Secara geografis, Sendang Bejen berada di sebelah barat Desa Mojoroto berbatasan dengan Desa Gebyok. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Gentungan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Pojok, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cerman.
Dari catatan sejarah, Sendang Bejen merupakan salah satu dari wilayah Praja Mangkunegaran. Di lokasi setempat terdapat sumber mata air yang mengalir tiada henti.
Sendang Bejen diyakini sebagai situs petilasan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa yang kemudian hari menjadi pendiri sekaligus penguasa pertama Kadipaten Mangkunegaran bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I dan menjadi salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Pada masa penjajahan Belanda, Sendang Bejen menjadi tempat persembunyian sekaligus lokasi semedi, menyusun strategi perang, dan melatih beladiri prajurit untuk menggempur balik serdadu musuh.
“Posisi Mojoroto terutama Sendang Bejen menjadi sangat penting karena merekam jejak perang suksesi ke-3, dimana tiga kesatria Jawa, yaitu Tumenggung Martapura, Pangeran Mangkubumi dan Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa pernah mendirikan basis militer di desa ini,” ungkap Dani Saptoni, ketua Solo Societeit akhir pekan kemarin.
"Tempat ini juga dipakai untuk latihan memanah oleh laskar Pangeran Sambernyawa pada masanya. Oleh karena hal itu, banyak yang percaya di lokasi ini menyimpan benda-benda pusaka di zaman kerajaan yang masih tertinggal di sendang,” ungkapnya.
Di samping aspek kepercayaan kekuatan spiritual, keberadaan sumber air di Sendang Bejen menjadi sarana vital mencukupi kebutuhan air bersih.
"Keberadaan Sendang Bejen ini adalah bukti nyata sejarah secara fisik untuk anak cucu. Karenanya kesadaran untuk merawat keberadaan situs perlu dijaga dan dilestarikan," pungkasnya. (rud/wa) Editor : Damianus Bram