26.1 C
Surakarta
Thursday, 2 February 2023

Kenali Gejala Radang Paru pada Anak, Butuh Penanganan Cepat dan Tepat

RADARSOLO.ID – Kebiasaan orang tua setelah beraktivitas tidak segera membersihkan diri dan langsung berinteraksi dengan buah hati, bisa berdampak pada kesehatan anak, yakni ancaman terkena pneumonia atau radang paru semakin besar.

Koordinator Program Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Puskesmas Karangdowo Andreastuti Susilo mengatakan, pneumonia disebabkan oleh infeksi seperti bakteri, virus maupun jamur. Hal ini berdampak kepada peradangan paru-paru anak.

“Penyakit ini menyerang anak usia 0-5 tahun. Tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada usia dewasa. Tapi kasus pada usia dewasa masih jarang terjadi,” terang perempuan yang akrab disapa Etik kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (4/11).

Gejala pneumonia ditandai batuk berdahak disertai demam hingga menggigil. Ditambah mual, muntah, nasfsu makan menurun, hingga sesak nafas.

Ketika mengalami tanda-tanda klinis tersebut, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Dari hasil pemeriksaan akan diketahui gejala pneumonia tergolong parah atau rendah.

Apabila gejala pneumonia masih rendah, maka akan diberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri pada anak. Tapi ketika sudah berat, harus langsung dirujuk ke rumah sakit.

“Prinsip dikatakan pneumonia itu napas cepat. Pneumonia bisa bersamaan dengan kasus paru yang lain, misalnya tuberculosis paru. Kalau pemeriksaaan dilakukan di rumah sakit, akan lebih lengkap. Jadi bisa ditemukan kasus pneumonia atau tidak,” ucapnya.

Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, tercatat 926 kasus pneumonia pada anak. Empat di antaranya meninggal dunia. Berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan kasus radang paru, khususnya di wilayah Kecamatan Karangdowo. Salah satunya melakukan promosi kesehatan dengan sasaran warga desa, sekolah, hingga pendidikan anak usia dini (PAUD).

Disamping itu, bisa dilakukan dengan melaksanakan imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PVC). Ditambah untuk tetap menjaga kebersihan diri dimulai dari rajin cuci tangan.

Kemudian menghindari menyentuh hidung dan mulut ketika tangan kotor. Lalu menjaga kontak apabila terdapat anggota keluarga yang sakit. “Bayi yang kurang dari dua tahun tetap diberikan ASI untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Efeknya ke depan tidak gampang terserang penyakit. Orang tua juga harus diberikan penjelasan kapan harus cuci tangan. Misalnya ketika mau menyuapi anak, setelah buang air besar, atau memegang unggas, dan sebagainya,” beber Etik.

Ditambahkannya, pemilihan gizi bagi anak juga harus diperhatikan dikarenakan kebutuhan tumbuh kembang setiap anak berbeda. Program pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) bisa menjadi pilihan bagi para ibu. Mengingat saat ini tidak mengenal istilah empat sehat lima sempurna, melainkan empat bintang gizi seimbang.

“Nasi, sayur, lauk dan buah sehingga sekali memberikan gizi pada anak harus empat bintang. Buah tidak harus mahal. Kalau di kebun ada pisang matang, bisa dikonsumsi keluarga,” ucapnya.

Terkait pencegahan terhadap pneumonia, bisa dilakukan dengan pemberian gizi seimbang. Ditambah pola hidup bersih dan sehat (PHBS) karena sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. (mg13/ren/wa)

RADARSOLO.ID – Kebiasaan orang tua setelah beraktivitas tidak segera membersihkan diri dan langsung berinteraksi dengan buah hati, bisa berdampak pada kesehatan anak, yakni ancaman terkena pneumonia atau radang paru semakin besar.

Koordinator Program Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Puskesmas Karangdowo Andreastuti Susilo mengatakan, pneumonia disebabkan oleh infeksi seperti bakteri, virus maupun jamur. Hal ini berdampak kepada peradangan paru-paru anak.

“Penyakit ini menyerang anak usia 0-5 tahun. Tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada usia dewasa. Tapi kasus pada usia dewasa masih jarang terjadi,” terang perempuan yang akrab disapa Etik kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (4/11).

Gejala pneumonia ditandai batuk berdahak disertai demam hingga menggigil. Ditambah mual, muntah, nasfsu makan menurun, hingga sesak nafas.

Ketika mengalami tanda-tanda klinis tersebut, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Dari hasil pemeriksaan akan diketahui gejala pneumonia tergolong parah atau rendah.

Apabila gejala pneumonia masih rendah, maka akan diberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri pada anak. Tapi ketika sudah berat, harus langsung dirujuk ke rumah sakit.

“Prinsip dikatakan pneumonia itu napas cepat. Pneumonia bisa bersamaan dengan kasus paru yang lain, misalnya tuberculosis paru. Kalau pemeriksaaan dilakukan di rumah sakit, akan lebih lengkap. Jadi bisa ditemukan kasus pneumonia atau tidak,” ucapnya.

Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, tercatat 926 kasus pneumonia pada anak. Empat di antaranya meninggal dunia. Berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan kasus radang paru, khususnya di wilayah Kecamatan Karangdowo. Salah satunya melakukan promosi kesehatan dengan sasaran warga desa, sekolah, hingga pendidikan anak usia dini (PAUD).

Disamping itu, bisa dilakukan dengan melaksanakan imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PVC). Ditambah untuk tetap menjaga kebersihan diri dimulai dari rajin cuci tangan.

Kemudian menghindari menyentuh hidung dan mulut ketika tangan kotor. Lalu menjaga kontak apabila terdapat anggota keluarga yang sakit. “Bayi yang kurang dari dua tahun tetap diberikan ASI untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Efeknya ke depan tidak gampang terserang penyakit. Orang tua juga harus diberikan penjelasan kapan harus cuci tangan. Misalnya ketika mau menyuapi anak, setelah buang air besar, atau memegang unggas, dan sebagainya,” beber Etik.

Ditambahkannya, pemilihan gizi bagi anak juga harus diperhatikan dikarenakan kebutuhan tumbuh kembang setiap anak berbeda. Program pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) bisa menjadi pilihan bagi para ibu. Mengingat saat ini tidak mengenal istilah empat sehat lima sempurna, melainkan empat bintang gizi seimbang.

“Nasi, sayur, lauk dan buah sehingga sekali memberikan gizi pada anak harus empat bintang. Buah tidak harus mahal. Kalau di kebun ada pisang matang, bisa dikonsumsi keluarga,” ucapnya.

Terkait pencegahan terhadap pneumonia, bisa dilakukan dengan pemberian gizi seimbang. Ditambah pola hidup bersih dan sehat (PHBS) karena sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. (mg13/ren/wa)

Populer

Berita Terbaru

spot_img