Munir (sapaan Ayu Munir), mempertontonkan aksi dari buku kumpulan monolog Sampai Depan Pintu, karya Whani Darmawan. Perform-nya di atas panggung membuat penonton merinding. Bagaimana tidak, di mampu memerankan dua sosok berbeda dalam satu pertunjukan.
Di awal pertunjukan, dia berdiri dalam situasi gelap. Disusul umpatannya dengan nada cukup keras. Perlahan, lampu kuning menyala di Pendapa Wisma Seni TBJT. Wanita yang juga mahasiswa Program Studi (Prodi) Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini memegang stand mic di depannya sambil mondar-mandir. Terkadang dia berdiri, kadang pindah posisi seperti sosok nenek renta.
“Di pertunjukan ini saya menjadi dua sosok berbeda. Di satu sisi jadi Munir (posisi berdiri). Lalu disisipi alinasi, yakni pergantian karakter menjadi sosok mbah-mbah tua (bungkuk),” ungkap Munir usai pertunjukan.
Ya, dalam naskah tersebut Munir memerankan tokoh utama seorang nenek renta. Tapi nenek tersebut menolak tua. Karena tua dianggap penyakitan dan merepotkan orang lain. “Dia menarik kesimpulan seperti itu. Tua itu repot dan tak berdaya,” imbuhnya.
Munir memeragakan dua karakter itu sekira 10 menit. Silih berganti, mulai dari posisi, gestur, mimik wajah, hingga suara. “Transisinya cepat sekali. Sebenarnya bisa saja kalau diatur cepat atau dibuat agak lama,” bebernya.
Soal persiapan, Munir berlatih sekira sebulan. Selama itu, banyak kendala yang dihadapinya. Alhasil persiapan intens hanya beberapa hari saja sebelum pentas.
“Tiap pagi biasanya saya olah tubuh untuk pencarian karakter atau dinamika, serta intonasi. Sore running, kalau malam bertemu sutradara untuk presentasi,” paparnya.
Selama pementasan, Munir mengaku sempat kena revisi. Silih berganti gaya dalam penampilan. Tapi Munir selalu siap. Mengingat setiap insan dengan basic teater, sudah terbiasa menghadali hal-hal tersebut.
“Naskah ini cocok dengan saya, terutama dari sisi sosiologis. Naskah ini pilihan sutradara. Karena didekatkan dengan saya, jadi tidak cari yang jauh-jauh,” paparnya.
Diakui Munir, naskah yang dipertontonkannya merupakan bentuk keresahan dari sang sutradara. “Kalau monolog itu, biasanya dimainkan secara tidak wajar. Naskah yang panjang di pendek-pendekkan. Makanya muncul naskah pendek seperti ini,” ujar wanita yang juga perwakilan Sanggar Sastra Jejak ISI Surakarta itu. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram