Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kisah Didit Marsanto, yang Berhasil Raup Cuan dari Ternak Ular Piton

Damianus Bram • Selasa, 29 Maret 2022 | 15:00 WIB
PELUANG BISNIS: Didit Marsanto memegang ular piton miliknya, Senin (28/3). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
PELUANG BISNIS: Didit Marsanto memegang ular piton miliknya, Senin (28/3). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Hobi tidak hanya melahirkan kesenangan, namun bila dikelola dengan baik bisa menjadi ladang bisnis. Nah, ini yang dilakukan Didit Marsanto, 29. Pria asal Pracimantoro, Wonogiri ini memiliki hobi beternak dan bisnis ular piton.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Ular piton berwarna dominan kuning melilit di tangan Didit Marsanto. Tidak ada rasa takut di wajah warga lingkungan Belik RT 02 RW 11 Kelurahan/Kecamatan Pracimantoro itu. Sementara ular-ular lain ditaruh di dalam kotak kabinet tertata rapi.

"Awalnya memang suka melihat ular sejak kecil. Dulu lihat acara di TV yang sering menyiarkan soal binatang, khususnya ular," kata dia ditemui di rumahnya kemarin (28/3).

Dari kecintaan terhadap ular itu, Didit lantas mencoba untuk memeliharanya. Usai lulus SMA, dia mencoba membeli satu ular piton jantan ke pengepul ular seharga Rp 50 ribu.

Ular yang dibeli pun kian besar dan dia enggan menjualnya. Didit berpikir untuk mencarikan ularnya betina agar bisa berkembang biak. "Siklus perkembangbiakan atau mengawinkan ular terjadi satu kali dalam setahun," kata dia.

Menurut dia, musim kawin ular terjadi pada Mei - Juli. Setelah berhasil kawin, pada dua hingga tiga bulan berikutnya terjadi ovulasi. Lalu, tiga bulan selanjutnya, atau sekitar akhir tahun ular mulai bertelur dan menjalani masa inkubasi.

Kini, Didit melakukan proses inkubasi sendiri. Usai telur dipisahkan dari induknya, ditaruh ke dalam wadah berbentuk kotak yang dibuatnya dari kulkas bekas yang telah dimodifikasi. Suhu di dalamnya pun diatur antara 28 derajat hingga 31 derajat.

"Proses inkubasi dari telur keluar hingga menetas membutuhkan waktu tiga bulan," beber Didit.

Pertama kali mengawinkan ular, dia mengaku sempat gagal. Dari 50 telur yang dikeluarkan indukan, yang menetas hanya tiga ekor. Menurut dia kegagalan itu sebagian besar dialami saat proses inkubasi.

"Karena awal-awal gagal, saya mencoba mencari referensi dan pengalaman agar lebih tahu," kata dia.

Didit mengaku, baru mulai berhasil mengawinkan ular sekitar tiga tahun lalu, hasil yang diperoleh sudah lumayan. Namun menurut dia, dari 50 telur ular piton yang keluar tidak semuanya bisa menetas. Dari jumlah itu pasti ada satu atau dua telur yang gagal menetas.

Diakui, sangat sulit menetaskan semua telur ular dengan sempurna. Entah karena gennya kurang kuat, cacat saat inkubasi atau sebagainya.

"Saat betina dan jantan dicampurkan belum tentu kawin, saat kawin belum tentu bertelur. Saat bertelur belum tentu menetas dan saat menetas juga belum tentu hidup," beber dia.

Dia pertama kali menjual ular pada 2018 lalu. Saat itu, Didit hanya menjual tiga ekor ular yang dia hasilkan dari proses pengawinan ular pertama.

Ular yang dijual juga yang belum berumur lama atau saat masih bayi. Ular yang masih anakan itu dihargai mulai Ro 100 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung jenis ular. Ular itu ditawarkan lewat media sosial dan dipaketkan ke alamat pembeli.

"Pasaran yang ramai di eks Karesidenan Surakarta dan Jogjakarta. Tapi juga pernah sampai Sumatera dan Bali," beber dia.

Kini, dia memiliki 43 ekor ular. Rinciannya enam ekor indukan betina, empat ekor indukan jantan dan sisanya ular yang masih kecil. Semuanya berjenis piton. Hanya, cotak dan motif kulitnya berbeda dan memengaruhi harga jual.

"Makannya ayam untuk yang indukan, tiga ekor ayam sebulan sekali. Yang kecil tikus putih dan kepala ayam. Biaya operasional sebulan sekitar Rp 500 ribu. Ular itu makan, kemudian kencing, mengeluarkan kotoran putih, lalu keluar kotoran hitam dan makan lagi. Siklusnya begitu," kata Didit.

Dia juga mengaku sering digigit ular yang dipeliharanya itu. Namun menurutnya itu wajar, apalagi yang menggigit ular berukuran kecil dan tidak berbisa.

Didit mengatakan, hobi itu cukup menjanjikan baginya. Sebab, dia belum pernah merugi. Bahkan dia pernah mendapatkan uang hingga Rp 4 juta saat menjual bayi ularnya.

"Tapi ular yang saya jual ini kelasnya masih standar saja, tidak bagus-bagus," ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Jual Ular Piton #Didit Marsanto #Ternak Ular Piton #ular piton