RUDI HARTONO, Karanganyar, Radar Solo
Pria 27 tahun ini kehilangan dua orang tuanya sejak 2011. Karena itu, dia memilih tidak pulang ke rumah setelah rampung menjalani perawatan di isoter BLK Bangsri, Karangpandan.
Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan makan siang lima pasien Covid-19 di BLK Bangsri, Jumat (13/8), Danang mengaku menjadi relawan karena dorongan ingin membantu perawatan pasien. Dia merasakan secara langsung bagaimana para pasien tersebut membutuhkan perhatian lebih.
Danang sempat diisolasi di RSUD Dr Moewardi selama sepuluh hari kemudian dipindah ke BLK Bangsri. “Karena sudah tidak bergejala, saya dipindahkan ke BLK Bangsri. Masuk 16 Juli dan dinyatakan sembuh pada 21. Tapi saya tidak mau pulang, karena ingin memberikan semangat kepada teman–teman yang saat ini menjalani isolasi di sini (BLK-red),” bebernya.
Kala itu, Danang menjadi pasien pertama isolasi terpusat perdana yang menempati BLK Bangsri. Jelang satu hari, menyusul beberapa warga lainnya.
“Jadi orang yang isolasi itu butuh teman untuk curhat. Dan saya melakukan itu. Yang mereka butuhkan adalah ketenangan dan kesenangan saat menjalani isolasi,” kata dia.
Ketika dirawat di lokasi isoter BLK Bangsri, selain semua kebutuhan tercukupi, pasien bisa menikmati pemandangan hamparan sawah.
“Pasien itu butuh hiburan, butuh kesegaran. Banyak yang curhat ke saya kalau mereka banyak yang dikucilkan,” ungkap Danang.
Saat ini, terdapat 17 pasien yang menjalani isolasi terpusat. Rinciannya, lima orang di BLK Bangsri dan 12 lainnya di Gedung Wanita. “Ada penambahan dua orang dari Tasikmadu,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar Bagoes Darmadi. (*/wa) Editor : Damianus Bram