Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Cara Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Baluwarti Ajak Hidup Bersih sekaligus Bangkitkan Ekonomi lewat Bank Sampah

Antonius Christian • Senin, 21 Agustus 2023 | 15:29 WIB
TEROBOSAN: Petugas dari Bank Sampah Repton tengah menimbang Sampah dari warga lalu diganti dengan uang untuk ditabung.
TEROBOSAN: Petugas dari Bank Sampah Repton tengah menimbang Sampah dari warga lalu diganti dengan uang untuk ditabung.

RADARSOLO.COM - Dari sampah jadi tabungan hari raya. Ya, inilah yang diinisiasi ibu-ibu PKK di RT 01 RW 02 Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon. Mereka menampung sampah layak jual milik masyarakat. Nah, uangnya digunakan untuk hari raya Idul Fitri. 

Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.30 ketika Jawa Pos Radar Solo mendatangi lokasi pengepulan bank sampah di Baluwarti. Namun, beberapa warga setempat sudah mengantre mulai di gang kampung belakang Masjid Suronatan yang berada di kompleks Keraton Surakarta. Mereka sambil menenteng aneka sampah rumah tangga.

Ada yang membawa sejumlah galon bekas, koran, kardus, kertas, hingga kompor gas serta monitor komputer bekas. Setengah jam kemudian, barulah lokasi bank sampah ini dibuka. Ibu-ibu yang mengantre tadi lantas menimbang sampah yang mereka bawa. Setelah itu, sampah tersebut dicatat. Sebab harga setiap sampah berbeda. 

Dari papan tulis yang tertera, harga paling murah yakni plastik, yang dihargai Rp 600 per kilogram. Sedangkan yang paling mahal adalah tembaga seset. Harganya 65 ribu per kilogram. Setelah itu, mereka menyerahkan buku tabungan untuk dicatat ke petugas. Rata-rata masyarakat yang datang itu bisa menabung Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu dari hasil menjual sampah. Lokasi ini diberi nama Bank Sampah Ngarep Keraton (Repton).

Ketua Bank Sampah Repton Susi Handayani menuturkan, kegiatan ini dimulai sejak Ramadan tahun lalu. Ide awalnya itu karena sampah rumah tangga di kawasan tersebut memiliki nilai jual.

"Idenya dari pada sampah ini dibuang, mending dijual. Nanti jadi tabungan. Dicairkan mendekati Lebaran. Sudah kami mulai bulan puasa kemarin. Ini kami lanjutkan hingga sekarang,” ujar dia.

Nah, ternyata ada efek positif. Warga mulai rajin memilah sampah rumah  tangga. Baik organik maupun nonorganic. Sama sampah yang bisa dijual inilah yang dibawa ke bank sampah untuk ditukar uang.

Untuk harga, lanjut Susi, menyesuaikan dari pihak pengepul. Sehingga harga jual pekan ini bisa saja tidak sama dengan pengumpulan sampah pekan berikutnya. "Karena yang namanya sampah ini harganya juga kadang naik, kadang turun. Fluktuatif. Kalau lagi naik ya lumayan, tapi kalau turun ya murah harganya. selalu kami ungkapkan ke warga dan mereka paham," ujarnya 

Pengumpulan dilakukan dua pekan sekali setiap bulannya. Yaitu di pekan genap. Sehingga sampah yang dikumpulkan bisa lebih banyak. Baru disetorkan ke Bank Sampah Repton. Setelah sampah terkumpul, sampah ini akan diambil pengepul barang bekas di siang harinya. 

"Lingkupnya satu kelurahan. Ada 12 RW. Penggeraknya dari ibu-ibu PKK RT 01 RW 02 Kelurahan Baluwarti. Sampah paling banyak itu biasanya botol air mineral dan galon. Ada juga kertas dan kardus bekas. Hasilnya dicatat di buku tabungan," ungkap dia.

Buku tabungan ini mereka dapat dari Bank Sampah Induk Kota Surakarta. Ada 50 buku yang dibagikan. Jumlah ini masih kurang dibanding antusias masyarakat yang menabung.

"Kami sudah mengajukan penambahan buku. Tinggal nunggu cetak," jelas Susi. 

Apakah ada wacana mengubah sampah ini menjadi kerajinan? Susi mengatakan, sudah ada rencana itu, namun masih butuh proses. Sebab, bank sampah ini masih rintisan.

"Ada ada rencana itu (jadi kerajinan). Apalagi kami kan tinggal di kawasan wisata. Bisa dijual ke wisatawan. Tapi masih butuh pelatihan dulu untuk itu," ujar Susi. (*/bun)

Editor : Damianus Bram
#tabungan #bank sampah #Bank Sampah Ngarep Keraton #baluwarti #hari raya iduk fitri #Repton