RADARSOLO.COM - Bagi sebagian orang, politik adalah arena penuh tekanan, intrik, dan adrenalin yang menguras pikiran. Namun bagi Abdul Kadir Audah, adrenalin yang sesungguhnya justru ditemukan di lereng-lereng gunung, jalur berbatu, dan turunan curam yang hanya bisa ditaklukkan dengan sepeda downhill.
Di Kota Solo, wajah Abdul akrab dikenal sebagai ketua partai politik. Namun di balik seragam partainya, ia adalah seorang petarung di lintasan balap. Menjabat sebagai ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Solo, Abdul Kadir adalah atlet downhill aktif yang telah mencicipi kerasnya jalur kejuaraan nasional hingga internasional.
Dua dunia ini tampak bertolak belakang, namun bagi Abdul, keduanya menyatu dalam satu napas: disiplin, fokus, dan keberanian mengambil risiko dengan perhitungan matang. Ketertarikannya pada sepeda bermula pada 2011, periode yang hampir bersamaan dengan langkah awalnya masuk ke dunia politik.
"Awalnya hanya hobi trabas biasa di Lawu atau Jogja. Tapi kok asyik ya? Jalur sepeda itu lebih ramah lingkungan dan membuat kita lebih menyatu dengan alam serta penduduk setempat dibanding motor trail," kenang ketua DPD PKS Solo ini.
Ketertarikan itu berubah menjadi keseriusan pada disiplin downhill—balapan menuruni bukit dengan kecepatan tinggi yang menuntut nyali besar. Karena Solo tak memiliki gunung, Abdul harus rajin "berburu" jalur ke Merbabu, Klangon, hingga Nepal demi mengasah kemampuan.
Olahraga ekstrem ini bukannya tanpa luka. Sepanjang kariernya, tubuh Abdul telah menjadi saksi bisu kerasnya lintasan. "Total tulang patah enam kali, dislokasi bahu dua kali, dan lengan jatuh dua kali," tuturnya tanpa ragu.
Bagi Abdul Kadir, downhill adalah pertempuran melawan diri sendiri. Di kelas Master (usia di atas 30 tahun), kecepatan bukan lagi satu-satunya kunci. Fokus dan konsistensi menjadi pembeda antara podium atau cidera. Lintasan ekstrem seperti di Batu, Malang atau Lubuk Linggau yang berbatasan dengan jurang telah mengajarkannya betapa mahalnya sebuah standar keselamatan.
"Dulu umur 30-an asal turun saja, safety belum maksimal. Seiring waktu, saya belajar teknik belok, pengereman, hingga setting suspensi yang presisi," jelasnya.
Tak ingin hebat sendirian, Abdul Kadir mendirikan klub Mad Brother. Klub ini menjadi wadah pembinaan bagi atlet asal Solo dan Salatiga, mulai dari dukungan jersey, logistik, hingga akomodasi lomba. Baginya, komunitas ini adalah persaudaraan lintas daerah—dari Sulawesi hingga Jawa.
Sebagai ketua ISSI Solo, ia kini memiliki misi besar yaitu mencari bibit unggul usia 12-16 tahun. Ia bermimpi Solo bisa melahirkan atlet yang menembus Porda, PON, bahkan Olimpiade.
"Solo punya potensi besar, ada velodrome dan akses ke pegunungan. Tantangannya adalah akses fasilitas dan minimnya kompetisi lokal," ujarnya.
Bagi Abdul Kadir, sepeda downhill adalah metafora sempurna bagi kehidupan dan politik. Di lintasan balap, kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Begitu pula di panggung publik.
"Turunan ekstrem mengajarkan kontrol. Sama seperti politik, kita harus tahu kapan harus 'ngebut' dan kapan harus 'ngerem'," katanya berfilosofi.
Di usianya yang tak lagi muda, Abdul Kadir tetap konsisten. Di satu hari, ia mungkin sedang beradu argumen di meja politik, namun di hari lain, ia pasti sedang memacu sepedanya, membelah hutan, dan melompati rintangan batu—membuktikan bahwa hidup adalah tentang menjaga keseimbangan di jalur yang paling ekstrem sekalipun. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno