RADARSOLO.COM - Di bawah temaram lampu Kebon Seni Timasan, Sabtu (24/1) malam, kenangan akan sosok Ki Anom Suroto Lebdonagoro terasa begitu hidup. Dalam peringatan 100 hari berpulangnya sang dalang kondang, sebuah janji besar diikrarkan.
Kota Solo, yang selama ini menjadi panggung besar bagi pengabdian seninya, bersiap memberikan penghormatan tertinggi dengan mengabadikan nama sang maestro sebagai identitas kota.
Wali Kota Solo Respati Ardi, hadir membawa kabar yang menggetarkan hati para pegiat seni tradisi. Ia menegaskan bahwa nama Ki Anom Suroto tidak hanya akan tersimpan dalam ingatan kolektif, tetapi akan dipatrikan secara fisik sebagai nama ruas jalan di Kota Bengawan.
Bagi Respati, kiprah Ki Anom yang tutup usia pada Oktober 2025 lalu di umur 77 tahun, bukan sekadar soal seni pertunjukan. Sang maestro dianggap telah menggerakkan ekonomi masyarakat melalui kebudayaan yang ia semarakkan sepanjang kariernya.
“Sebagai bentuk penghormatan, saya akan memberikan nama jalan di Kota Solo sebagai nama beliau,” ucap Respati mantap.
Meski ruas jalan mana yang akan dipilih masih dalam tahap kajian, ia menjanjikan lokasi yang "spesial". Ruas jalan tersebut nantinya akan menjadi bukti kehadiran abadi sosok yang telah mewakafkan hidupnya demi kelestarian budaya Jawa.
Namun, Solo tidak hanya ingin mengenang Ki Anom melalui papan jalan. Respati juga berencana mematenkan lagu legendaris Solo Berseri sebagai jingle resmi untuk branding Kota Solo. Lagu yang dirilis pada 1991 itu merupakan buah kecerdasan Ki Anom dalam menangkap semangat zaman saat Wali Kota Hartomo mencetuskan slogan Bersih, Sehat, Rapi, Indah.
“Harapannya Solo Berseri tidak hanya terbaca, tetapi juga terdengar. Menjadi identitas musikal Kota SOLO,” ungkap Respati.
Rencananya, lagu ini akan digarap ulang dengan melibatkan musisi lokal dan nasional. Aransemen baru ini akan memadukan nuansa tradisional dengan sentuhan modern, menjadikannya wajah baru bagi pariwisata Solo yang relevan di telinga generasi masa kini.
Respati bahkan secara khusus meminta restu kepada keluarga besar agar karya agung tersebut bisa terus diputar di setiap acara resmi maupun informal pemerintah kota.
Kebijakan ini disambut hangat oleh komunitas seni. Pesinden ternama, Endah Laras, yang juga merupakan keponakan almarhum, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Bagi Endah, langkah ini adalah bentuk kepedulian nyata pemerintah terhadap martabat para pelaku seni.
“Saya mewakili keluarga Ki Anom sangat berterima kasih. Semoga Jalan Ki Anom Suroto segera terealisasi. Kami akan menunggu dengan senang,” ujar Endah dengan binar mata bahagia.
Dengan mengabadikan nama dan karyanya, Solo sedang memastikan bahwa meskipun layar pertunjukan telah ditutup, nama Ki Anom Suroto tetap "mendalang" di hati warga, mengikat memori, dan menyatukan semangat kota dalam harmoni yang abadi. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno