SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo.
Seorang pria berambut putih sedang menorehkan kuas dengan tinta di atas kain putih yang sudah ada sketsa gambar cerita wayang beber. Sejenak pria ini menghentikan aktivitasnya ketika koran ini datang untuk berbincang.
Ya, Joko Sriyono memang memiliki hobi menggambar sejak kecil. Saat usianya 8 tahun, Joko sudah mengenal kesenian wayang beber. Bisa dibilang, wayang beber sudah mendarah daging di tubuh Joko. Saat duduk di bangku SMP sampai SMA, Joko remaja memilih mengambil kelas siang. Pagi harinya, dia manfaatkan untuk berlatih menggambar wayang beber.
"Saya sudah belajar wayang beber sejak dulu. Sempat beralih menjadi desainer batik. Tapi kemudian balik lagi ke wayang beber. Itu sekitar 1970," ungkap Joko saat ditemui di sanggarnya.
Joko adalah salah satu legenda hidup seniman sungging wayang beber di Kota Bengawan. Bahkan Joko menimba ilmunya langsung dari abdi dalem Keraton Kasunanan, Raden Ngabehi Atmosoepmo. Maklum, Joko lahir dari pasangan abdi dalem Keraton Kasunanan. Alhasil, sejak lahir Joko sudah akrab dengan kesenian wayang beber.
"Tahu tidak kenapa namanya wayang beber? Karena cara memainkan wayang ini digulung dulu, kemudian dibeberkan. Dulu wayang beber tidak pakai kain. Tapi daun lontar. Seperti daun pandan. Kemudian di cacah sampai hitam. Tanpa pewarna," bebernya.
Di dalam sanggarnya yang mungil, Joko membuat wayang beber sepanjang 21 meter 80 centimeter (cm). Berisi 24 cerita yang dijadikan dalam satu kain panjang. Seluruhnya, Joko mengerjakan sendiri. Dia mengaku belum ada rencana wayang beber buatannya ini akan diperlakukan. Entah dipamerkan, atau dijual, Joko tidak bisa menjawab.
"Dulu ada yang mau membeli. Tapi dibayar di depan, saya ndak mau. Karena jadi terpancang pembuatannya. Dulu sempat dikunjungi wisatawan Australia juga. Tapi saya pernah ikut bikin pameran juga. Di mal, di toko buku. Dibantu teman," ujarnya.
Joko menyebut pewarnaan wayang beber di era modern saat ini sudah memakai cat tembok yang berwarna-warni. Sementara dulu, Joko pernah melewati masa mewarnai wayang beber menggunakan langes (jelaga) untuk warna hitam. Atau memakai kunyit untuk warna kuning. Yang masih tetap sama adalah teknik menggambarnya, dengan di-blat. Alias menggambar di kain dengan menempelkan gambar sketsa di bawah kain.
"Saya senang banyak yang datang belajar ke sini. Kebanyakan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mereka biasanya datang rombongan. Banyak juga masih mau belajar ke sini," sambungnya.
Joko mengaku Sanggar Naladerma didirikan karena keresahannya terhadap kelestarian wayang beber di Solo. Terlebih di tengah perkembangan zaman yang makin modern ini. Menurutnya, lewat sanggar ini, Joko bisa membagikan ilmu tentang wayang beber kepada siapapun pengunjunngnya.
"Yang mau tanya-tanya, boleh. Saya senang kalau ada banyak mahasiswa yang mulai cari tahu tentang wayang beber. Karena wayang beber ini langka, tapi orang yang mau menekuni seni kriya sungging wayang beber lebih langka lagi. Mungkin karena anak sekarang lebih suka yang gampang-gampang. Kan membuat wayang beber butuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi," tandasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram