Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dari Kampung Kumuh ke Kampung Berkah, Rejosari Solo Bangkit Berkat Gerakan Sosial

Antonius Christian • Senin, 22 September 2025 | 01:37 WIB
Bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan dan peduli pendidikan. (Ist)
Bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan dan peduli pendidikan. (Ist)

RADARSOLO.COM - Dari sebuah kampung sederhana di timur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, lahir sebuah gerakan sosial yang mengubah wajah lingkungan. Namanya Kampung Rejosari RW XIII, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. Dulu kampung ini dikenal kumuh, warganya banyak menganggur, dan kehidupan ekonominya serba sulit. Namun tiga tahun terakhir, perlahan semua berubah.

Perubahan itu tak lepas dari keberadaan Paguyuban Warga Rejosari yang dipimpin oleh Lanyono. Melalui paguyuban inilah, warga diajak bersyukur dengan cara berbeda, yaitu menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu tetangga yang membutuhkan.

“Dulu kampung kami ini mati, Mas. Ekonomi lemah, banyak yang nganggur. Saya pun ikut merasakan bagaimana susahnya jadi orang miskin. Jadi waktu ada rezeki dari lapangan kerja baru di sekitar Masjid Zayed, kami sepakat harus bersyukur dengan berbagi. Jangan sampai tetangga kita lapar sementara kita kenyang,” tutur Lanyono.

Lanyono menceritakan, keberadaan Masjid Raya Sheikh Zayed membuka peluang kerja baru. Ada yang jadi juru parkir, pedagang kaki lima, fotografer, hingga pekerja kebersihan. Dari pekerjaan sederhana itu, warga mulai mendapat penghasilan tetap.

“Sekarang ada ratusan warga yang bekerja. Alhamdulillah, penghasilan ada meski tidak besar. Nah, dari situ kami buat kas seikhlasnya. Setiap orang menyisihkan sebagian hasilnya. Tidak ada paksaan, tapi karena semua merasa pernah susah, mereka rela menyisihkan,” jelasnya.

Hasilnya mengejutkan. Rata-rata belasan juta rupiah terkumpul tiap bulan. Hingga kini, kas yang dikelola Paguyuban Warga Rejosari sudah mencapai Rp 25 juta. Dana itu digunakan untuk membantu warga yang sedang kesulitan, membayar sekolah anak-anak kurang mampu, hingga membangun pendidikan usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

“Kalau ada warga sakit, kita bantu. Kalau ada anak hampir putus sekolah, kita tanggung. Kalau ada keluarga yang tidak bisa makan, kita belikan sembako. Semua ini murni dari iuran warga, bukan dari pihak luar,” tegas Lanyono.

Lanyono menekankan, semua pengelolaan dana dilakukan secara transparan sebagai bentuk pertanggujawaban kepada warga. “Setiap uang masuk, kami catat. Kami bukukan dengan detail. Setiap minggu, laporan kami kirim ke RT, RW, lurah, camat, sampai wali kota. Transparansi itu kunci agar warga percaya,” ujarnya.

Dari kas sosial itu pula, paguyuban membuka lapangan kerja tambahan untuk guru PAUD, petugas kebersihan, hingga keamanan lingkungan. Bahkan, seratusan anggota paguyuban kini sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

“Kalau ada yang tanya, kami jawab jelas bahwa ini bukan iuran wajib, ini wujud syukur. Dan syukur itu harus nyata, bukan hanya ucapan. Dengan kas ini, semua warga bisa merasakan berkah adanya Masjid Zayed,” tambahnya.

Gerakan ini, menurut Lanyono, lahir dari pengalaman pahit warga yang pernah hidup dalam kesusahan. “Kami ini dulunya orang-orang kecil yang sering tak diperhitungkan. Pernah tidak punya kerja, pernah bingung makan apa besok. Jadi ketika ada rezeki, rasanya dosa kalau tidak berbagi,” ucapnya lirih.

Ia berharap semangat ini bisa menular ke wilayah lain di Solo, terutama yang berdampingan dengan destinasi wisata. “Mungkin ini baru pertama di Solo. Tapi kalau setiap kampung bikin gerakan seperti ini, warga bisa tumbuh bersama. Jangan sampai hanya beberapa orang yang menikmati berkah, sementara tetangga di sekitarnya tetap miskin,” kata Lanyono.

Bagi Lanyono dan warga Rejosari, bersyukur bukan sekadar doa. Bersyukur berarti memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Bersyukur berarti menjadikan pengalaman pahit masa lalu sebagai pengingat untuk terus peduli.

“Kami dulu pernah lapar, jadi jangan biarkan tetangga kami lapar. Itu saja. Kalau rezeki datang, jangan lupa sisihkan. Karena sesungguhnya syukur paling tulus adalah ketika tangan kita bisa membantu orang lain,” ujar dia. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Kampung Rejosari #bersyukur #warga #Masjid Raya Sheikh Zayed