Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Watu Leter, Saksi Bisu Kekejaman PKI: Burung Jalak Dianggap Roh Korban Pembunuhan

Iwan Kawul • Minggu, 16 Juli 2023 | 21:17 WIB
SIMPAN MISTERI: Watu leter di perkebunan tebu Dusun Tengklik, Desa/Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.
SIMPAN MISTERI: Watu leter di perkebunan tebu Dusun Tengklik, Desa/Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

RADARSOLO.COM - Sebuah batu di perkebunan tebu Dusun Tengklik, Desa/Kecamatan Polokarto menjadi saksi bisu kekejaman pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Di lokasi setempat, dipercaya digunakan oleh simpatisan PKI mengeksekusi para korbannya.

Untuk sampai ke batu itu, dari jalan raya Glondongan Polokarto menuju timur. Sesampainya di Alas Karet, masuk ke jalan di tengah hutan hingga ke hamparan luas kebun tebu.

Jarak antara jalan utama sampai lokasi sekeitar 2 kilometer. Tidak bisa diakses menggunakan kendaraan bermotor karena merupakan perkebunan tebu, hanya bisa berjalan kaki.

"Daerah sini dikenal dengan Alas Gung, dulu adalah hutan belantara. Namun, sekarang jadi kebun tebu," ujar Arif, tokoh masyarakat Polokarto.

Mitos yang berkembang di masyarakat, batu berdiameter 1,5 meter yang menyembul di permukaan tanah itu adalah tempat pertemuan antara Sunan Lawu dan Kanjeng Nyi Roro Kidul.

"Kalau batunya ini mitosnya dibawa oleh naga Baru klinting, melewati Kali Samin, lalu dijatuhkan di sini," terang Arif.

Ketika belum dipanen, sangat susah menemukan lokasi batu yang dinamakan Watu Leter itu, karena luasnya hamparan kebun tebu. Bahkan, orang yang akan menuju Watu Leter bakal tersesat dan hilang.

"Nggak ada yang berani ke Watu Leter ini, bahkan sekadar mencari rumput sekalipun," katanya.

Watu leter juga disebut-sebut sebagai tempat eksekusi. Banyak warga yang dibunuh lalu mayatnya dibuang di lokasi setempat saat pecah pemberontakan PKI.

"Orang-orang PKI kalau membunuh musuhnya di tempat ini atau dibuang di sini, karena disini dulu masih hutan belantara," jelas Arif.

Hingga saat ini, pada siang hari, banyak burung jalak yang berjemur di Watu Leter. Masyarakat meyakini, banyaknya burung jalak ini sama banyaknya dengan orang yang dibunuh dan dibuang di Watu Leter.

"Burung jalak biasanya terlihat sekira pukul 12.00. Dipercaya sebagai roh-roh orang yang dibunuh," ucap dia.

Sekira empat tahun lalu, kata Arif, ditemukan tengkorak perempuan di sekitar Watu Leter. Diduga kuat, tengkorak tersebut adalah korban pembunuhan.

"Karena jarang orang yang ke sini. Saat ditemukan sudah menjadi tengkorak," katanya. (kwl/wa)

Editor : Damianus Bram
#pki #Watu Leter #partai komunis indonesia