Suasana malam yang dingin khas daerah pegunungan bertambah syahdu. Seakan menyatu dengan suara Sunarto Siswo Sunarto, sesepuh dusun setempat yang membacakan kidung penolak bala, yakni Rumeksa Ing Wengi dilanjutkan kidung Suci.
“Monggo poro wargo (silakan para warga) menyempurnakan duduknya. Fokus berdoa memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah,” ajak Sunarto diikuti gerakan menundukkan kepala seluruh warga yang hadir di rumah bergaya Jawa tersebut.
Jelang akhir pembacaan kidung, Sunarto berhenti berucap. Seketika suasana hening. Suara serangga tonggeret atau dikenal dengan sebutan garengpung pun mendominasi. Hingga tiba saatnya pria 72 tahun itu mengucapkan satuhu sebagai tanda berakhirnya doa bersama.
https://youtu.be/Ae7yq3V1q8E
Jarum jam di dinding bercat kuning menunjukkan pukul 22.30. Ritual malam Suro baru berjalan separonya. Masih ada beberapa tahapan agar tradisi tersebut sempurna. Sunarto yang malam itu mengenakan beskap warna hitam, segera bangkit dari duduknya. Berjalan menuju halaman rumah pak RW. Di situ sudah berdiri tujuh pria, satu di antaranya Supadi, ketua RT 01. Mereka menelangkupkan tangannya. Seperti menunggu arahan sesepuh dusun.
Dengan suara samar-samar, Sunarto memberikan wejangan. Tak lama kemudian, tujuh pria tersebut membentuk barisan dengan posisi terdepan ditempati Supadi. Dua tangannya memegang piring berisi nasi kuning, sedangkan beberapa orang di belakangnya membawa bungkusan daun pisang berisi sesaji.
Mereka lalu berjalan cukup cepat meninggalkan halaman rumah pak RW. Membelah gelapnya malam, menyusuri jalan setapak yang cukup menanjak. Tiba di halaman rumah berkelir biru, tujuh pria ini berhenti. Melepas seluruh baju dan celana. Termasuk sandal.
Dengan kondisi telanjang bulat, mereka kembali membentuk barisan. Formasinya tidak berubah. Supadi tetap terdepan. Perjalanan berkeliling kampung berlanjut. Bayang-bayang tujuh pria itu segera ditelan gelapnya malam.
Rute yang ditempuh kali ini bertambah berat. Bukan hanya jalan setapak menanjak. Tapi juga semak-semak, pematang sawah, menyeberangi sungai, hingga naik turun jurang.
“Ditunggu di lokasi peletakkan sesaji saja. Nggak usah ikut ke jurang-jurang,” ajak Kasidi Hadi Wiyono, ketua RT 2 yang diminta Sunarto mendampingi tim Jawa Pos Radar Solo. “Oh...begitu. Nggih pak siap. Kulo nderek mawon (Baik pak. Saya ikut saja),” ujar Bayu Perdana Putra yang bertugas mengambil rekaman visual.
Tak dipungkiri, ajakan Hadi, sapaan akrab Kasidi Hadi Wiyono cukup membuat lega Jawa Pos Radar Solo. Mengingat, baru menyusuri jalan setapak yang menanjak, sudah ngos-ngosan. Apalagi harus turun naik jurang.
Tim Jawa Pos Radar Solo bersama Hadi bergegas masuk mobil. Menuju lokasi peletakkan sesaji. Belum ada satu menit parkir, rombongan peserta lelaku keliling kampung sudah tiba di lokasi. Nyaris saja kecolongan. “Wah mlakune cepet banget (jalannya cepat sekali),” seloroh Andi Aris, tim Jawa Pos Radar Solo lainnya sembari memutar stir kemudi.
Tantangan peserta ritual kali ini tak kalah beratnya. Soal kekuatan fisik, sudah tidak diragukan lagi. Jurang dan sungai diterabas dengan mudah. Sekarang giliran nyali yang diuji. Mereka harus menyeberangi Jalan Raya Solo-Tawangmangu dalam kondisi telanjang bulat. Untuk kembali meletakkan sesaji yang tersisa.
“Waduh iki mengko nek enek mobil utowo motor lewat terus piye. (Ini nanti kalau ada mobil atau motor yang lewat bagaimana,” ujar Tri Wahyu Cahyono, anggota tim Jawa Pos Radar Solo.
Kekhawatiran itu terbukti. Setelah menyeberang jalan, dari arah timur dan barat berseliweran roda dua dan roda empat. Otomatis, walaupun secara sekilas, lekuk tubuh para peserta lelaku terlihat. Untungnya, kondisi tersebut tidak memengaruhi jalannya ritual. Juga tak ada pengendara yang menghentikan laju kendaraannya karena penasaran.
Rampung meletakkan sesaji di tepi jalan raya, peserta lelaku masuk ke semak-semak. Menuju titik berikutnya. “Pripun, taksih pengen ngetutke malih (bagaimana, masih ingin mengikuti peserta lelaku lagi),” tanya Hadi.
Tawaran tersebut langsung diiyakan tim Jawa Pos Radar Solo yang kemudian menunggu peserta lelaku di tepi dusun. Sekitar 30 menanti, rombongan lelaku keliling dusun tanpa busana terlihat. Kamera segera dinyalakan. Tentu saja, objek visual yang direkam bagian dada ke atas.
Dari lahan persawahan itu, peserta lelaku memasuki permukiman dengan kondisi lampu teras rumah dan penerangan jalan umum menyala. Pengamatan Jawa Pos Radar Solo, tak satupun warga terlihat di teras rumah. Entah kalau mengintip dari balik jendela.
Satu jam berlalu. Tugas peserta lelaku mengelilingi dusun dengan jarak sekitar 2 kilometer rampung. Mereka lalu mandi, berpakaian, dan kembali ke rumah ketua RW. Kopi hitam panas, singkong, dan kacang rebus segera disantap.
Kenapa Harus tanpa Busana?
Masyarakat yang hidup di zaman modern seperti sekarang, apalagi kalangan milenial, mungkin bertanya-tanya, kok ya masih ada ritual seperti itu. Telanjang bulat keliling dusun. Kan bisa cuma bertelanjang dada, bagian perut ke bawah pakai sarung atau celana pendek.
Sunarto Siswo Sunarto, sesepuh Dusun Popongan punya jawaban panjang kali lebar untuk pertanyaan itu. Ritual tersebut sudah turun temurun. “Sekarang umur saya 72 tahun. Ritual ini sudah ada sejak saya kecil. Dari mbah-mbah canggah. Tetap diadakan setiap Sura. Karena tahun ini bersamaan dengan penerapan PPKM, maka prosesi ritual tetap menjaga protokol kesehatan,” katanya.
Ditegaskan Sunarto, sekarang menjadi tugas kita semua untuk melestarikan kearifan lokal. Di antaranya menggelar tirakatan dan ritual keliling dusun. Tujuannya, meminta kepada Allah SWT keselamatan semua warga dengan sarana lelaku. “Lelakunya yang itu tadi, berkeliling dusun,” ujar dia.
Zaman dahulu, imbuh Sunarto, peserta ritual keliling dusun telanjang bulat tidak diganti. Orangnya itu-itu saja. Tapi kemudian berdasarkan pembahasan tokoh masyarakat, ketika peserta ritual tidak diganti, dikhawatirkan menimbulkan ketidakadilan.
Akhirnya diputuskan, peserta ritual dilakukan secara bergantian agar semua warga dusun setempat merasakan dan tahu susah payahnya naik turun jurang, menginjak duri, dan tantangan-tantangan lainnya.
Penunjukan secara bergiliran peserta lelaku, juga sebagai upaya meregenerasi dan menguri-uri tradisi. “Pelaku ritual bergilir, ada yang muda dan tua. Jadi berlanjut turun temurun. Tidak perlu membentuk tim khusus. Kalau pas hari H sakit atau berhalagan, ya diganti warga lainnya,” tutur Sunarto.
Terkait kenapa harus tanpa busana, kakek murah senyum ini menuturkan, kamawurung atau lelembut itu takut dengan orang telanjang. “Inikan (ritual) tolak bala. Tolak semua keruwetan. Contohnya dalam wayang, namanya betara kala ketika bertemu lawan dalam keadaan telanjang, pasti kabur,” ungkap dia.
Sebelum menjalani ritual keliling dusun, peserta lelaku didoakan. Selama perjalanan, mereka tidak boleh berbicara. Sesaji dan dupa yang dibawa diletakkan di empat penjuru dusun sebagai upaya membuang sukerta (bala).
Dengan begitu, diharapkan seluruh urusan dan rezeki warga dusun setempat lancar. Yang bekerja sebagai petani, tanamannya bisa subur. Yang berdagang laris dagangannya. Yang merantau bisa sukses, pulang bawa hasil, dijauhkan dari segala masalah. Yang sekolah diparingi pintar. Yang belum dapat jodoh, segera dapat pujaan hati, dan yang sakit cepat sembuh.
“Habis ritual tidak ada yang masuk angin. Hujan pun tetap dilaksanakan. Alhmadulillah, namanya orang Jawa itu banyak prihatin dengan cara lelaku. Jadi punya tekad,” ucap Sunarto.
Apakah ada pihak yang keberatan dengan pelaksanaan ritual tersebut karena harus telanjang? Sunarto menuturkan tidak ada cibiran, teguran, celaan, dan sebagainya. Tradisi tersebut tidak hanya di Dusun Popongan, tapi juga desa-desa lainnya. Untuk anggaran kegiatan, dipenuhi secara swadaya warga setempat. Mereka berhadap ada perhatian dari pihak desa agar tradisi lokal lebih terjaga. (wa)
Isi dan Makna Sesaji Ritual
Jenang Merah Putih
- Menunjukkan asal usul manusia. Bapak diwujudkan dengan jenang putih, ibu digambarkan dengan jenang merah.
Daun Suruh
- Sebagai perlambang bahwa orang hidup harus selalu ngangsu kaweruh alias terus belajar
Tembakau
- Tembakau dalam bahasa Jawa disebut soto. Diartikan bahwa sak nyotone wong Jowo nindake leku.
Gereh Petek (ikan Asin)
- Merupakan hasil laut yang bisa dinikmati penduduk.
Uang Logam
- Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari pasti membutuhkan uang
Dupa
- Sarana berdoa dan meminta perlindungan kepada Tuhan.
Takir (wadah)
- Merupakan tempat untuk menyatukan beragam elemen yang berbeda sehingga dapat bersinergi.
Peserta Lelaku Tujuh Orang
- Tujuh, dalam bahasa Jawa disebut pitu dan diartikan sebagai pitulungan. Angka tujuh juga diibaratkan sebagai banyaknya hari dalam sepekan.
SUMBER: WAWANCARA Editor : Damianus Bram