Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Caladium Hybrid, Hasil Persilangan Berbagai Jenis

Damianus Bram • Minggu, 4 Desember 2022 | 16:00 WIB
CINTA TANAMAN: Taufik Amirudin Sidik di kebun rumah yang dipenuhi Caladium. (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)
CINTA TANAMAN: Taufik Amirudin Sidik di kebun rumah yang dipenuhi Caladium. (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Keladi alias caladium semakin menarik saat usianya sudah tua. Warna daunnya makin menor, apalagi Caladium Hybrid.

Tanaman caladium atau yang sering dikenal dengan nama keladi adalah tanaman jenis talas-talasan. Asalnya dari Amerika Tengah dan Selatan. Namun seiring berjalannya waktu, tanaman ini menyebar ke seluruh benua, termasuk di Indonesia.

”Karena sudah tersebar di banyak negara, kini mulai dilakukan perkawinan silang. Hasilnya memunculkan keladi jenis baru yang disebut hybrid. Bedanya, keladi hybrid ini warna dan bentuk daunnya semakin unik,” beber pecinta sekaligus pembudidaya keladi hybrid asal Klaten Taufik Amirudin Sidik kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Tanaman keladi dinikmati dari keindahan warna dan bentuk daunnya. Keladi hybrid diklaim punya warna dan bentuk daun yang lebih cetar. Tapi perlu treatment khusus, yakni wajib mendapat sinar matahari yang cukup.

”Keladi akan semakin keluar warnanya kalau kebutuhan sinar mataharinya terpenuhi. Semakin banyak sinar matahari yang diterima, semakin menor. Dia paling suka sinar matahari,” jelasnya.

Selebihnya, perawatan keladi hybrid tergolong mudah. Taufik menyebut pada prinsipnya habitat keladi adalah dekat dengan air. Jadi, jangan sekali-sekali menjauhkan keladi dari air. Caranya, bisa membuat tatakan di bawah rak pot keladi yang diisi air. Atau bisa juga dibuatkan bak berisi air. Atau yang paling gampang, siram tanaman ini setiap hari.

”Jangan sampai kering pokoknya. Karena sifat alamiah keladi ini suka air. Jadi jangan lupa penyiraman. Kalau mau ditambah pupuk juga bisa. Baik pupuk granul maupun pupuk cair,” sambungnya.

Soal repotting, sangat perlu dilakukan karena akarnya mudah tumbuh. Mulai dari benih biji, bisa menggunakan pot kecil lebih dulu. Seiring pertumbuhan sekitar umur satu-dua bulan, keladi diganti pot ke ukuran 8-10. Lanjut memasuki umur tiga bulan, diganti lagi pot ukuran 12. Setelah itu mengikuti besarnya tanaman. Semakin rumpun, semakin membutuhkan nutrisi. Maka perlu di-repotting.

”Perhatikan juga hama yang hobi menyerang keladi. Biasanya ada kutu, belalang, dan ulat. Solusinya, bisa disemprotkan pestisida. Lakukan tiap dua pekan sekali. Bisa juga ditambah penyemprotan fungisida. Tiap dua pekan sekali juga. Jadi giliran, dua pekan disemprot pestisida, dua pekan lagi disemprot fungisida,” jelasnya.

Taufik mengatakan keladi hybrid punya ribuan jenis. Ini hasil penyilangan masing-masing breeder yang punya indukan berbeda. Akhirnya keladi hybrid tumbuh jadi banyak jenis. Namun seluruhnya sama-sama mudah dirawat. Harganya pun sudah kembali terjangkau.

”Kalau di Solo dan sekitarnya atau di mana pun, keladi sudah banyak sekali ditemui. Dulu sempat ngetren. Harganya jadi gila-gilaan. Sekarang sudah normal. Kecuali untuk grade tertentu yang punya spesialisasi di daun atau warna. Harganya masih mahal, di atas Rp 1 juta. Tapi kalau yang hybrid biasa, rata-rata Rp 25 ribu. Terjangkau banget. Perawatannya juga murah. Sepanjang kebutuhan air cukup. Keladi akan tumbuh subur,” tandasnya. (aya/adi) Editor : Damianus Bram
#Keladi #Tanaman Caladium #Caladium #Caladium Hybrid