"Bentuknya menarik, serem. Kebetulan saya senang dengan sensasi menyeramkannya itu. Kura-kura ini juga agresif, pemakan daging, dan predator aktif. Mengejar mangsanya. Gigitanya paling berbahaya, bisa meremukkan jari,” ujar Ilham Nur, penyuka CST.
Diperhatikan sekilas, kura-kura asal Amerika Serikat dan Kanada ini memiliki tempurung tak jauh berbeda dengan kura-kura air tawar lainnya.
Tapi ketika lebih jeli, terlihat tempurung CST sedikit bergelombang dan memiliki bagian runcing di belakang tempurung. Selain itu, kura-kura predator ini memiliki ekor tebal dengan duri-duri menonjol.
CST memiliki empat kaki yang kukuh dan kuku cakar yang tajam. Ukuran kepalanya juga lebih besar dibandingkan kura-kura lainnya. “Hati-hati kalau mau megang. Jangan pernah memegang kura-kura ini dari arah depan. Kepalanya ini bisa memanjang, jadi kalau lengah bisa tergigit. Jari bisa putus kalau ukuran kura-kuranya besar,” ungkapnya.
Cara memegang CST yang aman, lanjut warga Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres itu adalah dari bagian tempurung belakang dekat ekor.
Ketika memutuskan memelihara CST, Ilham mewanti-wanti memahami karakternya. Dan tidak mencampurkannya dengan kura-kura lainnya. CST bersifat teritorial.
"Perawatan lainnya tidak terlalu ribet. Yang jelas harus ada air yang baik. Kadang tempurungnya perlu disikat untuk menghilangkan kotoran seperti lumut dan lainnya. Kalau mau dijemur di waktu-waktu tertentu juga boleh untuk meningkatkan metabolismenya," bebernya.
Bagi pemula, awali dengan memelihara CST berukuran kecil, sekira 5 sentimeter. Tujuannya, agar bisa memahami karakter dengan lebih baik.
“Yang perlu diperhatikan, ya harus hati-hati karena agresif. Pakan apa saja mau, ikan lele doyan, cacing tanah juga doyan. Tidak ribet," ucap dia. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram