RADARSOLO.COM - Membesarkan anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah perjalanan yang mudah. Ia adalah lari maraton tanpa garis finis yang menuntut ketabahan luar biasa. Di Kota Solo, beban berat itu terasa lebih ringan sejak hadirnya Forum Buah Hati Berseri. Lebih dari sekadar komunitas, wadah ini telah menjadi "rumah aman" bagi 125 lebih orang tua untuk saling menguatkan, berbagi informasi, dan menyambung lidah kepada pemangku kebijakan.
Delapan tahun lalu, benih forum ini ditanam oleh Sri Sudarti. Sosok perempuan tangguh yang akrab disapa Mbak Darti ini memulai langkahnya dari seorang penyuluh kesehatan di Kelurahan Serengan hingga kini mengabdi sebagai ASN di Pemkot Solo. Sebagai penyandang disabilitas fisik, Darti paham betul bahwa kesejahteraan kaum difabel hanya bisa diraih lewat advokasi yang tak putus.
Kisah Forum Buah Hati Berseri bermula saat Mbak Darti masih menjabat sebagai Ketua Tim Advokasi Difabel (TAD) Kota Solo. Kala itu, ada bantuan kursi roda dari Jepang untuk anak usia 5-8 tahun. Saat mencari sasaran yang tepat, Darti menyadari bahwa para orang tua ABK butuh lebih dari sekadar alat bantu fisik; mereka butuh komunitas.
"Saya bentuk delapan tahun lalu. Saat itu saya mencari anak-anak yang paling membutuhkan kursi roda. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya putuskan membentuk wadah agar pendampingan tidak hanya menyasar anaknya, tapi juga orang tuanya," kenang Mbak Darti.
Kini, anggotanya tak hanya datang dari warga ber-KTP Solo, tapi juga meluas hingga kabupaten sekitar. Namun, fokus utamanya tetap jelas: memastikan program kesejahteraan dari Pemkot Solo tepat sasaran bagi warga "Kota Bersinar".
Tantangan terbesar yang dihadapi forum ini adalah akses kesehatan, terutama terapi rutin yang menjadi "napas" bagi anak dengan Cerebral Palsy (CP) maupun Down Syndrome. Mbak Darti menyoroti sebuah realitas pahit dalam sistem jaminan kesehatan.
"Kasus seperti CP memerlukan terapi seumur hidup untuk melatih kekakuan tubuh. Sayangnya, layanan terapi BPJS Kesehatan sering kali dibatasi hanya sampai usia 8 tahun. Padahal, kebutuhan mereka itu seumur hidup," tegasnya.
Di sinilah peran strategis Forum Buah Hati Berseri muncul. Jika jalur formal pemerintah menemui jalan buntu, komunitas bergerak mencari jalur alternatif. Mereka berupaya menjembatani komunikasi agar ada program pelatihan dari para ahli langsung kepada orang tua. Tujuannya mulia: agar orang tua mampu memberikan terapi mandiri di rumah, bahkan saat anak-anak mereka sudah beranjak dewasa.
Mbak Darti menekankan bahwa orang tua ABK tidak boleh hanya terpaku pada kesedihan atau keterbatasan. Melalui forum ini, para pengurus dan koordinator gencar memberikan pelatihan kewirausahaan. Harapannya, para orang tua tetap bisa memberikan perawatan terbaik bagi buah hati mereka tanpa harus kehilangan kemandirian ekonomi.
"Hal-hal seperti ini yang terus diperjuangkan. Kami ingin orang tua tetap berdaya. Pelatihan wirausaha diberikan agar mereka punya penghasilan sambil tetap mengasuh anak-anak spesial ini," papar Mbak Darti.
Delapan tahun berjalan, Forum Buah Hati Berseri telah membuktikan bahwa komunikasi yang solid dan kepedulian yang tulus dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Di bawah payung komunitas ini, anak-anak berkebutuhan khusus di Solo tidak lagi berjalan sendirian. Ada ratusan tangan orang tua yang saling bertautan, memastikan masa depan buah hati mereka tetap berseri. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno