RADARSOLO.COM - Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun selama pandemi lalu menjadi inspirasi bagi Theresia Alit Kurniawati untuk berinovasi. Ya, sejak dua tahun terakhir, dia membuat sabun homemade. Uniknya dia menggunakan aroma yang belum banyak digunakan.
Kondisi terjepit biasanya malah banyak melahirkan inovasi. Nah, berkah selama pandemi lalu, membuat Theresia Alit Kurniawati menemukan ide membuat sabun cuci dengan aroma yang tak biasa. Mulai dari aroma minyak kayu putih, kopi hingga tembakau.
“Awalnya dari pandemi Covid-19, banyak imbauan untuk cuci tangan, waktu itu selesai S2 bingung mau ngapain, terus saya kepikiran bikin sabun saja. Karena basik saya memang crafter. Dulunya main di bidang craft itu menjahit dan menyulam,” ujar wanita asal Grogol, Sukoharjo ini.
Alit sebelumnya memang pemakai sabun natural, karena ia merasa lebih cocok dengan kulitnya. Melirik potensi ini, dia kemudian mengikuti kelas formulasi membuat sabun, kemudian produk miliknya dia jual secara online.
Almunnus S1 Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini tertarik dengan produk natural atau alami karena saat dia mengambil S2 kajian budaya di di naskah kuno banyak sekali bahan alami yang bisa dipakai, misalnya dari daun kelor, binahong, dan secang.
“Secang biasanya untuk pewarna alami atau untuk wedang uwuh. Secang ini kan baunya seperti minyak kayu putih, dan memunculkan ingatan masa kecil saya yang sering dimandikan sama ibu, sama air gege. Kalau pada orang-orang spiritual zaman sekarang tren dengan istilah sun water,” imbuh Alit.
Alit menjelaskan, produk sabunnya mempunyai arti membersihkan diri. Ini berkaitan dengan membersihkan diri sebelum beribadah yaitu dengan membersihkan muka. Konsep tersebut dia bawa dalam sabun.
“Jadi beribadah pada masa modern ini, saya representasikan sebagai bekerja atau beraktivitas. Kerja atau beraktivitas itu ibadah, dengan aktivitas merawat orang lain bisa dibilang beribadah,” terang Alit.
Misalnya dengan aktivitas mandi. Setelah mandi badan merasa lebih segar, dan otomatis menjadi lebih bahagia. Ketika orang merasa bahagia maka rezeki akan lancar dan berlimpah.
Karena menggunakan bahan natural, maka aman. Ekstrasinya betul-betul dari tanaman. Bahan alami tersebut berasal dari minyak.
“Misalnya, minyak kelapa bisa untuk membuat busa dan bikin padat. Olive oil melembutkan, dan minyak jarak memberi kesan creamy di kulit. Memang ada formulasinya masing-masing,” terang Alit.
Untuk warna Alit juga memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun kelor untuk sabun warna hijau, arang aktif untuk sabun warna hitam, kemudian untuk sabun putih dia buat dari buah lerak.
Dalam satu kali produksi paling tidak dia membutuhkan waktu enam pekan.
Sabun ini bisa tahan hingga dua tahun, apabila disimpan di tempat dengan sirkulasi udara yang baik dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung dan aman dari air tergenang.
“Saya ingin mengenalkan tradisi mandi nusantara. Di indonesia banyak banget tradisi mandi yang jarang banget dibicarakan. Misalnya sabun secang yang berkaitan dengan mandi air gege tadi. Di balik tradisi ada sesuci atau membersihkan diri. Kemudian di Batak Toba ada tradisi maranggir,” urai Alit. (*/bun)
Editor : Damianus Bram