Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jablak, Ikat Kepala Khas Klaten: Jadi Oleh-Oleh Turis Jepang hingga Suriname

Damianus Bram • Minggu, 24 Juli 2022 | 23:00 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Apriyanta saat mendampingi tenaga penjahit di rumah produksinya di Omah Wayang, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
NGURI-URI BUDAYA: Apriyanta saat mendampingi tenaga penjahit di rumah produksinya di Omah Wayang, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Berawal dari menghadiri berbagai acara kebudayaan kadang membuat seseorang terinspirasi untuk ikut mengembangkan seni atau budaya yang ada di daerah asalnya. Seperti yang akhirnya dirasakan oleh Kristian Apriyanta, 42.

Kristian mengakui, sebelumnya dia sering bertemu komunitas budaya yang menampilkan ciri khas daerahnya. Dia tergerak membuat kerajinan yang bisa mewakili tanah kelahirannya yakni Klaten.

Hingga akhirnya  pada 2014-2015 dia mulai mendesain ikat kepala yang tidak keluar dari pakem gaya Kasunanan Surakarta.

Pria yang akrab dipanggil Apriyanta itu lantas meminta seorang penjahit untuk mengimplementasikan desainnya menjadi ikat kepala berbahan kain perca. Ada pun motif yang digunakan yakni batik, lurik, hingga polosan. Dia memberi nama jablak dengan model pertama yang dibuatnya yakni mondol. Sebelum akhirnya berkembang model jadi klencer, sumping, dan banyu utah.

Ikat kepala jablak yang dibuat Apriyanta itu memiliki makna filosofis sebagai orang Jawa. Pada bagian belakang dalam bentuk ikatan persatuan yang membulat menguat antara rakyat dan pemimpinnya. Kemudian pada bagian atas tanpa penutup sebagai simbol keterbukaan masyarakat dalam menerima segala sesuatu.

Tepat di bagian depan ikat kepala terdapat klincir segitiga yang menghadap ke bawah dan berada di tengah kening. Memiliki makna harmonisasi alam dengan manusia menuju satu titik yakni ketuhanan. Sebagai landasan berpikir dan selalu lembah manah andap asor.

Sementara itu pada bagian samping ikap kepala terdapat wiron hitam. Memiliki makna bersatunya lapisan masyarakat Klaten dalam keteguhan sikap kebersamaan dan gotong-royong.

“Saat dilakukan uji publik, ternyata produk ini diminati masyarakat. Hingga akhirnya berkembang berbagai model yang bisa digunakan untuk pria dan wanita. Apalagi ikat kepala khas Klaten ini begitu fleksibel, sehingga bisa dipadupadankan saat menggunakan berbagai busana,” ucap Apriyanta saat ditemui di rumah produksinya di Omah Wayang, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan, Jumat (22/7).

Lebih lanjut, Apriyanta menjelaskan, dalam proses produksi melibatkan enam tenaga penjahit di Omah Wayang. Termasuk memberdayakan empat tenaga penjahit dari luar ketika ada pesanan dalam jumlah ribuan. Setiap penjahit setidaknya bisa memproduksi 15 ikat kepala dalam sehari dengan berbagai ukuran.

“Ikat kepala yang kami produksi memiliki diameter sekitar 15 cm hingga 55 cm sehingga bisa digunakan untuk anak-anak hingga orang dewasa. Untuk harganya sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu per bijinya tergantung ukuran dan model yang digunakan,” ucap pria kelahiran Klaten, 24 April 1980 ini.

Promosi terhadap produk ikat kepala khas Klaten itu dilakukannya secara online dan disetiap kesempatan acara seni dan budaya. Sedangkan penjualan dipasarkan pada sejumlah toko batik di Klaten dan Jogja. Termasuk menerima pesanan dari Solo, Madiun hingga Wonosobo. Begitu juga turis asing dari Jepang, Belgia dan Suriname yang datang secara langsung ke rumah produksi di Omah Wayang.

“Justru minat yang tinggi datang dari para turis asing. Mereka yang datang langsung membeli ikat kepala Jablak ini untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang ke negaranya. Kalau di Klaten dalam sebulan rata-rata baru terjual 50 ikat kepala per bulannya,” ucapnya.

Diakuinya, penjualan ikat kepala khas Klaten di dalam negeri baru datang dari komunitas seni dan budaya. Apriyanta pun ingin mengenalkan ikat kepala secara luas bagi masyarakat Klaten. Maka itu sedang diurus hak kekayaan intelketual (HKI) terhadap produk Jablak sehingga kedepannya bisa diproduksi secara massal.

“Kami harapkan tidak hanya menggunakan saja. Tetapi juga mempelajari dan memahami filosofis dari ikat kepala Jablak. Termasuk makna dan ajarannya,” pungkasnya. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Jablak #Ikat Kepala Khas Klaten #Ikat Kepala #Ikat Kepala Jablak