu pasti mahal, kemudian cuma untuk anak-anak bermasalah atau berkebutuhan khusus, padahal tidak,” ucapnya.
Atas dasar itu, pihaknya sedang berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut. Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Terbukti banyak saat ini yang bergabung dengan kita memang menjadi tujuan,” imbuh Anna.
Bagi para siswa, selain mengedepankan sisi akademik, potensi anak juga ikut dipikirkan. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan mereka setelah lulus dari sekolah tersebut agar bisa berkembang. “Segala potensi dari siswa akan kami deteksi sejak masuk, kemudian saat dalam proses belajar mengajar akan terus kita kembangkan,” paparnya. (atn/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra