RADARSOLO.COM - Ada sejumlah lokasi petilasan Raden Mas Said di Kabupaten Wonogiri. Salah satunya Sendang Siwani di Dusun Matah, Desa Singodutan Kecamatan Selogiri. Sumber mata air di tempat ini diyakini memiliki karomah.
Juru Kunci Sendang Siwani, Slamet Riyadi mengatakan, petilasan tersebut menjadi jejak perjuangan Raden Mas Said melawan penjajahan Belanda
Saat melawan Belanda, Raden Mas Said pernah mengalami kekalahan. Kemudian menepi untuk menyusun strategi.
"Sempat ke Gunung Merapi, Gunung Lawu, Sendang Sinongko sampai tiba di sini. Dulu namanya Sendang Lenggong," ujar Slamet, Jumat (6/10).
Di Sendang Siwani, Raden Mas Said bertemu Kiai Khasan Nur Iman. Raden Mas Said kemudian menceritakan kendala yang dialaminya.
Kiai Khasan lalu menyarankan Raden Mas Said meditasi di atas batu di bawah pohon beringin besar. Di samping pohon itu, terdapat sumber mata air yang sekarang disebut Sendang Siwani.
“Saat meditasi itu, Raden Mas Said melihat gambaran ada dua ekor kerbau yang berkelahi," terangnya.
Satu ekor kerbau kalah hingga tidak punya lagi keberanian. Kerbau tersebut kemudian meminum air dari belik. Kondisinya pulih dan kembali semangat untuk bertempur.
Hingga akhirnya berhasil mengalahkan kerbau lawan. "Raden Mas Said kemudian bercerita kepada Kiai Khasan wangsitnya itu. Kemudiam dijelaskan itu adalah petunjuk," ujarnya.
Raden Mas Said dan 40 pasukannya kemudian meminum air dari Sendang Siwani. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya.
Raden Mas Said dan pasukannya kemudian tiba di Nglaroh, Pule, Selogiri, atau daerah yang berada di sebelah utara Sendang Siwani. Tujuannya adalah berbaur dengan masyarakat dan menghimpun kekuatan.
Tiba di Kampung Puh Buto, Raden Mas Said kembali melawan pasukan Belanda. Meski persenjataan minim, pasukan Raden Mas Said berhasil mengalahkan Belanda.
Daerah jajahan yang dikuasi Belanda dikembalikan kepadanya dan Raden Mas Said diangkat sebagai Mangkunegara I.
"Setelah itu, Raden Mas Said kembali mengunjungi wilayah-wilayah yang sempat didatangi. Sendang Lenggong diberi nama Sendang Siwani atau Sendang Panguripan," katanya.
Hingga saat ini, batu yang digunakan untuk bermeditasi oleh Raden Mas Said masih ada. Disebut Selo Ploso. Setiap 10 Suro pukul 22.00. kelambu penutup batu diganti prosesi tertentu.
Terkait air Sendang Siwani yang disebut berkaromah, Slamet menuturkan itu suatu keyakinan. “Kalau yakin dan memohon kepada Yang Maha Kuasa, kenapa tidak?," ucapnya.
Banyak pengunjung datang Sendang Siwani. Termasuk para pejabat. “Jelang Pemilu banyak yang ke sini,” pungkasnya. (al/wa)
Editor : Damianus Bram