RADARSOLO.COM-Hari Pantomim Sedunia diperingati tiap 22 Maret. Momentum tersebut selalu dinanti komunits pantomim yang cukup eksis di Kota Solo. Namanya Solo Mime Society.
Pantomim merupakan salah satu seni pertunjukan teater. Mengandalkan mimik wajah dan gesture tubuh.
Kali pertama, seni ini dipopulerkan di Italia. Namun ada juga yang berpendapat pantomim berasal dari zaman Yunani kuno.
“Kalau di Indonesia itu, kali pertama dipopulerkan Septian Dwi Cahyo. Sebenarnya banyak yang membawanya ke Indonesia,” kata mime –pemain pantomim- asal Kota Solo, Rio Daniswara.
Dijelaskan Rio, pantomim merupakan pertunjukan gabungan dari teater, gerak tubuh, dan seni tari.
Meskipun zaman terus berkembang, di Indonesia unsur-unsur tersebut masih berkesinambungan hingga saat ini.
“Kalau perkembangan di Kota Solo cukup pesat. Termasuk anak-anak. Karena tiga atau lima tahun lalu ada festival seni nasional tingkat SD,” terang Rio.
“Ini memacu berkembangnya pantomim anak. Awalnya kan dari teman-teman teater. Sekarang anak-anak juga suka pantomim,” imbuhnya.
Pantomim di mata Rio merupakan sebuah imajinasi. Di mana benda yang awalnya tidak ada, namun sengaja diwujudkan oleh para mime.
Sehingga imajinasi pelaku pantomim harus liar, kuat, dan kreatif.
“Anak-anak mudah memerankan pantomim, karena dunia mereka penuh imajinasi. Dunia mereka bermain dan bergerak. Tepat sekali kalau diajari sejak dini,” beber Rio.
“Gerak dan gestur tubuh anak-anak itu bisa dikatakan sudah pantomim. Karena terstruktur, akhirnya anak-anak mudah belajar pantomim,” imbuh pria yang juga anggota Solo Mime Society (SMS) tersebut.
Kendati demikian, belajar pantomim tak semudah membalik telapak tangan.
Rio mengalaminya sendiri. Saat masih duduk di bangku kuliah, dia sempat ingin konsen dulu di teater. Kemudian baru beralih ke pantomim.
“Dulu ada tawaran. Pikiran saya gampang. Tapi setelah mendalami sampai detik ini, belajar pantomim itu susah. Mengimajinasi, membentuk benda, merangkai cerita, sampai orang lain memahami itu tidak gampang,” ungkap dia.
Pantomim bukan untuk dinikmati oleh mime atau orang-orang tertentu saja. Melainkan semua audience yang menyaksikan. Itulah yang membuat pantomim susah.
“Bagaimana mime harus bisa mentransfer isi atau makna dari cerita yang dibawakan. Karena pantomim tidak untuk dinikmati sendiri. Tapi bagaimana audience bisa menangkap, itulah kesuksesan tersendiri dari seorang mime,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang mime asal Solo Dyan Primadyka menambahkan, tingkat kesulitan bermain pantomim cukup tinggi.
Karena mime harus memutar otak untuk membentuk cerita yang bisa tersampaikan ke penonton.
“Harus belajar gerakan badan, telapak tangan, dan kaki. Harus dilatih juga ekspresi wajahnya. Karena pantomim ada semacam imajinasi, kreativitas, juga ekspresi wajah. Semuanya terangkum menjadi gerakan sesuai alur cerita,” paparnya. (nis/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono