RADARSOLO.COM - Kanker merupakan penyakit yang membahayakan, terutama jika luput dari deteksi dini. Dari payudara hingga paru-paru, lima jenis kanker ini tercatat sebagai yang sering ditemui, dengan perempuan menjadi kelompok paling rawan.
Gambaran tersebut diungkapkan Spesialis Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Indriati Solo Baru dr. Patricia Marina.
Menurutnya, data global 2022 tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan kasus kanker yang terjadi di Indonesia.
Pada perempuan, kanker payudara menempati urutan pertama dengan kasus terbanyak. Disusul oleh kanker serviks, kanker ovarium, hingga kanker kolorektal atau usus. Lalu kanker paru-paru menduduki urutan kelima.
Sedangkan pada laki-laki, kanker paru-paru menjadi kasus terbanyak teratas. Dibuntuti oleh kanker kolorektal atau usus, kanker hati, dan kanker prostat.
"Kalau digabung antara laki-laki dan perempuan, kanker payudara masih menjadi yang paling banyak. Namun kanker paru-paru juga menempati posisi atas karena menjadi nomor satu pada laki-laki," papar dr. Icha -sapaan akrabnya- saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumah sakit setempat.
"Memang wanita itu perlu lebih aware dan hati-hati. Harus lebih memperhatikan dirinya sendiri karena kita itu lebih rentang terhadap penyakit, terutama kanker," lanjutnya.
Faktor Pemicu
Bukan tanpa 'gara-gara', kanker berpotensi datang dari berbagai faktor. dr. Icha menyebutkan faktor pemicunya pun tidak berdiri sendiri. Mulai dari genetik, gaya hidup, hingga paparan polusi udara. Semua saling berkaitan dan berkontribusi terhadap munculnya penyakit.
"Makanan itu juga bisa berpengaruh. Misalnya konsumsi makanan yang bersifat karsinogenik, seperti makanan yang dibakar hingga gosong. Itu bisa meningkatkan timbulnya penyakit kanker," sebut dr. Icha.
dr. Icha menegaskan tidak ada satu faktor tunggal yang secara spesifik menjadi penyebab kanker. Semua faktor saling memengaruhi. Proses penyakit pun berlangsung dalam waktu lama, tapi sayang sering tidak disadari.
Tak seperti luka infeksi luar yang langsung dikenali, gejala kanker kerap tidak dipahami. Berkembang secara perlahan.
Prosesnya berlangsung lama, bahkan bisa bertahun-tahun, sebelum akhirnya menimbulkan gejala.
Pentingnya Deteksi Dini
Menurut dr. Icha, deteksi dini menjadi tantangan tersulit di Indonesia. Bukan karena minimnya teknologi, melainkan pola perilaku masyarakat yang umumnya baru memeriksakan diri ke rumah sakit ketika keluhan sudah muncul.
"Masyarakat tidak memeriksakan ke dokter. Tahu-tahu datang sudah ada benjolan. Kalau ada benjolan maka sudah ada perubahan struktur atau perubahan anatomi," jelas dr. Icha.
Dalam konteks ini, kedokteran nuklir memiliki peran krusial untuk mendeteksi suatu keganasan secara dini. Jauh sebelum muncul gejala fisik, perubahan di tingkat seluler dan molekuler dapat dikenali.
"Kedokteran Nuklir bisa mendeteksi lebih awal di tingkat sel, karena kanker terjadi dimulai dari perubahan tingkat DNA, seluler, molekuler, lalu struktural," ucapnya.
Semakin dini kanker terdeteksi, semakin membantu proses penanganan penyakit kanker. Deteksi dini menjadi kunci awal keberhasilan terapi pasien kanker.
Semakin awal kanker ditemukan, semakin tepat dan ringan pula penanganan yang bisa diberikan, baik dari segi metode maupun dosis terapi.
"Jika sudah terdeteksi secara dini, dosis yang diberikan tidak akan terlalu besar. Mengingat kita sudah tahu keganasannya itu dimana. Hal ini membantu dokter untuk memberikan obat yang lebih tepat," tambahnya.
Berbeda dengan kondisi lanjut, penanganannya juga sering kali menjadi lebih kompleks karena dokter harus menentukan terlebih dahulu organ mana yang perlu ditangani.
Apakah itu tulang, kelenjar getah bening, organ lainnya, atau justru memberikan semua terapi termasuk sel yang sehatpun terkena dampak dari terapi tersebut. Sebaliknya, jika kanker terdeteksi sejak dini, terapi dapat dilakukan secara lebih spesifik dan tepat.
Deteksi Dini dengan Layanan PET Scan di RS Indriati Solo Baru
RS Indriati Solo Baru menawarkan layanan PET Scan sebagai salah satu metode yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kanker sejak dini, bahkan ketika pasien belum merasakan keluhan. Lantas, apa itu PET Scan?
dr. Icha menjelaskan PET Scan merupakan kependekan dari Positron Emission Tomography. Salah satu teknologi kedokteran nuklir yang menggunakan kamera yang menangkap sinar gamma.
Berbeda dengan CT scan atau MRI yang menampilkan gambaran anatomi, PET scan bersifat functional imaging, yakni memotret fungsi dan aktivitas metabolisme suatu organ.
"PET Scan mendeteksi ke seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jadi semua kelihatan, entah itu kelenjar getah bening, tulang atau organ-organ lain dan termasuk tumornya itu sendiri," jelas dr. Icha.
Dalam layanan ini, pasien disuntikkan zat radioaktif F-18 FDG yakni zat radioaktif analog glukosa. Sel kanker yang memiliki metabolisme tinggi akan menyerap zat ini lebih banyak. Alhasil tampak jelas pada hasil tangkapan. Sedangkan pada jaringan normal, zat tersebut akan dikeluarkan melalui urin.
"PET Scan melihat fungsional imaging. Berbeda dengan MRI dan CT Scan yang lebih melihat anatomi," tambahnya.
Bukan hanya mendeteksi, PET scan memiliki beragam fungsi. Yakni diagnostik, staging atau penentuan stadium kanker, dan restaging. "Bisa juga menilai respon terapi. Misal sudah dilakukan operasi atau kemo, PET Scan bisa mendeteksi keberhasilannya," sebut dr. Icha.
Lantas, apakah ada kriterita khusus bagi pasien yang ingin menjalani PET Scan? Jawabannya tidak. dr. Icha mengatakan semua orang dapat melakukannya. Termasuk individu sehat yang ingin melakukan deteksi dini. Pemeriksaan ini pun tidak dibatasi usia.
"Jika memang bayi tersebut diperlukan untuk PET Scan, maka bisa saja," sambung dr. Icha.
Kendati demikian, terdapat sejumlah hal yang harus dilakukan sebelum PET Scan. Pasien perlu berkonsultasi terlebih dahulu. Terutama jika baru menjalani operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Hal ini penting untuk menghindari bias hasil.
Apabila ingin melakukan pemeriksaan atau konsultasi tentang kanker atau masalah kesehatan lainnya, individu bisa menghubungi RS Indriati Solo Baru di nomor 08112665352. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy