SILVESTER KURNIAWAN, Sukoharjo
DITEMUI di home recording miliknya, Jalan Gelatik No. 73 Perumahan Dosen UNS IV, Triagan, Mojolaban, Sukoharjo, kemarin, pria gondrong yang akrab disapa Aak ini tampak sedang santai di studio mungilnya. Kebetulan dia memang tak ada jadwal untuk mengerjakan projek rekaman seperti hari biasanya. “Kalau sekarang kesibukannya ya hanya rekaman beberapa kawan band indie atau projek lain dari berbagai instansi. Agak longgar kalau waktu-waktu ini,” kata pria kelahiran Solo, 5 Februari 1992 itu.
Bagi Aak, musik adalah peluang terbaiknya untuk bisa berkarya di tempat yang dia gemari. Pria yang suka membiarkan rambutnya terurai ini memang lebih banyak di balik layar pascakecelakaan yang menimpanya. Namun semangatnya tak kalah dengan orang-orang di luar sana yang masih bisa menghibur banyak orang dengan musik.
“Awalnya dulu saya juga bermusik. Setelah kecelakaan tahun 2015 akhirnya saya putuskan untuk dibalik layar saja. Akhirnya malah kesampaian bikin studio rekaman seperti ini,” kata dia.
Sejak SMP Aak aktif bermusik dengan membentuk band bersama kawan-kawan sekolahnya. Masuk SMA dia mulai masuk komunitas dan bermusik bersama sejumlah kenalannya dari berbagai sekolah hingga akhirnya kepengin memiliki karya sendiri.
Sejak itu Aak kian intens di komunitas musik indie di Kota Bengawan hingga dia duduk di bangku perguruan tinggi. “Dulu sama kawan-kawan sempat bentuk komunitas Solo Blues Rock. Salah satu sarat agar bisa gabung waktu itu mesti punya karya. Tak harus sempurna, minimal ada dulu karyanya. Nah dari situ makin termotivasi untuk record lagu sendiri,” jelas dia.
Keterbatasan dana kala itu tak membuat Aak menyerah. Perkawanan yang cukup luas di dunia musik indie di Kota Solo akhirnya memberi kesempatan dia lebih mengenal orang-orang yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia rekaman dan musik jenis itu. Dari sana dia mulai mendalami dunia rekaman meski belum secara utuh.
“Mulai 2009 saya belajar bagaimana cara rekaman dan lainnya, tapi belum serius. Kemudian 2010 bersama kawan-kawan sempat bikin komunitas Solo Blues Rock. Kebetulan salah satu syaratya kala itu harus punya karya dan akhirnya makin termotivasi untuk buat musik sendiri,” terang Aak.
Nah, 2010 studio rekaman miliknya mulai terlihat. Bentuknya masih sangat sederhana dan bisa dikategorikan dalam istilah bedroom recording karena rekamannya di kamar dengan alat record sederhana yang bersanding dengan kasur dan bantal guling miliknya. Meski demikian, dapur rekaman miliknya sudah ramai disinggahi beberapa kenalan, namun masih untuk kalangan sendiri. Belum terbuka untuk umum.
“Jadi waktu itu tak pernah cari uang dari kegiatan ini. Nah, 2014 mulai pakai nama Pregnant Pause Records, tapi masih untuk kalangan sendiri. Teman-teman sendiri. Kalau ditanya kapan momentumnya serius di studio rekaman ya momennya pasca kecelakaan 2015 itu,” kata dia.
Kecelakaan yang hampir menyedot seluruh energi kehidupannya itu terjadi 2015 lalu. Kecelakaan tunggal di depan Kampus UNS kala itu membuat dia harus menjalankan operasi dan terapi panjang untuk kesembuhannya. Untung saja semangat hidupnya tidak runtuh bersamaan dengan kecelakaan kala itu.
“Pada 2015 saya kecelakaan tunggal, menabrak trotoar, dan patah kaki kanan. Waktu kecelakaan itu saya dalam keadaan sadar karena memang tak merasakan sakit apapun. Baru ketika mau berdiri ternyata kaki saya patah,” beber Aak.
“Dokter bilang karena patahnya di bagian sendi ada kemungkinan akan ada dampak (lumpuh) secara permanen,” papar dia.
Layaknya manusia biasa, Aak pun sempat kehilangan kepercayaan diri untuk bisa sembuh setelah vonis itu. Setelah 8 bulan terapi panjang belum ada perubahan pada fungsi motorik kaki kanannya. Akhirnya dia pun pasrah dengan keadaannya itu dan mulai menerima kondisi tersebut. Beruntung keluarga dan kenalan dekatnya selalu memberi dukungan yang sangat besar saat pemulihan kala itu.
“Dulu dokter bilang saraf saya putus dan kemungkinan parah. Katanya ditunggu sambil terapi sampai 10 bulan dulu. Jika tak ada perkembangan kemungkinan (lumpuh) permanen. Dan ternyata memang permanen. Dari lutut ke ujung jari kaki kanan tidak bisa digerakkan,” kata si bungsu dari pasangan Munnie Ardhie dan Ning Yuliastuti itu.
Rutinitas yang berubah total dari sebelumnya banyak kegiatan hingga hanya berdiam diri di rumah sempat membuat Aak frustasi. Tapi justru dari sanalah ide meneruskan studio rekaman yang sempat tertunda dulu harus segera dieksekusi. Toh kalaupun dia ikut orang dalam berbagai event justru akan membuat repot orang-orang di sekitarnya dengan keterbatasan yang dimiliki. Setahun pasca pemulihan, Aak makin mantap menyeriusi home recording miliknya.
“Dari dulu bisa ke mana-mana sekarang hanya di kamar. Dari sana mulai berpikir, kira-kira apa yang bisa saya lakukan tapi tidak terlalu repot? Akhirnya ya ketemu ide bikin home record itu,” kata dia.
Aak mulai melengkapi sudio rekaman miliknya dengan berbagai alat yang lebih mendukung. Alhasil kamar munggilnya disulap menjadi sebuah kamar rekaman sederhana yang lebih profesional. Dari situ Aak mulai menerima klien. Klien pertama kala itu datang dari sebuah band indie di Kota Solo untuk membuat satu album baru berisi 7-8 lagu. Dalam sebulan, Aak mampu merampungkan seluruh proses rekaman dan momen itulah kali pertama Aak mendapat bayaran secara profesional atas kerja kerasnya dibalik dapur rekaman itu.
“Waktu dibayar Rp 700 ribu, uangnya langsung saya pakai buat jebol tembok dan bikin akses baru biar yang main ke studio tidak perlu masuk lewat dalam rumah. Nah setelah studionya lebih mendukung akhirnya makin banyak yang rekaman di sini,” jelas dia.
Sebagai bentuk keseriusan lainnya, Aak memutuskan memperdalam ilmu rekaman dan pengaturan sound ke Jogjakarta. Pelajaran selama setahun itu dia tempuh dengan menggunakan kereta api sekalipun dia masih berjalan menggunakan kruk (penyangga). Alhasil, kemampuan serta relasi Aak akan dunia rekaman makin luas.
Bahkan beberapa alat di studio rekaman miliknya ini merupakan pinjaman dari berbagai kenalan dekatnya. Salah satunya adalah salah satu personel band ternama di Indonesia. “Yang saya banggakan hanya ilmu. Ini yang buat saya lebih percaya diri. Makanya kalau di tempat saya ini biaya rekaman tidak saya pukul rata. Karena tujuan awal saya buat studio ini biar bisa bantu kawan-kawan yang pengin punya karir namun terbatas dana,” jelas dia.
Ke depan, Aak inginn mengembangkan studio miliknya dengan lebih baik. Tidak hanya bisa untuk rekaman, namun juga dapat untuk latihan band. Tentunya juga ramah lingkungan dan lebih kedap agar tetangga kanan kiri tidak merasa terganggu dengan suara rekaman. Dia berharap tempat miliknya itu bisa jadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
“Penginnya di tempat ini orang-orang bisa mendapatkan motivasi dalam bermusik. Dan yang datang sudah dengan motivasi bisa makin termotivasi untuk terus berkarya. Jangan berhenti berkarya hanya karena berbeda dari orang lain. Saya menemukan semangat hidup karena musik, karena itu saya pengin berbuat banyak untuk musik,” tuturnya. (*/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra