Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Crashlab, Ruang Aman untuk Marah tanpa Dianggap Salah, Bebas Berteriak dan Pecahkan Barang

Antonius Christian • Senin, 10 November 2025 | 02:15 WIB
Pengunjung Crashlab bebas memukul barang hingga pecah. (Arief Budiman/Radar Solo)
Pengunjung Crashlab bebas memukul barang hingga pecah. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Teriakan keras terdengar dari balik sebuah ruangan kecil di Dusun Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Sesekali, suara kaca pecah bertubi-tubi menyusulnya. Dari luar, bangunan itu tampak biasa saja. Tapi siapa sangka, di balik dinding berperedam suara itu, sejumlah orang tengah meluapkan emosi mereka dengan cara tak biasa: menghancurkan barang-barang bekas.

Tempat itu bernama Crashlab, wahana baru yang belakangan ramai diperbincangkan anak muda Solo Raya. Bukan sekadar arena bermain, Crashlab menjadi semacam ruang katarsis—ruang aman bagi mereka yang penat, patah hati, stres, atau sekadar ingin mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.

“Crashlab Solo itu tempat untuk meluapkan emosi, baik positif maupun negatif. Lagi sedih, jengkel, bahkan terlalu senang pun boleh. Di sini bebas mengekspresikan diri,” tutur Olivia Stella, manajer Crashlab Solo, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di lokasi.

Olivia menceritakan, ide mendirikan Crashlab lahir dari fenomena sosial yang sangat “Jawa”. Banyak orang menahan diri demi menjaga sopan santun. Kalau marah, dianggap tidak pantas. Kalau kecewa, disuruh sabar. Namun di balik tutur halus itu, banyak pula yang memendam stres dan kelelahan batin.

“Kita ini masyarakat yang terbiasa menahan. Padahal manusia perlu ruang untuk meluapkan perasaan. Kalau tidak, ya akhirnya menumpuk dan bikin stres,” jelasnya.

Crashlab pun hadir sebagai jalan keluar. Bukan untuk mengajarkan kekerasan, tapi untuk menyalurkan emosi secara aman. Ruang seluas 4x4 meter itu dipasangi peredam suara, sehingga teriakan dan suara benda pecah tak terdengar keluar.

“Kami ingin menghadirkan tempat yang aman secara fisik dan mental. Di luar sana, marah dianggap tabu. Tapi di sini, marah justru diperbolehkan,” ujarnya sambil tersenyum.

Konsepnya sederhana. Pengunjung memilih paket permainan, mulai dari Rp 30 ribu untuk enam botol kaca hingga Rp 200 ribu untuk menghancurkan televisi bekas. Barang yang disediakan bervariasi, dari printer, CPU, hingga rice cooker.

Sebelum masuk, pengunjung wajib memakai alat pelindung diri (APD)—helm, kacamata, sarung tangan, sepatu boots, dan baju tebal. Semua demi keselamatan.

“Kita tetap mengutamakan safety, karena ini bukan cuma main-main. Orang benar-benar mengeluarkan tenaga dan emosi,” kata Olivia.

Dalam waktu 30 menit hingga satu jam, seseorang bisa memecahkan belasan benda sambil berteriak, menangis, bahkan tertawa. Begitu keluar, raut mereka berubah—lebih ringan, lebih lega.

“Banyak yang nangis di dalam, ada juga yang teriak sepuasnya. Tapi ketika keluar, mereka senyum. Katanya, rasanya plong, kayak beban di dada ikut pecah bareng kaca,” ujarnya.

Crashlab juga menyediakan papan unek-unek, tempat pengunjung menuliskan hal-hal yang membuat mereka tertekan. Bahkan ada yang menempel foto seseorang yang bikin kesal, lalu menghancurkan benda di bawahnya sebagai simbol pelampiasan.

“Ada yang jengkel sama mantan, terus tempel fotonya di printer bekas dan dihancurkan. Ada juga yang stres sama kerjaan, terus nulis ‘deadline’ di barangnya,” kata Olivia sambil tertawa.

Namun ia menegaskan, Crashlab bukan tempat untuk menumbuhkan kebencian. “Justru sebaliknya. Setelah luapan emosi keluar, harapannya hati mereka jadi tenang. Ini tentang penyembuhan, bukan pelampiasan dendam,” jelasnya.

Sejak dibuka sebulan lalu, antusiasme masyarakat tinggi. Dalam sehari, Olivia bisa melayani lima hingga enam sesi permainan. Sebagian besar pengunjung adalah mahasiswa dan pekerja kantoran—mereka yang datang dengan wajah kusut, tapi pulang sambil tertawa.

“Itu momen paling berkesan. Artinya, Crashlab berhasil. Mereka bisa mengekspresikan emosi tanpa menyakiti siapa pun,” tuturnya.

Meski disebut wahana bermain, Crashlab sebenarnya membawa efek terapi psikologis. Konsep seperti ini populer di luar negeri dengan nama rage room atau smash room.

“Kami ingin menghadirkan versi lokalnya di Solo. Di sini bukan cuma buang emosi, tapi juga refleksi. Setelah amarah keluar, kami ajak mereka menulis perasaan. Ada proses penyembuhan di situ,” jelas Olivia.

Di tengah masyarakat yang terbiasa menahan rasa, Crashlab hadir seperti katup pelepas tekanan. Sebab kadang, untuk menemukan ketenangan, seseorang hanya perlu memecahkan sesuatu—lalu menyadari, bahwa setelah semuanya hancur, hatinya justru jadi utuh kembali. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#wahana #sopan santun #fenomena sosial #Crashlab