RADARSOLO.COM - Takdir sering kali menguji keteguhan hati manusia di saat-saat paling tak terduga. Itulah yang dirasakan oleh tim kebudayaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat melawat ke Jepang belum lama ini. Di saat kaki mereka harus melangkah gagah di atas panggung internasional, hati mereka tertinggal di Solo, berselimut kain putih atas mangkatnya sang raja Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi.
Pertemuan tak sengaja Jawa Pos Radar Solo dengan Ika Prasetyaningsih baru-baru ini di lingkungan keraton membuka tabir cerita haru tersebut. Perempuan bergelar Raden Nganten (RNgt) Puspawinahyu itu tampil anggun dengan busana adat yang menyembunyikan kehamilan empat bulannya. Namun, siapa sangka, sebulan lalu ia adalah ujung tombak yang memimpin napas kebudayaan Jawa di Nerima Culture Center, Tokyo.
Kabar duka itu datang bagai petir di siang bolong pada 2 November 2025. Raja, pimpinan adat tertinggi keraton, berpulang. Padahal, keesokan harinya, tim yang terdiri dari para bedhaya, sinden, dan pengrawit sudah harus terbang ke Negeri Sakura.
Ketua tim kebudayaan, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng), mengambil keputusan berat. Sebagai adik kandung mendiang raja, ia harus tetap di Solo untuk memimpin prosesi pemakaman. Namun, misi kebudayaan ke Jepang tak boleh batal.
"Gusti Wandansari meminta saya menggantikan posisi beliau untuk membawakan tarian tunggal Beksan Mataya. Itu mandat sehari sebelum berangkat. Walau kaget, saya harus siap," kenang Ika, yang juga menjabat sebagai Lurah Bedhaya.
Tanpa waktu untuk latihan fisik, Ika hanya berbekal rekaman musik dan catatan urutan gerak yang ditulis tangan oleh Gusti Moeng. Di dalam pesawat menuju Tokyo, ia memejamkan mata, memutar memori, membayangkan setiap jengkal gerakan Mataya—sebuah mahakarya yang mewujudkan esensi tangga nada Slendro kunci songo.
Di Tokyo, Ika tak hanya menjadi koordinator bagi sembilan anggota tim, tetapi juga menjadi pengayom bagi para penari muda yang merupakan cucu PB XII dan keponakan PB XIII. Meski suasana kebatinan mereka rintih dirundung duka, profesionalisme tetap tegak berdiri.
Misi tersebut terasa semakin sakral saat mereka membawakan Beksan Srimpi Diyah Catur. Tarian ini bukan sekadar gerak estetis, melainkan sebuah doa dan harapan agar keluarga besar keraton tetap rukun menjaga warisan leluhur.
"Menariknya, penari yang dipilih semuanya keluarga dalem. Ada makna dalam dan doa yang dipanjatkan setiap kali tarian ini dipentaskan di Jepang," beber perempuan kelahiran 1984 ini.
Luar biasanya, Ika baru menyadari belakangan bahwa saat ia meliuk membawakan tarian tunggal yang menguras tenaga di Tokyo, ia tengah mbobot atau mengandung muda (tiga bulan). Kelelahan fisik tertutup oleh rasa tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik Keraton Surakarta di kancah dunia.
Apresiasi tinggi dari para seniman Jepang dan penonton di Tokyo University menjadi penawar letih yang sepadan. Namun, tugas belum benar-benar selesai sebelum mereka "melapor" pada Sang Raja.
Setibanya di Solo pada 15 November, tim tidak langsung beristirahat. Bersama Gusti Moeng, mereka segera bertolak menuju kompleks makam raja-raja di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta. Di depan pusara yang masih basah, Ika dan timnya bersimpuh.
"Sowan ke makam PB XIII adalah hal pertama yang kami lakukan. Di sana rasa haru pecah. Ada rasa bangga karena sukses mengenalkan tradisi keraton di kancah internasional, tapi juga duka mendalam karena kami tak sempat mengantar kepergian beliau saat pemakaman," tutup Ika dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan ke Jepang itu menjadi bukti nyata bahwa abdi dalem Keraton Solo tak hanya menari dengan otot dan napas, tetapi dengan seluruh jiwa yang melampaui kedukaan personal demi luhurnya marwah kebudayaan bangsa. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno