RADARSOLO.COM - Kota Surakarta merupakan salah satu kota pariwisata di Indonesia yang masih kental nilai budaya, kesenian, dan sejarahnya.
Bentuk kesenian khas Surakarta meliputi kerajinan tangan, pentas seni, hingga upacara adat yang masih dilestarikan hingga kini. Salah satu warisan budaya paling terkenal dari Surakarta adalah batik.
Kerajinan batik menjadi penggerak ekonomi kota, di mana sebagian besar produksinya berasal dari Kampung Laweyan.
Berdasarkan SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1997, Laweyan ditetapkan sebagai kawasan bersejarah dan cagar budaya.
Kampung ini telah eksis sejak tahun 1500 sebagai sentra industri batik dan permukiman tradisional dengan ciri khas gang-gang sempit, rumah-rumah berpagar tinggi dan berdempetan.
Secara etimologi, batik berasal dari kata "amba" (menulis) dan "titik" (niyik), artinya menulis dengan titik-titik lilin di atas kain.
Batik bukan hanya seni, tetapi juga sejarah yang erat kaitannya dengan Kerajaan Mataram dan Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Perbedaan antara batik Solo dan Jogja terlihat dari warna, motif, arah motif, ornamen, serta makna filosofisnya.
Asal usul nama Laweyan masih diperdebatkan. Ada yang menyebut berasal dari kata "Lawe" (benang/kain), atau dari nama makam Sunan Pakubuwono II yang terletak di Astana Laweyan. Ada juga kisah bahwa dulu Laweyan adalah tempat eksekusi hukuman pancung.
Laweyan mengalami masa kejayaan pada awal abad ke-20. Menurut monografi kelurahan, perkembangan pesat dimulai sejak tahun 1860-an, ketika industri batik menjadi nadi kehidupan wilayah ini. Perempuan menjadi motor utama industri batik saat itu.
Kampung Batik Laweyan berada di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, bagian barat Kota Surakarta, di selatan Jalan Dr. Rajiman dan berbatasan dengan Sungai Kabanaran.
Sungai ini dulu menjadi jalur penghubung penting antara Bandar Nusupan di Bengawan Solo dan Bandar Pajang, menandakan peran strategis Laweyan di masa lalu.
Peran besar Kyai Haji Samanhudi dalam mengangkat Laweyan sebagai sentra batik tak bisa dilupakan.
Beliau mendirikan organisasi Bumiputra Reksa Rumeksa untuk melawan dominasi pedagang Cina dan memperkenalkan teknik batik cap yang mempercepat produksi.
Puncak kejayaan Laweyan terjadi saat masuk wilayah Kotamadya Surakarta. Saat itu, 90% wilayahnya dihuni pengusaha batik.
Produksi batik mencapai 60.300 helai per tahun dengan pendapatan mencapai 60.300 gulden.
Kekayaan ini tercermin dalam rumah-rumah bergaya arsitektur Jawa-Eropa dengan pagar tinggi yang masih bisa dilihat hingga kini.
Namun, kejayaan itu meredup pada 1970-an akibat munculnya industri batik printing berskala besar yang lebih cepat dan murah.
Banyak rumah produksi bangkrut. Ditambah lagi, generasi muda enggan melanjutkan usaha orang tuanya.
Kebangkitan kembali terjadi di tahun 2000-an setelah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya nonbendawi dunia.
Pemerintah juga menetapkan Laweyan sebagai cagar budaya pada tahun 2004, memacu kembali produksi dan kunjungan wisatawan.
Kini, Kampung Batik Laweyan bukan hanya pusat produksi batik, tetapi juga destinasi wisata budaya yang merekam sejarah panjang, kejayaan, dan kebangkitan warisan leluhur Indonesia. (arya/dam)
Editor : Damianus Bram