RADARSOLO.COM - Musikalitas “Gondrong” Gunarto dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Terutama dari keluarga. Maklum, pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini tumbuh dari keluarga seniman. Ayahnya seorang dalang, dan dia terbiasa mendengar alunan musik tradisional khas nusantara tersebut.
Tak sekadar mendengar, tangan Gondrong juga lihai memainkan gamelan. Hingga akhirnya saat memasuki jenjang SMA, dia memutuskan hijrah ke Kota Bengawan. Menimba ilmu karawitan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Negeri Surakarta (kini SMKN 8 Surakarta).
“Setelah lulus, saya masuk STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia, sekarang ISI Surakarta) pada 1993. Kemudian lanjut S2 di ISI Surakarta,” ungkap Gondrong.
Hingga saat ini, Gondrong memutuskan untuk menetap di Kota Bengawan. Di mata Gondong, Kota Solo memiliki iklim kesenian yang bagus. “Itu yang membuat saya nyaman dan memilih hidup di Solo,” imbuhnya.
Iklim yang kondusif tersebut, sangat mendukung perkembangan gamelan. Menurut Gondrong, gamelan sangat istimewa. Saking cintanya, dia berhasrat agar gamelan lebih dikenal luas di masyarakat.
“Menghormati gamelan bisa dengan cara apapun. Bisa dengan nguri-uri atau memainkan gendhing-nya. Saya coba membawa gamelan dengan garapan baru ke wilayah (aliran musik) yang lain. Ini bentuk penghormatan saya terhadap gamelan,” bebernya.
Sudah banyak padu padan gamelan dengan beberapa genre musik yang disajikan Gondrong. Termasuk dengan musik metal atau rock. Dengan cara ini, pecinta musik rock tahu bahwa gamelan bisa digarapan dengan indah.
“Kemarin saya kolaborasi dengan Nadin Amizah dan Kunto Aji. Saya ingin bawa gamelan ke ranah lebih luas. Ke penggemar Nadin dan lain-lain, yang notabene anak-anak muda,” ujarnya.
Ketika memasuki ranah baru, Gondrong menghindari istilah-istilah yang berefek pada pengotakan. Alasannya agar lebih membaur dengan aliran yang lain. Karena untuk menuju titik itu, seniman harus sama-sama menurunkan ego.
“Mungkin harus melebur dulu. Harus blend dulu. Caranya dengan membuka pikiran lebar-lebar. Saling menghormati dan saling mengisi. Itu dasarnya,” paparnya.
Melalui berbagai macam garapan, Gondrong tampil di banyak pementasan. Bukan hanya di Indonesia, namun juga melanglang buana ke berbagai negara. Baik itu di Asia, Eropa, hingga Amerika.
Di antaranya World Gamelan Festival Terengganu di Malaysia, Weimar Culturstad di Jerman, Sapporo Music Festival di Jepang, Indonesia Gamelan Festival Amsterdam (IGFA) di Belanda, Workshop-Teather Works di Amerika, Spoleto Festival Dei2 Mondi di Italia, serta Dreaming Lear Sota Drama di Singapura.
“Kalau ke luar negeri, pertama kali saya ke Jepang, Jerman, dan Spanyol. Itu pada 1999 sebagai sebagai musisi, memperkuat almarhum komposer I Wayan Sadra. Itu guru dan seperti bapak saya sendiri,” kata Gondrong.
Bersama I Wayan Sadra, Gondrong masuk grup musik kontemporer SonoSeni Ensemble. Sudah menelurkan empat album, yaitu Suita Suit (2000), Suita 42 Hari (2001), Autis 4J (2002), No End In Sight (2006), dan Keroncwrong (2017).
Gondrong juga telah membuat CD album musik The Works (2007) dan VCD konser tunggalnya Pancal Mubal Tangan Ngapal Dukkha (2003), serta Gondrong Gunarto Music Consert (2013).
“Mei rencananya saya mau ngajar di Cornell University di Amerika. Saya harus persiapan belajar bahasa Inggris. Jadi ada undangan dan tawaran mengajar gamelan ke sana, untuk 2-3 bulan,” tandasnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram