RADARSOLO.COM -- Di sebuah gang kecil di pinggiran Kota Solo, suara mesin motor memecah kesunyian sore. Asap knalpot bercampur aroma oli menebar di udara, memenuhi ruang sempit berukuran tak lebih dari 5x5 meter. Di tengah tumpukan besi, rangka motor, dan percikan las, berdiri seorang pria muda dengan tangan kotor dan wajah berpeluh. Tatapannya berbinar menatap hasil karyanya sendiri.
Namanya Budo Kusuma Jati, 26 tahun. Pemuda asal Danakusuman, Kecamatan Serengan, ini menjadikan kecintaannya pada motor bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup. Di bengkel sederhana bertuliskan “Motor Alit Garage”, ia merakit mimpi besar dari tempat kecil.
Budo mengenal dunia otomotif sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Kala itu, ia kerap membantu sang ayah membuat pagar besi di bengkel las kecil. Dari sanalah ia belajar teknik dasar—mengelas, mengukur, hingga mengubah besi menjadi sesuatu yang bernilai.
“Dulu sering bantu ayah bikin pagar. Dari situ belajar ngelas dan akhirnya nyoba-nyoba bikin rangka motor,” kenangnya.
Setelah lulus SMK, Budo sempat menunda impiannya. Ia bekerja di sebuah pabrik di Cikarang selama sembilan bulan. “Waktu itu harus realistis. Gaji pabrik saya tabung buat beli peralatan bengkel,” ujarnya sambil tersenyum kecil, mengenang masa-masa awal perjuangannya.
Tabungannya ia kumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya pada 2018, ia memberanikan diri membuka bengkel kecil di rumahnya. Namanya ia beri Alit Garage—“alit” dalam bahasa Jawa berarti kecil.
“Saya ingin mengingatkan diri sendiri, meskipun kecil, kalau dikerjakan dengan hati, bisa jadi besar,” katanya.
Di bengkel kecil itulah motor-motor custom berkarakter lahir. Budo punya ciri khas yang tak lazim di kalangan perakit motor custom: ia memilih mesin bebek—seperti Honda Supra, Astrea, atau Yamaha—sebagai basis utama.
“Banyak yang anggap mesin bebek itu remeh karena kecil. Tapi justru di situ tantangannya, gimana caranya bikin motor kecil bisa gagah tapi tetap fungsional,” ujarnya sambil menunjuk motor hasil karyanya bergaya panjang ala Amerika.
Salah satu karya terbarunya ia beri nama “Sri Rejeki”, yang berarti pembawa rezeki. Motor ini ia buat hanya dalam waktu tiga minggu dengan modal dari pesanan seorang teman. “Kalau kelamaan malah makin bingung pilih modelnya,” katanya, tertawa kecil.
Namun bukan berarti pengerjaannya mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menemukan ban yang cocok. Ia bahkan rela mencari hingga ke luar negeri.
“Ban ini saya beli dari Thailand, ukuran ring depan 17, belakang 15. Butuh waktu satu setengah bulan buat nyari dan nunggu. Karena di motor custom, roda itu bagian paling penting,” jelasnya.
Ban mobil bertuliskan Hosier itu kini menjadi daya tarik utama motor bergaya American chopper sepanjang 2,5 meter itu. Di bawah rangka besi, tiga mesin motor Grand dan Astrea disusun menyerong—sebuah konfigurasi unik yang jadi identitas karya Budo. “Saya pilih tiga mesin karena tahun ini kali ketiga ikut custom fest,” ungkapnya.
Ketekunan dan ketelitian Budo membuahkan hasil. Motor garapannya yang berkolaborasi dengan Hongky Racing Decision berhasil meraih penghargaan “Bangkok Hot Rod’s Pick” di ajang Kustomfest awal Oktober lalu—sebuah pengakuan bergengsi di dunia motor custom Asia.
Kini, enam tahun sejak Alit Garage berdiri, nama Budo mulai diperhitungkan di kalangan komunitas motor custom Solo dan sekitarnya. Pesanan datang dari berbagai daerah, dan beberapa hasil karyanya bahkan diulas di akun media sosial otomotif ternama.
Namun bagi Budo, semua pencapaian itu bukan tujuan akhir. “Yang penting bukan soal terkenal atau nggaknya. Tapi karakter di setiap motor itu harus punya jiwa,” ucapnya lirih sambil menepuk tangki motor buatannya.
Dari bengkel kecil di gang sepi, Budo membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari ruang sederhana—asal disiram dengan tekad dan cinta yang tak pernah padam. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno